November 16, 2009
Nomor 4
Tarik.. Embus.. Tarik.. Embus lagi..
Hanya itu.. Tak ada lagi yang kulakukan. Tanganku yang biasanya sibuk dengan cangkir dan sendok kopi, sekarang hanya terongok tak berdaya di meja. Sama seperti pemiliknya.
Mataku masih terpaku di meja nomor empat. Meja, yang hingga dua minggu lalu masih kutatap dengan rasa ingin tahu dan terpesona, bukan rindu dan nelangsa. Meja, yang hingga dua minggu lalu masih kuhampiri dengan langkah-langkah penuh semangat, bukan kuhindari.
***
Seperti biasa, aku berdiri di balik bar table. Mondar-mandir menyiapkan berbagai macam ramuan kopi, memberi taburan Choco-granulle ke atas busa cappuccino, atau sekedar mengecek persediaan bubuk hitam yang disebut kopi. Bagi beberapa orang, pekerjaanku mungkin menjemukan. Tapi aku menikmati profesiku sebagai barista. Aku mencintai kopi. Aku mencintai aroma dan sensasi yang mereka ciptakan. Mungkin karena hal inilah, tak ada wanita yang benar-benar singgah di hidupku.
Bukan menyombong. Tapi aku terlahir dengan wajah tampan dan daya pikat yang sulit ditolak. Ini kumanfaatkan untuk menaikkan omset cafe tempatku bekerja. Tiap hari, aku tersenyum kepada para pelanggan wanita dari balik meja kasir, seraya memberikan pesanan mereka.
Tapi percayalah.. Aku sama sekali tak menikmati hal ini.
Senyum yang penuh dengan kepalsuan. Dalam hati, aku mati-matian mengutuki hal ini. Lagipula, tak satu pun dari wanita-wanita itu yang benar-benar menarik perhatianku. Tak satu pun dari mereka yang cukup berharga untuk kuberi senyuman tulus. Satu-satunya hal yang bisa membuatku tersenyum tulus hanyalah uap kopi yang begitu kucintai. Arini yang biasanya tak pernah berkomentar pun mengamini hal ini. Ia pernah berkata padaku:
“Dewa. Aku tahu kamu mencintai kopi lebih dari apa pun. Tapi sediakan tempat untuk wanita juga di hatimu.”
Aku hanya tersenyum tipis dan berkata:
“Lalu kau akan meminta tempat di hatiku itu untuk dirimu?”
Arini yang baik. Jika wanita lain yang kuberi kata-kata itu, hanya ada dua kemungkinan reaksinya. Pertama: dia akan membalikkan badannya dan melenggang pergi dengan wajah merah. Kedua: mereka akan menjawab aku ini laki-laki kurang ajar, kemudian menjawab mengiyakan pertanyaan itu. Tapi gadis manis itu hanya tertawa merdu dan melambaikan jari manisnya yang dihiasi lingkaran emas.
Begitulah gambaran sekilas tentang hari-hari yang selalu kulewati di cafe. Boleh dibilang, aku lebih banyak bersosialisasi dengan kopi, ketimbang dengan manusia real. Namun, entah bagaimana aku menikmati hal ini. Mungkin aku akan terus hidup dengan pola seperti ini, kalau dia tidak datang ke cafe dan duduk di meja nomor empat.
***
Hari itu, Jakarta diguyur hujan yang amat deras. Cafe kebanjiran orang yang ingin menghangatkan diri. Aku benar-benar kewalahan menghadapi ini. Meski udara di dalam cafe agak dingin, wajahku bersimbah peluh. Kemejaku melekat kuat ke tubuhku. Itulah pertama kalinya aku membenci uap kopi. Aromanya yang harum membuatku mual. Namun, betapa pun aku sebal dan jemu, senyum tak pernah lepas dari bibirku.
Barangkali rasa jemu dan sebal itu akan terus bercokol di hatiku sampai hari ini berakhir. Tapi, sebuah suara membuat rasa frustrasi-ku lenyap nyaris seketika.
“Bisa pesan Dilmah tea yang lemon?”
Aku mengerutkan alisku sejenak. Bukan karena mendengar pesanannya. Tapi karena nada suara yang ditangkap telingaku. Begitu tenang. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan nada suara yang biasa kudengar. Aku mengangkat wajahku dari cangkir berasap yang sedang kuberi krim. Sesosok gadis berdiri di hadapanku. Matanya yang hitam mentapaku lurus-lurus.
Mungkin karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya, gadis itu mengulanginya dengan suara tenang yang sama:
“Bisa pesan Dilmah tea lemon?”
Dengan geragapan aku menjawab pertanyaan itu:
“Eh.. iya..bisa. Mau pakai gula biasa atau diet?”
“biasa aja.”
“Ditunggu, ya..”
