July 6, 2009

A Note From My Father

Hi De,
Big day .....
Setiap orang harus mengalaminya cepat atau lambat
Merayakan ulang tahun sendirian
Rasanya sooooooo lonely
Tapi disini banyak orang yang mikirin kamu
Semua sayang kamu
Meski fisiknya kagak dekat
Hatinya tetap dekat kamu
Selamat berkepala dua De
May God be with you, always.
Love,
Papa

(Mo, 29.06.09 01.36 AM)




I love u , and miss u so, papa ..


June 18, 2009

Hari Esok


aku cuma butuh kamu ...

aku cuma ingin pergi berlibur sama kamu ..

aku cuma mau tidur di kasur mamah tanpa membuatnya berantakkan ..

aku harus pergi bertemu temanku hari ini, dan esok mungkin ?

aku mau menonton dulu pertandingan itu ..

aku hanya ingin secangkir kopi untuk menemaniku begadang semalaman, oh aku suka kopi !

aku harus menelpon om-om dan tante-tante ku dulu ..

aku mauuu kembali lagi ke jatinangor, hanya untuk makan terong balado di warung nasi itu

aku cuma mau ke dokter gigi, aduuh sakit sekali gigiku ini ...

aku cuma ingin menonton film di bioskop, tentu saja bersamamu ..

aku ingin naik busway ke ancol, merasakan kembali petualangan itu, masih ingat ?

aku cuma ingin main PS sampe jempolku terasa nyeri dibuatnya ..

aku cuma ingin semua ini bisa kujalani dalam 1 hari ...




aku sangat ingin hari esok tidak cepat datang, itu saja ..............................


May 3, 2009

Catatan Mimpi Liar

mimpi 1 tahun ke depan

IP semester 4 min 3,3
menghasilkan minimal 60 tulisan skala kecil maupun besar, 15% nya ditulis dalam bahasa asing
punya tabungan tetap dgn nominal diatas 3 juta
mengunjungi allianz arena & eiffel tower
berat badan turun jadi 55 kilogram
olahraga minimal 2x seminggu
membaca minimal 200 buku/novel
menjuarai satu event olahraga
shalat 5 waktu diusahakan tidak ada yang bolong2
lancar membaca al-qur'an
hafal minimal 20 surat pendek al-qur'an
punya 1 gadget dengan uang sendiri
ikut menguasai bahasa Prancis dasar
mampu menyetir lancar mobil manual & motor kopling
mengikuti seminar & training jurnalistik
mengenal minimal satu jurnalis nasional
bungee jumping minimal 1 kali


mimpi 2 tahun ke depan

memiliki IPK minimal 3,5
menyelesaikan minimal 150 tulisan skala kecil maupun besar, 35% nya ditulis dalam bahasa asing
punya tabungan tetap dgn nominal diatas 5 juta
menerjemahkan minimal 1 buku Bahasa Jerman
menyelesaikan minimal 400 buku/novel, dan 50% nya buku/novel berbahasa asing
fasih berbicara dengan bahasa Jerman dan Inggris
kuliah dengan tidak menggunakan jatah bolos sama sekali
ke makam keluarga di Jogja dan Malang, backpacking sendirian.
mulai jadi pengajar untuk les minimal 1 murid
mengikuti 5 seminar, dalam dan luar kota
mempunyai 1 bisnis tetap
memiliki laptop dengan uang sendiri
mendaki 1 gunung
menjuarai 3 event olahraga
menjadi pribadi yang sadar bahwa shalat 5 waktu adalah kebutuhan
khatam al-qur'an
berat badan ideal
membentuk sebuah organisasi atau komunitas kegiatan positif di kampus
ikut dalam sebuah tim sukses/event organizer, dan mengadakan sebuah acara yang terbilang sukses
merasakan snorkeling dan sea-diving


mimpi 3 tahun ke depan

lulus dengan IPK diatas 3,3
menyelesaikan skripsi, dan sidang dengan huruf mutu A
sudah punya penghasilan tetap
bisa mengajak keluarga untuk liburan dengan tabungan sendiri
mempublikasikan 1 buah karya dalam sebuah media cetak nasional
ikut belajar 1 seni bela diri
mengikuti sebuah komunitas penulis nasional
menulis sebuah buku berbahasa jerman
belajar melukis
fasih berbahasa perancis dasar
menaklukan pulau lombok dengan backpacking
membuat 1 film dokumenter
khatam al-qur'an 3 kali dalam setahun
menjuarai minimal 1 lomba menulis
30% shalat dilakukan di masjid
memiliki sebuah paspor dengan minimal 10 lembar yang sudah di cap oleh bagian imigrasi