Gadis itu hanya mengangguk. Ia sama sekali tak tersenyum ataupun mengedip genit padaku. Hal yang jarang kudapati dari pelanggan-pelanggan wanita yang lain. Dengan gerakan yang luwes, gadis itu mengangsurkan uang ke Arini yang bertugas di kasir dan berjalan anggun ke meja. Aku mengawasi gadis itu menarik kursi dan duduk dengan santai di dekat dinding kaca yang menjadi pembatas cafe ini dengan dunia luar.
Karena mataku masih mengawasi gadis itu, tanganku nyaris menampar teko berisi krim. Buru-buru aku menarik diriku ke alam nyata dan memusatkan pikiran untuk membuat pesanan gadis itu. Begitu selesai, aku tak mengijinkan siapa pun selain diriku, untuk mengantarkan pesanannya. Sesuatu yang baru pertama kali ini kulakukan. Dengan sigap, aku berjalan ke meja tempat gadis itu duduk dan dengan lembut meletakkan cangkir porselen putih di hadapannya.
“Satu dilmah tea lemon,” kataku sambil tersenyum. Senyum tulusku yang pertama hari ini.
Gadis itu kembali menatap mataku lurus-lurus. Kumanfaatkan hal ini untuk mengamati tiap jengkal sosoknya.
Wajah oriental yang terbingkai rambut hitam panjang yang dilayer. Mata hitam. Kulit kuning langsat. Hidung mancung. Tubuh ramping yang terbungkus hoodie putih bermotif Mickey Mouse. Namun, bukan sosoknya yang begitu sederhana–jika dibandingkan dengan pengunjung lain–yang membuatku tertarik. Aku memberikan senyumanku pada gadis itu. Tapi yang terjadi selanjutnya membuatku bengong. Gadis itu menatapku dengan tatapan datar yang nyaris tak pernah kuterima seumur hidupku. Namun tatapan itu–anehnya–malah membuatku tenang. Bukan risih ataupun jengkel
“Kamu dipanggil, tuh,” gadis itu mendadak bersuara. Memaksaku kembali ke realita.
Dengan cepat, aku menoleh ke meja kasir. Benar saja, Arini sudah melambai-lambaikan kertas pesanan dengan gerakan seolah dia ingin mengusir lalat yang beterbangan di sekeliling kepalanya. Buru-buru aku berjalan ke kasir dan membuat pesanan-pesanan itu secepat aku mampu. Sambil meracik kopi, aku terus menerus berharap agar gadis itu masih duduk di meja itu ketika aku selesai.
Sayangnya, ketika aku selesai meracik semua pesanan keparat itu, gadis itu sudah lenyap. Dengan putus asa, aku menayai semua waiter perihal gadis itu. Tapi tak ada yang melihat gadis itu. Namun aku yakin itu bukan sekedar mimpi siang bolong. Karena, ketika aku menghampiri meja di dekat dinding kaca itu, pandanganku jatuh ke sebuah cangkir porselen putih. Dengan hati-hati, kuangkat cangkir kosong itu. Masih hangat. Dengan perasaan gembira, aku menatap cangkir yang menjadi bukti kehadiran gadis itu.
***
Hari yang amat cerah. Secerah senyumku saat ini. Sebuah earphone terpasang di telingaku. Terhubung dengan iPod yang tersembunyi di balik celemekku. Dengan riang, tanganku menggerakkan sendok, teko, cangkir, jepitan gula, dan sebangsanya, mengikuti permainan gitar John Mayer. Dua hari setelah hari hujan itu, gadis itu singgah lagi di cafe ini. Begitu pula hari-hari berikutnya. Nyaris tiap hari gadis itu datang ke cafe ini. Selalu pesanan, tempat duduk, dan rutinitas yang sama. Setelah memesan Dilmah tea lemon–terkadang dengan croque madame atau cinnamon bread–gadis itu akan berjalan dengan langkah anggun ke meja di dekat dinding kaca dan duduk dengan santai di situ. Di meja bernomor empat. Kemudian dengan langkah sigap, aku akan mengantarkan pesanannya.
Terkadang dia mengutak-atik BlackBerry-nya. Tapi aku lebih sering melihatnya sibuk dengan buku sketsa dan pensil arang. Tangannya yang ramping bergerak-gerak dengan lincah. Menuangkan sosok-sosok yang ada di dalam pikirannya ke atas kertas putih. Selama dua bulan berikutnya, aku hanya memandangi gadis itu dari balik meja kasir. Entah kenapa, tak terlintas pikiran untuk mengajaknya bercakap-cakap. Tiap hari, aku mengamati tiap jengkal dari sosok sederhana itu. Mengamati hoodie apa yang dia pakai minggu itu, sepatu apa diinjaknya, kaus warna apa yang melekat di tubuhnya. Hanya itu.
Aku sendiri heran. Mengapa gadis yang begitu sederhana bisa membuatku begitu tertarik dan penasaran. Mungkin karena dia begitu berbeda dengan sosok gadis-gadis kosmopolitan pada umumnya. Tak ada merk internasional yang melekat di tubuhnya. Ia tak pernah duduk dengan mata terpaku pada seorang laki-laki. Dia juga tak pernah duduk bergerombol dengan gadis-gadis lain atau didampingi pemuda lain. Yang terakhir inilah yang membuat harapanku naik sedikit. Mungkinkah ada sedikit peluang untuk memenangkan hatinya?
Maka, sedikit demi sedikit, aku mengajak gadis itu bercakap-cakap. Dari apa yang telah kami bicarakan, hanya namanya saja yang berhasil kukorek. Inka, mahasiswi seni rupa. Selisih tiga tahun denganku. Hanya itu. Bahkan nama panjang, hobi, dan kesukaannya pun aku tak tahu. Dia begitu tertutup. Inka adalah gadis pertama yang tidak luluh oleh senyumku. Selama tiga bulan berikutnya, aku berusaha membuat Inka bicara lebih banyak padaku. Tapi bibir itu hanya menjawab pertanyaanku ala kadarnya saja. Tak pernah ada jawaban panjang lebar atau pertanyaan untukku yang keluar dari bibir mungil itu. Hanya menjawab. Tak pernah bertanya balik. Selalu begitu.
Tetapi, meski bibir itu tak pernah menyunggingkan senyum. Mata hitamnya selalu menatap mataku lekat-lekat. Lambat laun, aku menyadari satu hal. Di balik tatapannya yang tenang itu, terkubur jutaan ekspresi yang begitu hidup. Pernah aku menceritakan lelucon konyol padanya. Tapi–sekali lagi–ia tak memberikan reaksi yang kuharapkan. Inka hanya tersenyum. Namun sekilas aku menyadari, meski dia tak tertawa, matanya memancarkan keriangan orang yang sedang tertawa. Aku menatap mata yang riang itu sambil tersenyum hangat. Itulah pertama kalinya aku menyadari betapa hidupnya tatapan mata Inka.
Keesokan harinya, aku nekat mengajak Inka ke cinema untuk menonton ‘Inkheart’. Kenapa film itu? Dari sekian banyak percakapan hambar yang kulalui dengannya, aku berhasil tahu kalau Inka sangat menyukai Brendan Frasser. Maka siangnya, aku menghampiri meja nomor empat. Aku berdehem sekali untuk menyingkirkan ganjalan sialan di kerongkonganku sebelum berkata:
“Inka..would you like to go to the cinema with me tonight?”
Kalaupun Inka terkejut dengan ajakanku yang mendadak ini, ia menyembunyikannya dengan sangat baik. Sambil menatap matanya yang indah lurus-lurus, aku menyilangkan jariku di balik punngung. Berharap nasib baik menghampiriku kali ini. Lalu, dengan dada sesak karena kegembiraan aku melihat dia mengangguk pelan dan memberiku senyum lebarnya yang pertama.
“Jam delapan malam kujemput?”
Sekali lagi ia mengangguk. Tuhan.. Kau telah memberiku hal terindah di dunia ini. Kemudian, Inka memberiku secarik kertas. Di situ, tertulis alamat rumah dan nomor handphone-nya dengan tulisan tangannya yang tegas.
“Kalau mau tanya arah, telepon nomor ini aja,” katanya
Dadaku begitu sesak dengan kegembiraan. Nyeri rasanya. Tapi aku tak peduli, meski rasa sesak itu tetap bercokol di dadaku hingga waktu aku menjemput Inka malam itu.
Sementara dia bersiap-siap, aku duduk di ruang tamunya. Rumah itu sederhana, tapi begitu nyaman dan hangat. Seperti Inka sendiri. Sekonyong-konyong aku menyadari, tiap sudut ruangan itu dihiasi gambar sketsa yang terpigura rapi. Aku bangkit dari sofa dan menghampiri pigura yang paling dekat denganku. Aku kaget ketika melihat tanda tangan kecil yang tertera di sudut sketsa bunga itu.
Inka, 290609
Kuamati tiap senti dari sketsa itu. Tak ada satu goresan pun yang terlewat oleh mataku. Padahal itu hanya sebuah sketsa bunga biasa, tapi aku bisa merasakan seluruh jiwa Inka di situ. Hal yang sama kurasakan di sketsa-sketsa yang lain. Aku mengamati tiap sketsa dengan perasaan kagum, sampai akhirnya aku berdiri di depan pigura hitam sederhana. Aku merasakan wajahku memanas ketika meihat sosok di kertas yang ada di balik kaca pigura itu. Seorang laki-laki muda tampan. Tangannya sibuk dengan berbagai peralatan yang biasa digunakan oleh barista. Dengan napas tertahan, aku melihat sketsa diriku. Seperti sketsa-nya yang lain, Inka juga membubuhkan tanda tangan kecil di sudut sketsa diriku. Dan seperti sketsa-nya yang lain, aku dapat merasakan jiwa Inka di situ.
“Maaf kalau jelek ya, Wa..”
Aku menoleh. Inka sudah berdiri di belakangku, entah sejak kapan. Tampak begitu manis dalam balutan cardigan hitam. Aku tersenyum padanya dan menggeleng.
“Kita pergi sekarang?” Tanyaku sambil mengulurkan tangan.