mimpi 4 tahun ke depan

berpenghasilan tetap diatas rata-rata teman seusia
melanjutkan studi di Johannes Gutenberg Uni, Mainz
fasih dalam 4 bahasa ( indonesia, inggris, jerman, perancis )
menginjakkan kaki di mekkah bersama keluarga
menguasai seni bela diri, teknik melukis, dan teori jurnalistik
mengajar bahasa jerman kepada minimal 5 org murid
mempublikasikan sebuah hasil karya dalam media cetak internasional
terjun langsung ke dalam dunia jurnalis nasional
ikut dalam sebuah komunitas politik
menjuarai sebuah event tentang menulis dan berbahasa
masih berolahraga minimal 1x seminggu
mendalami sebuah teknik olahraga yang belum pernah dicoba
mencoba terjun payung/sky-diving minimal 1 kali
menaklukan bunaken
menguasai teori teori gramatika bahasa jerman
30% shalat dilakukan berjamaah
khatam al-qur'an minimal sekali dalam 2-3 bulan


mimpi 5 tahun ke depan

menikah dengan seorang pria sholeh yang mencintai dan dicintai saya
berkarier di bidang jurnalistik dan karya tulis
memiliki prestasi gemilang di jerman
mengajak keluarga ke jerman
sudah dikenal sebagai salah satu penulis/jurnalis muda di indonesia
melangsungkan pernikahan di venice, itali
shalat malam dengan suami minimal 4x dalam sepekan
khatam al-qur'an sekali sebulan
naik haji dengan keluarga
membentuk sebuah komunitas keilmuan di jakarta
memiliki rumah sendiri


mimpi 6,7, dan 8 tahun ke depan

memiliki 3 anak yang sehat dan shaleh/shalehah
berkarier di sebuah media cetak National Geographic International atau Die Zeit
berlibur dengan keluarga ke Tokyo
menaklukan Jerman dan kota2 indah disana
membangun sebuah pesantren di cinere
mempunyai sebuah label sendiri
mengelola sebuah kafe kecil dalam bisnis keluarga
menerbitkan sebuah media cetak milik sendiri
menginjakkan kaki di minimal 5 dari 7 keajaiban dunia
memiliki sebuah kendaraan pribadi
membangun sesuatu yang sangat berguna untuk teman2 almamater
dapat ikut terjun langsung dalam persaingan jurnalistik dunia
membina keluarga yang warohmah dan mawadah
mengganti paspor baru, karena yang lama sudah penuh :)







tidak ada yang salah dengan mimpi kita. Sungguh, orang-orang besar mengukir namanya dengan tinta
kegemilangan sejarah bermula dari mimpi-mimpi mereka.
Aray, dalam kisah "sang pemimpi" dengan berani pernah mengatakan " Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu"



Orang yang tak pernah berani bermimpi adalah orang yang tak pernah berani untuk hidup.
biarlah mimpi itu melompat-lompat liar dalam imaji otakmu. setelah itu, tambatlah ia dengan tali kerja keras.
dan, sungguh, perhatikanlah, maka dunia akan segera menjadi milikmu, hanya karena mimpi liar itu.





You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one
(Imagine - John Lennon)









December 10, 2008

Sedikit Tentang Kekalahan

Hari ini gue mengalami sebuah kekalahan yang menyakitkan. Udah lumayan lama gue gak mengalami kekalahan yang bikin dada sesek kayak hari ini. Satu yang gue sadari, kekalahan itu terlalu menyesakkan buat gue karena gue sendiri gak bisa mengalahkan diri gue, emosi gue, egoisme gue. And it sucks. Pikiran-pikiran gue bilang "aaah coba tadi gue......" atau "aanjrit coba td tendangan gue masuk, kan kita bisa.........." dan masih banyak lagi penyesalan-penyesalan yang bergemelut di pikiran gue. Yeah, kekalahan memang menyakitkan. Apalagi ketika semuanya bergantung sama sesuatu, dan sesuatu itu tidak berjalan sesuai keinginan.


Gue pernah ngalamin berbagai macam kekalahan. Ada kalanya di tengah pertandingan gue tau bahwa tim gue akan kalah. Ada kalanya gue bisa menerima kekalahan itu. Dan ada kalanya kekalahan itu gak pernah gue duga, bahkan sampai di akhir pertandingan gue masih gak yakin bahwa gue udah kalah. Ya, kekalahan memang macem-macem jenisnya, tapi judulnya sama : kalah, gagal, loser. Dan pahit.


Banyak orang bilang, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Gue sampai sekarang masih belum bisa membuktikan itu. Kalah yaaa kalah. Titik.