Inka mengangguk dan menyambut tanganku. Sekali lagi dadaku sesak dengan kegembiraan. Kurasakan jemarinya yang lembut dalam genggamanku. Kutatap mata indahnya dan kusadari tatapannya yang begitu tenang dan hangat, serta senyumnya yang begitu mempesona.
***
Enam bulan berlalu sejak pertemuan pertamaku dengan Inka. Genap empat bulan sudah aku berhubungan dengan Inka melalui SMS, Messenger, dan percakapan di cafe. Aku menikmati tiap saat aku bercakap-cakap dengannya. Menikmati setiap kesempatan untuk mendengarkan tawanya, melihatnya tersenyum, memperhatikan gerak bibirnya saat berbicara, dan menatap matanya yang tenang. Tiap hari, di sela-sela waktu kerjaku, aku menyempatkan diri untuk duduk di hadapannya di meja nomor empat.
Pernah kutanyakan pada Inka alasannya selalu duduk di situ. Ia tersenyum sejenak dan berkata dengan nada santai:
“Karena aku bisa melihatmu dengan sudut pandang yang berkualitas.”
Aku tertawa mendengarnya. Inka juga ikut tertawa dengan suaranya yang lembut. Suatu kali ia pernah kutawari untuk duduk di coffee bar, namun ia tak begitu nyaman dengan hal itu.
“Aku bukan peminum kopi, Dewa. Aku tak bisa menikmati uap-nya seperti yang kamu lakukan,” katanya.
Memang. Selama ini Inka tidak pernah memesan kopi. Selalu dilmah tea lemon.
Setahun berlalu. Aku dan Inka makin akrab. Kegembiraan murni di hatiku tak pernah surut. Membuatku tersenyum tulus pada siapa pun. Bahkan pada para pelanggan wanita genit yang kubenci sekali pun. Tapi ada orang yang lebih gembira dari pada aku. Orang itu adalah Arini. Dengan bersemangat ia membantuku memilihkan kado untuk Inka.
“Akhirnya kamu mengijinkan seorang gadis mengisi hatimu, Wa!” Katanya girang.
Aku hanya tertawa kecil melihat reaksinya ketika aku memberitahunya kalau aku jadian dengan Inka. Selama beberapa waktu, aku menyangka kegembiraan ini akan terus bertahan hingga akhir hidupku. Tapi sebuah peristiwa memaksaku bangun dari angan-angan indahku dan menghadapi realita pahit kehidupan.
Semua berawal ketika Inka tiba-tiba absen singgah di cafe. Aku mencoba menghubunginya lewat telepon dan SMS. Tapi hasilnya nihil. Berkali-kali kuperiksa status Messenger-nya, tapi selalu unavailable. Akhirnya aku berusaha meyakinkan diriku bahwa dia hanya sibuk. Tapi keyakinan itu runtuh ketika seminggu berlalu tanpa kehadiran Inka di cafe. Aku memutuskan untuk menyambangi rumahnya. Berharap dia akan menyambutku dengan wajah kusut dan kelelahan. Tapi aku terpaksa menerima kenyataan pahit lain. Rumah kecil itu tertutup rapat. Kutanyai semua warga yang ada di sekitar situ, tapi hasilnya nihil. Dengan hati galau, aku pulang dan kembali melanjutkan usaha sia-siaku untuk menghubunginya.
Dua minggu berlalu. Aku memutuskan untuk kembali menyambangi rumahnya. Hatiku mencelos ketika melihat sejumlah karangan bunga berjejer rapi di halaman rumahnya. Sebutir kristal cair jatuh dari mataku ketika aku membaca nama yang tertera di salah satu karangan bunga itu.
"Inka Devanti Issoetranto"
Nama panjang Inka tertera bersama ungkapan duka cita yang ditujukan padanya. Pada kematiannya.
Bagaikan kesetanan, aku berlari ke bagian dalam rumahnya. Tak kupedulikan seruan marah orang-orang yang kutubruk. Langkah seribuku baru berhenti ketika aku tiba di ruang tamu. Hanya ada lima orang di situ. Keluarga Inka. Namun perhatianku sepenuhnya tersita oleh kehadiran sebuah peti mati sederhana yang terletak di tengah-tengah ruangan. Kuberanikan diriku untuk menghampiri benda itu dan melihat ke dalamnya.
Bahkan dalam genggaman kematian pun, ketenangan itu masih ada. Ketenangan dan kehangatan yang biasa kujumpai dari Inka, masih terpancar dari sosoknya yang terbalut gaun broken-white dan dikellilingi lily putih. Tapi mata indah yang penuh dengan kehidupan itu kini terpejam. Tak lagi memancarkan pesonanya.
“Inka..” panggilku lemah.
Dia tetap terbaring diam. Gadis yang telah menarikku keluar dari duniaku yang menjemukan, kini terbaring mati. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menariknya keluar dari kematian.
“Inka, buka matamu.” Tenggorokanku tercekat menahan tangis
Seorang pria paruh baya menepuk bahuku. Ekspresinya letih dan matanya masih merah. Orang yang akan kupanggil ‘ayah’ di masa depan nanti.