Pernah gue ngalamin kekalahan yang sangat amat menyesakkan. Sampai sekarang kenangan itu belum bisa gue hapus dari ingatan gue. Memang gue ga berencana untuk ngapus memori tentang itu. Saat itu gue kelas 2 sma. Kalah di permainan basket ketika gue yakin gue sebenernya bisa banget memenangkan pertandingan itu, tapi nyatanya gue kalah. Kenapa sakit banget ? karena itu adalah event yang sangat gue nanti nantikan, 5 bulan gue dan teman-teman mempersiapkan segala macemnya untuk pertandingan itu. Latian mati-matian. Ngeluarin keringet sampai batas maksimal kemampuan gue. Berusaha mengasah kelebihan dan memperbaiki kekurangan. Siang sore malam, latihan 3 kali sehari. Naik turun bukit demi memperkuat otot kaki. Sampai-sampai ortu gue khawatir sama kesehatan gue. Tapi yaa itu tadi, pada akhirnya gue kalah. Tipis. Di detik detik terakhir. Dan tembakan gue menjadi penentu kemenangan. Ah, sakit sekali ternyata, bahkan cuma mengenangnya saja gue keringet dingin. Usai pertandingan itu gue nangis. Nyampe rumah gue nangis lagi. Besoknya gue gak masuk sekolah karena alasan sakit. Entah darimana datangnya penyakit itu. Gue rasa sakitnya berasal dari hati dan pikiran gue sendiri. Besoknya di sekolah saat lagi pelajaran, gue masih tiba-tiba nangis. Saat itu kayaknya semua pikiran gue udah tertutupi sama yang namanya kesedihan. Tembakkan yang sebenarnya mudah, tapi gagal gue lakukan. Gue menyesali semua yang gue lakukan di pertandingan itu. Gue susah buat bangkit lagi. Jatuh terlalu dalam. Pengen rasanya punya Doraemon dan ngulang semua kejadian-kejadian itu.


Lalu, seorang teman, sahabat, bercerita ke gue tentang kisah perjuangan Michael Jordan. Ya, si dewa basket itu. Jordan pernah mengikuti sebuah seleksi untuk masuk tim di universitasnya. Dia berlatih sangat keras untuk itu. Dia pun yakin, dengan kemampuannya itu dia bisa lolos seleksi. Pas hari pengumuman, dia ga menemukan namanya di daftar yang terpilih. Dia lihat papan pengumuman berulang kali. Ngecek di huruf M, berharap seandainya nama keluarga dan nama depan nya tertulis terbalik. Namun ternyata memang tidak ada namanya di daftar tersebut. Kesal, marah, kecewa, down. Pahit banget kegagalan itu buat seorang MJ. Tapi apa yang dia lakukan. Dia sama sekali nggak berenti berusaha. Malem itu, dia langsung ke lapangan, latihan lagi sekuat tenaga, setiap hari setiap ada kesempatan dia latihan. Dia cuma bilang, dia akan terus dan terus latihan, karena dia nggak mau ngalamin lagi kegagalan yang terasa sesak di dadanya. Malem itu juga dia janji sama dirinya sendiri, bahwa dia nggak akan menerima kata 'gagal' di kamusnya, sebelum dia berusaha sampai titik darah penghabisan.


Denger cerita itu, gue agak terenyuh. Wah, ternyata begitu cara MJ menghadapi kegagalannya. Malam itu, gue ngikutin apa yang MJ lakukan. Gue lari sendiri ke lapangan deket rumah, gue nembak-nembak ring basket sampai gue apal letaknya walaupun gue merem. Jam setengah 12 baru gue pulang kerumah. Gue baru sadar. Bukan menerima kekalahan namanya kalau gue mengurung diri di kamar dan nangis di mana-mana. Kekalahan itu memang pahit dan menyakitkan. Tapi harus di hadapi. Cara menghadapinya? Jangan terlampau jatuh ketika ketemu sama lobang. Tapi topang badan lo pake tangan, dan berdiri kembali. Lari lagi. Lompatin semua lobang-lobangnya. Kalau jatuh lagi, topang lagi dgn tangan, bangkit lagi. Lari lagi.


kalah dari tim lawan mungkin menyakitkan.. tetapi lebih menyakitkan kalah dari rekan sendiri.. dan yang paling menyakitkan kalah dari diri sendiri..


Gue terus menerus berpikir, bahwa hari ini, gue kalah sama diri gue sendiri. Dan itu menyakitkan. Tapi gue bukan pecundang, gue bukan quitters.