Aku berusaha menyingkirkan pengganjal yang hadir di kerongkonganku. Tanganku terkepal erat. Menahan segala emosi yang siap meledak.
“Apa yang terjadi padanya?” Desisku
“Demam berdarah. Kami terlambat menyadarinya. Ketika Inka dibawa ke rumah sakit, semuanya sudah terlambat,” jawab pria itu dengan suara parau.
Pria itu menatapku dengan pandangan kuyu dan berkata:
“Kau yang bernama Dewa, ya?”
Aku mengangguk kaku.
“Inka tidak ingin kamu tahu tentang apa yang terjadi padanya. Ia tak ingin membuatmu cemas,” kata pria itu dengan suara parau yang sama.
***
Dua minggu telah berlalu semenjak kamu pergi selamanya dari hidupku Inka. Dan inilah aku, berdiri di balik coffee bar. Melamun dengan tangan menganggur. Tak lagi menggerakkan teko, cangkir, gelas takar, dan sendok kopi dengan riang. Tak lagi merobek bungkus dan menyeduh dilmah tea lemon untuk kamu, Inka. Mataku tak pernah meninggalkan meja nomor empat. Meja yang menjadi saksi bisu kebersamaan kita, Inka.
Arini terus menerus berusaha menghiburku. Tapi aku tak pernah bereaksi. Arini yang baik. Tak pernah sekali pun dia meninggalkanku. Inka, apa kamu akan marah kalau aku menanggapi Arini? Apa kamu marah kalau aku membawa sketsa diriku yang kamu buat ke rumahku? Aku telah menggantungkan sketsa itu di dinding kamarku. Karena melalui sketsa itu, aku bisa merasakan jiwamu, Inka. Hanya sketsa itulah yang bisa memberiku kenyamanan. Aku tahu kamu ingin aku melanjutkan hidupku. Tapi aku tak sanggup berdiri di belakang coffee bar cafe ini lagi. Karena pemandangan yang pertama kali kulihat pasti adalah meja favoritmu. Meja nomor empat.
Aku memang pengecut, Inka. Kamu pernah bilang begitu, kan? Meski dulu kamu bilang begitu hanya untuk bercanda, tapi sekarang itu benar. Setahun kemudian, aku pindah ke Italia. Aku tak sanggup menghadapi kenangan akan keberadaanmu di meja itu, Inka. Aku bekerja di cafe kecil di pinggiran kota. Tak ada meja bernomor empat. Hanya dua meja kecil ditempat ini dan coffee bar berbau uap kopi yang panjang. Tapi Inka, aku tak melupakanmu. Sketsa itu masih tergantung di dinding flat-ku. Tak tersentuh debu. Sketsa itu akan selalu memberiku kenyamanan dan ingatan tentang seorang gadis sederhana yang telah memberiku ketenangan melalui mata hitamnya yang gemilang. Seorang gadis bernama Inka.
Hanya itu.. Tak ada lagi yang kulakukan. Tanganku yang biasanya sibuk dengan cangkir dan sendok kopi, sekarang hanya terongok tak berdaya di meja. Sama seperti pemiliknya.
Mataku masih terpaku di meja nomor empat. Meja, yang hingga dua minggu lalu masih kutatap dengan rasa ingin tahu dan terpesona, bukan rindu dan nelangsa. Meja, yang hingga dua minggu lalu masih kuhampiri dengan langkah-langkah penuh semangat, bukan kuhindari.
***
Seperti biasa, aku berdiri di balik bar table. Mondar-mandir menyiapkan berbagai macam ramuan kopi, memberi taburan Choco-granulle ke atas busa cappuccino, atau sekedar mengecek persediaan bubuk hitam yang disebut kopi. Bagi beberapa orang, pekerjaanku mungkin menjemukan. Tapi aku menikmati profesiku sebagai barista. Aku mencintai kopi. Aku mencintai aroma dan sensasi yang mereka ciptakan. Mungkin karena hal inilah, tak ada wanita yang benar-benar singgah di hidupku.
Bukan menyombong. Tapi aku terlahir dengan wajah tampan dan daya pikat yang sulit ditolak. Ini kumanfaatkan untuk menaikkan omset cafe tempatku bekerja. Tiap hari, aku tersenyum kepada para pelanggan wanita dari balik meja kasir, seraya memberikan pesanan mereka.
Tapi percayalah.. Aku sama sekali tak menikmati hal ini.
Senyum yang penuh dengan kepalsuan. Dalam hati, aku mati-matian mengutuki hal ini. Lagipula, tak satu pun dari wanita-wanita itu yang benar-benar menarik perhatianku. Tak satu pun dari mereka yang cukup berharga untuk kuberi senyuman tulus. Satu-satunya hal yang bisa membuatku tersenyum tulus hanyalah uap kopi yang begitu kucintai. Arini yang biasanya tak pernah berkomentar pun mengamini hal ini. Ia pernah berkata padaku:
“Dewa. Aku tahu kamu mencintai kopi lebih dari apa pun. Tapi sediakan tempat untuk wanita juga di hatimu.”