Seorang pecundang tak tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah, tetapi sesumbar apa yang akan dilakukannya bila menang. Sedangkan, pemenang tidak berbicara apa yang akan dilakukannya bila ia menang, tetapi tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah. Gue nggak akan menyerah sampai disini, hari ini gue emang kalah. Tapi gue akan terus menopang kembali badan gue sendiri, bertumpu pada kedua tangan gue, dan kembali bangun dan berlari.


Lewat blog ini, beribu maaf gue sampaikan kepada rekan-rekan tim gue, maaf yang sedalam-dalamnya mimpi kita belum bisa terwujud saat ini. Maaf untuk staff pelatih yang luarrr biasa berjasa untuk tim ini. Dan maaf untuk para penonton, supporter, pendukung tim ini, yang udah rela ujan-ujanan, panas-panasan mendukung sambil berteriak teriak. Maaf gue nggak bisa membalas sedikitpun yang sudah kalian korbankan untuk ini. Terimakasih untuk semuanya. Jangan menyerah sampai disini ya teman-teman. Ayo bangun lagi bareng-bareng. Kalau mau lagi berjuang untuk mewujudkan mimpi itu, mari ikut gue, bareng-bareng kita berusaha lagi. Berjuang lagi sekuat tenaga. Apapun hasilnya nanti, itu semua tergantung usaha kita. Dan gue pribadi memang orang yang lebih mengutamakan sebuah proses ketimbang hasil.


Buat gue, ini semua adalah lesson of life. Klise ya ha ha ha. Tapi ya itu kok yang gue rasakan. Kekalahan bukan menimbulkan "keputusasaan", tapi justru memunculkan sebuah "inspirasi".





PS : don't be a quitters, be a climbers.


November 6, 2008

Lukisan Hujan


Di sini saya bukan mau menulis tentang novel remaja karya Sitta Karina yang berjudul serupa. Novel yang bagus, memang, tapi semua ini tidak berhubungan dengan novel itu kok. Ini hanya sebuah istilah --atau kalimat, phrase atau apapun -- yang tiba-tiba terlintas di kepala saya barusan. Hujan di luar. Lukisan Hujan.

Saya punya ketertarikan yang dalam kepada hujan. Kenapa hujan? Sayapun juga masih belum mengerti, tapi yang pasti, irama rintikkan hujan itu sendiri bisa membuat badai gundah hati berubah jadi lautan yang tenang.

Apalagi di musim ini, musim yang paling saya favoritkan. Dewasa ini, banyak sekali yang mengeluh akan hujan dan terhambatnya aktivitas harian mereka. Saya, sekalipun, tidak pernah. Mudah-mudahan tidak akan pernah.

Hujan selalu mengingatkan saya dengan seseorang, yang juga bikin saya jatuh cinta kepada hujan. Hujan pernah menahan saya dan dirinya di suatu tempat pada suatu ketika. Saya yang saat itu sedang sibuk membetulkan letak tatanan rambut yang sedemikian rupa basah kuyup dan menyebalkan, tiba-tiba tertegun. Melihatnya. Tersenyum.

Sayangnya, senyum itu bukan ditujukan pada saya dan rambut basah lepek a la Emma Spice Girls di era keemasannya. Bukan, senyum itu khusus dan khusyuk ia berikan untuk hujan yang sedang turun. Menerawang. Dan membuat lidah saya terpaku diam tak bergerak sedikitpun. Senyumnya membius. Membuat saya jadi tidak sadarkan diri. Sayapun akhirnya tertular dan ikut memperhatikan ratusan rintik bermelodi itu, bertanya dan mengira-ngira tentang jawaban dari pertanyaan rumit tentang hujan dan daya tarik magnetnya yang menyunggingkan lengkung manis di wajahnya. Apa gerangan yang membuatnya tersenyum? Apa yang hujan lakukan? Apa yang sangat spesial?

Hmm, kejadian itu berlangsung sudah sangat cukup lama. Selama waktu itu pula, sayapun akhirnya jatuh cinta dengan hujan. Selama waktu itu pula sayapun akhirnya bisa mengerti dan menyadari sendiri apa arti hujan untuk saya. Dan kini, hujan, selalu menjadi saat yang paling saya nanti-nantikan.

Saya jatuh cinta dengan hari yang diguyur hujan. Saya jatuh cinta dengan aroma yang hujan bawa. Dan as a matter of fact, sayapun jadi manusia yang jarang sekali membawa payung di dalam tas :) Bukan karena saya berencana untuk kehujanan, tapi menurut saya, hujan merupakan sesuatu yang harmless. Dan saya nggak keberatan kok untuk terkena basah dan sedikit kedinginan karenanya.