Aku hanya tersenyum tipis dan berkata:
“Lalu kau akan meminta tempat di hatiku itu untuk dirimu?”
Arini yang baik. Jika wanita lain yang kuberi kata-kata itu, hanya ada dua kemungkinan reaksinya. Pertama: dia akan membalikkan badannya dan melenggang pergi dengan wajah merah. Kedua: mereka akan menjawab aku ini laki-laki kurang ajar, kemudian menjawab mengiyakan pertanyaan itu. Tapi gadis manis itu hanya tertawa merdu dan melambaikan jari manisnya yang dihiasi lingkaran emas.
Begitulah gambaran sekilas tentang hari-hari yang selalu kulewati di cafe. Boleh dibilang, aku lebih banyak bersosialisasi dengan kopi, ketimbang dengan manusia real. Namun, entah bagaimana aku menikmati hal ini. Mungkin aku akan terus hidup dengan pola seperti ini, kalau dia tidak datang ke cafe dan duduk di meja nomor empat.
***
Hari itu, Jakarta diguyur hujan yang amat deras. Cafe kebanjiran orang yang ingin menghangatkan diri. Aku benar-benar kewalahan menghadapi ini. Meski udara di dalam cafe agak dingin, wajahku bersimbah peluh. Kemejaku melekat kuat ke tubuhku. Itulah pertama kalinya aku membenci uap kopi. Aromanya yang harum membuatku mual. Namun, betapa pun aku sebal dan jemu, senyum tak pernah lepas dari bibirku.
Barangkali rasa jemu dan sebal itu akan terus bercokol di hatiku sampai hari ini berakhir. Tapi, sebuah suara membuat rasa frustrasi-ku lenyap nyaris seketika.
“Bisa pesan Dilmah tea yang lemon?”
Aku mengerutkan alisku sejenak. Bukan karena mendengar pesanannya. Tapi karena nada suara yang ditangkap telingaku. Begitu tenang. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan nada suara yang biasa kudengar. Aku mengangkat wajahku dari cangkir berasap yang sedang kuberi krim. Sesosok gadis berdiri di hadapanku. Matanya yang hitam mentapaku lurus-lurus.
Mungkin karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya, gadis itu mengulanginya dengan suara tenang yang sama:
“Bisa pesan Dilmah tea lemon?”
Dengan geragapan aku menjawab pertanyaan itu:
“Eh.. iya..bisa. Mau pakai gula biasa atau diet?”
“biasa aja.”
“Ditunggu, ya..”
Gadis itu hanya mengangguk. Ia sama sekali tak tersenyum ataupun mengedip genit padaku. Hal yang jarang kudapati dari pelanggan-pelanggan wanita yang lain. Dengan gerakan yang luwes, gadis itu mengangsurkan uang ke Arini yang bertugas di kasir dan berjalan anggun ke meja. Aku mengawasi gadis itu menarik kursi dan duduk dengan santai di dekat dinding kaca yang menjadi pembatas cafe ini dengan dunia luar.
Karena mataku masih mengawasi gadis itu, tanganku nyaris menampar teko berisi krim. Buru-buru aku menarik diriku ke alam nyata dan memusatkan pikiran untuk membuat pesanan gadis itu. Begitu selesai, aku tak mengijinkan siapa pun selain diriku, untuk mengantarkan pesanannya. Sesuatu yang baru pertama kali ini kulakukan. Dengan sigap, aku berjalan ke meja tempat gadis itu duduk dan dengan lembut meletakkan cangkir porselen putih di hadapannya.
“Satu dilmah tea lemon,” kataku sambil tersenyum. Senyum tulusku yang pertama hari ini.
Gadis itu kembali menatap mataku lurus-lurus. Kumanfaatkan hal ini untuk mengamati tiap jengkal sosoknya.
Wajah oriental yang terbingkai rambut hitam panjang yang dilayer. Mata hitam. Kulit kuning langsat. Hidung mancung. Tubuh ramping yang terbungkus hoodie putih bermotif Mickey Mouse. Namun, bukan sosoknya yang begitu sederhana–jika dibandingkan dengan pengunjung lain–yang membuatku tertarik. Aku memberikan senyumanku pada gadis itu. Tapi yang terjadi selanjutnya membuatku bengong. Gadis itu menatapku dengan tatapan datar yang nyaris tak pernah kuterima seumur hidupku. Namun tatapan itu–anehnya–malah membuatku tenang. Bukan risih ataupun jengkel
“Kamu dipanggil, tuh,” gadis itu mendadak bersuara. Memaksaku kembali ke realita.
Dengan cepat, aku menoleh ke meja kasir. Benar saja, Arini sudah melambai-lambaikan kertas pesanan dengan gerakan seolah dia ingin mengusir lalat yang beterbangan di sekeliling kepalanya. Buru-buru aku berjalan ke kasir dan membuat pesanan-pesanan itu secepat aku mampu. Sambil meracik kopi, aku terus menerus berharap agar gadis itu masih duduk di meja itu ketika aku selesai.
Sayangnya, ketika aku selesai meracik semua pesanan keparat itu, gadis itu sudah lenyap. Dengan putus asa, aku menayai semua waiter perihal gadis itu. Tapi tak ada yang melihat gadis itu. Namun aku yakin itu bukan sekedar mimpi siang bolong. Karena, ketika aku menghampiri meja di dekat dinding kaca itu, pandanganku jatuh ke sebuah cangkir porselen putih. Dengan hati-hati, kuangkat cangkir kosong itu. Masih hangat. Dengan perasaan gembira, aku menatap cangkir yang menjadi bukti kehadiran gadis itu.
***
Hari yang amat cerah. Secerah senyumku saat ini. Sebuah earphone terpasang di telingaku. Terhubung dengan iPod yang tersembunyi di balik celemekku. Dengan riang, tanganku menggerakkan sendok, teko, cangkir, jepitan gula, dan sebangsanya, mengikuti permainan gitar John Mayer. Dua hari setelah hari hujan itu, gadis itu singgah lagi di cafe ini. Begitu pula hari-hari berikutnya. Nyaris tiap hari gadis itu datang ke cafe ini. Selalu pesanan, tempat duduk, dan rutinitas yang sama. Setelah memesan Dilmah tea lemon–terkadang dengan croque madame atau cinnamon bread–gadis itu akan berjalan dengan langkah anggun ke meja di dekat dinding kaca dan duduk dengan santai di situ. Di meja bernomor empat. Kemudian dengan langkah sigap, aku akan mengantarkan pesanannya.
Terkadang dia mengutak-atik BlackBerry-nya. Tapi aku lebih sering melihatnya sibuk dengan buku sketsa dan pensil arang. Tangannya yang ramping bergerak-gerak dengan lincah. Menuangkan sosok-sosok yang ada di dalam pikirannya ke atas kertas putih. Selama dua bulan berikutnya, aku hanya memandangi gadis itu dari balik meja kasir. Entah kenapa, tak terlintas pikiran untuk mengajaknya bercakap-cakap. Tiap hari, aku mengamati tiap jengkal dari sosok sederhana itu. Mengamati hoodie apa yang dia pakai minggu itu, sepatu apa diinjaknya, kaus warna apa yang melekat di tubuhnya. Hanya itu.
Aku sendiri heran. Mengapa gadis yang begitu sederhana bisa membuatku begitu tertarik dan penasaran. Mungkin karena dia begitu berbeda dengan sosok gadis-gadis kosmopolitan pada umumnya. Tak ada merk internasional yang melekat di tubuhnya. Ia tak pernah duduk dengan mata terpaku pada seorang laki-laki. Dia juga tak pernah duduk bergerombol dengan gadis-gadis lain atau didampingi pemuda lain. Yang terakhir inilah yang membuat harapanku naik sedikit. Mungkinkah ada sedikit peluang untuk memenangkan hatinya?
Maka, sedikit demi sedikit, aku mengajak gadis itu bercakap-cakap. Dari apa yang telah kami bicarakan, hanya namanya saja yang berhasil kukorek. Inka, mahasiswi seni rupa. Selisih tiga tahun denganku. Hanya itu. Bahkan nama panjang, hobi, dan kesukaannya pun aku tak tahu. Dia begitu tertutup. Inka adalah gadis pertama yang tidak luluh oleh senyumku. Selama tiga bulan berikutnya, aku berusaha membuat Inka bicara lebih banyak padaku. Tapi bibir itu hanya menjawab pertanyaanku ala kadarnya saja. Tak pernah ada jawaban panjang lebar atau pertanyaan untukku yang keluar dari bibir mungil itu. Hanya menjawab. Tak pernah bertanya balik. Selalu begitu.
Tetapi, meski bibir itu tak pernah menyunggingkan senyum. Mata hitamnya selalu menatap mataku lekat-lekat. Lambat laun, aku menyadari satu hal. Di balik tatapannya yang tenang itu, terkubur jutaan ekspresi yang begitu hidup. Pernah aku menceritakan lelucon konyol padanya. Tapi–sekali lagi–ia tak memberikan reaksi yang kuharapkan. Inka hanya tersenyum. Namun sekilas aku menyadari, meski dia tak tertawa, matanya memancarkan keriangan orang yang sedang tertawa. Aku menatap mata yang riang itu sambil tersenyum hangat. Itulah pertama kalinya aku menyadari betapa hidupnya tatapan mata Inka.
Keesokan harinya, aku nekat mengajak Inka ke cinema untuk menonton ‘Inkheart’. Kenapa film itu? Dari sekian banyak percakapan hambar yang kulalui dengannya, aku berhasil tahu kalau Inka sangat menyukai Brendan Frasser. Maka siangnya, aku menghampiri meja nomor empat. Aku berdehem sekali untuk menyingkirkan ganjalan sialan di kerongkonganku sebelum berkata:
“Inka..would you like to go to the cinema with me tonight?”