Hujan membuat saya merasa homey, comfort, kecil, dan feeling beautiful. Rasanya seperti melunturkan seluruh penat dan lelah, terbasuh oleh sesuatu yang pure & undisturbed. Suara hujan, aah ini. Mungkin saya harus membuat satu postingan khusus mengenai suara hujan saking luar biasanya melodi yang tercipta. Tapi singkatnya, suara hujan seolah bisa membuat saya menari-nari dalam kesendirian. Menjadi sebuah irama yang mengalun halus di telinga, menyinggung benak untuk menerawang dan bersiul-siul menyamakan ritmenya. Cuacanya dingin, tapi nggak menggigit. Langitnya gelap, namun bukan kelam.

Namun sayangnya, saya nggak pernah suka dengan akhirnya. Entah itu pelangi, petir, atau terhenti begitu saja. Saya ingin hujannya tetap berlangsung. Ck. Maafkan saya yang egois ini. Namun hati menjadi kesal rasanya ketika seseorang teman bilang 'Tenang, selalu ada pelangi setelah hujan' dan menggambarkan bahwa menurutnya pelangi seolah lebih indah dari hujan.

No offense but hey, menurut saya pelangi hanya optical illusion yang dibuat oleh Tuhan dengan tujuan untuk menunjukkan pada manusia tentang keberadaan dan keberagaman warna. Don't get me wrong, saya suka dengan ragam warna yang ada di dunia, hanya saja saya bukanlah pecinta pelangi seperti bagaimana saya mencintai hujan yang turun tak peduli bahwa akan ada pelangi setelahnya atau tidak. Keindahan hujan itu absolut.

Berbeda lagi dengan petir, untuk yang satu ini, saya harus bilang saya belum bisa berdamai. Personal reason. Sebuah pengalaman pribadi yang sangat tidak menyenangkan dan belum bisa saya hapus dari ingatan. Saya mulai risau ketika hujan itu berubah menjadi berbadai dan berpetir. Detik-detik berlangsung lama, suasananya mencekam untuk saya melanjutkan kesendirian ketika menikmati rintik hujan. Saya belum menemukan unsur kecantikan yang ada pada petir dan gemuruh. Yang ada hanya gambaran kekuasaan tiada tara, gambaran ketakutan akan hidup setelah mati, gambaran maha dasyat dari yang Maha Dahsyat.

Kembali lagi ke hujan. Tenang, ini bukan sebuah obsesi kok. Sayapun masih manusia yang sering masuk angin saat berlama-lama kehujanan. Sayapun masih manusia yang tidak menyukai banjir dan sampah yang berserakan. Pada postingan kali ini, saya hanya ingin sedikit berbagi cerita tentang satu hal yang sangat saya sukai. Suatu hal yang.. ah, indah dan menenangkan. :)


------------------------------------------------------------------
Hujan
by : Utopia

Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu

Segala seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak 'kan berubah

Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri

Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air

Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku



October 21, 2008

Diam, Maka Kamu Akan Hidup


Sebuah prolog,

Jika boleh aku memilih untuk mendengar,
Aku akan mendengar yang tak bersuara
Jika aku terpaksa memilih untuk melihat,
Aku akan melihat yang tak tampak
Jika aku akhirnya memilih untuk merasa,
Aku akan merasa yang tak terasakan



”asa”

Kalau saja ketololan umat manusia yang sedemikian rupa terjajah kembali,
Aku akan memilih bicara!
Daripada teringkuk dipaksa memilih dijalur damai
Di mana tidak ada tampak pancaran



”fakta”

Sepanjang jalur muntahan darah dalam jejalan urat nadiku,
Aku berteriak!
Aku BERTERIAK!
Meludahi apa-apa yang merobek rasa murka dalam gelegak jantung dan jiwa
Mengangkat tangan demi yang terkoyak

..Namun,

Yang di sana menjilati darah orang,
Pura-pura tak gubris,
Lalu di ujung jalan mengerati tulangku,
Di bawa pulang dengan nafsu menjijikkan,
Di atas nama harkat dan rasa semanusia mereka mengharamkan apa yang aku teriakkan
Dijadikan makanan anjing liar kesetanan,
Di bawah tanah sampah.




Sebuah epilog,

Jika aku boleh memilih untuk mendengar yang tak bersuara,
Jika aku terpaksa memilih untuk melihat yang tak tampak,
Jika aku akhirnya memilih untuk merasa yang terasakan,

Aku boleh memilih hidup tenang.





Jatinangor, oktober2008.
berkoar-koar menyuarakan kebenaran malah ditindas, apa harus hidup dalam diam untuk tenang ?