Kalaupun Inka terkejut dengan ajakanku yang mendadak ini, ia menyembunyikannya dengan sangat baik. Sambil menatap matanya yang indah lurus-lurus, aku menyilangkan jariku di balik punngung. Berharap nasib baik menghampiriku kali ini. Lalu, dengan dada sesak karena kegembiraan aku melihat dia mengangguk pelan dan memberiku senyum lebarnya yang pertama.
“Jam delapan malam kujemput?”
Sekali lagi ia mengangguk. Tuhan.. Kau telah memberiku hal terindah di dunia ini. Kemudian, Inka memberiku secarik kertas. Di situ, tertulis alamat rumah dan nomor handphone-nya dengan tulisan tangannya yang tegas.
“Kalau mau tanya arah, telepon nomor ini aja,” katanya
Dadaku begitu sesak dengan kegembiraan. Nyeri rasanya. Tapi aku tak peduli, meski rasa sesak itu tetap bercokol di dadaku hingga waktu aku menjemput Inka malam itu.
Sementara dia bersiap-siap, aku duduk di ruang tamunya. Rumah itu sederhana, tapi begitu nyaman dan hangat. Seperti Inka sendiri. Sekonyong-konyong aku menyadari, tiap sudut ruangan itu dihiasi gambar sketsa yang terpigura rapi. Aku bangkit dari sofa dan menghampiri pigura yang paling dekat denganku. Aku kaget ketika melihat tanda tangan kecil yang tertera di sudut sketsa bunga itu.
Inka, 290609
Kuamati tiap senti dari sketsa itu. Tak ada satu goresan pun yang terlewat oleh mataku. Padahal itu hanya sebuah sketsa bunga biasa, tapi aku bisa merasakan seluruh jiwa Inka di situ. Hal yang sama kurasakan di sketsa-sketsa yang lain. Aku mengamati tiap sketsa dengan perasaan kagum, sampai akhirnya aku berdiri di depan pigura hitam sederhana. Aku merasakan wajahku memanas ketika meihat sosok di kertas yang ada di balik kaca pigura itu. Seorang laki-laki muda tampan. Tangannya sibuk dengan berbagai peralatan yang biasa digunakan oleh barista. Dengan napas tertahan, aku melihat sketsa diriku. Seperti sketsa-nya yang lain, Inka juga membubuhkan tanda tangan kecil di sudut sketsa diriku. Dan seperti sketsa-nya yang lain, aku dapat merasakan jiwa Inka di situ.
“Maaf kalau jelek ya, Wa..”
Aku menoleh. Inka sudah berdiri di belakangku, entah sejak kapan. Tampak begitu manis dalam balutan cardigan hitam. Aku tersenyum padanya dan menggeleng.
“Kita pergi sekarang?” Tanyaku sambil mengulurkan tangan.
Inka mengangguk dan menyambut tanganku. Sekali lagi dadaku sesak dengan kegembiraan. Kurasakan jemarinya yang lembut dalam genggamanku. Kutatap mata indahnya dan kusadari tatapannya yang begitu tenang dan hangat, serta senyumnya yang begitu mempesona.
***
Enam bulan berlalu sejak pertemuan pertamaku dengan Inka. Genap empat bulan sudah aku berhubungan dengan Inka melalui SMS, Messenger, dan percakapan di cafe. Aku menikmati tiap saat aku bercakap-cakap dengannya. Menikmati setiap kesempatan untuk mendengarkan tawanya, melihatnya tersenyum, memperhatikan gerak bibirnya saat berbicara, dan menatap matanya yang tenang. Tiap hari, di sela-sela waktu kerjaku, aku menyempatkan diri untuk duduk di hadapannya di meja nomor empat.
Pernah kutanyakan pada Inka alasannya selalu duduk di situ. Ia tersenyum sejenak dan berkata dengan nada santai:
“Karena aku bisa melihatmu dengan sudut pandang yang berkualitas.”
Aku tertawa mendengarnya. Inka juga ikut tertawa dengan suaranya yang lembut. Suatu kali ia pernah kutawari untuk duduk di coffee bar, namun ia tak begitu nyaman dengan hal itu.
“Aku bukan peminum kopi, Dewa. Aku tak bisa menikmati uap-nya seperti yang kamu lakukan,” katanya.
Memang. Selama ini Inka tidak pernah memesan kopi. Selalu dilmah tea lemon.
Setahun berlalu. Aku dan Inka makin akrab. Kegembiraan murni di hatiku tak pernah surut. Membuatku tersenyum tulus pada siapa pun. Bahkan pada para pelanggan wanita genit yang kubenci sekali pun. Tapi ada orang yang lebih gembira dari pada aku. Orang itu adalah Arini. Dengan bersemangat ia membantuku memilihkan kado untuk Inka.
“Akhirnya kamu mengijinkan seorang gadis mengisi hatimu, Wa!” Katanya girang.
Aku hanya tertawa kecil melihat reaksinya ketika aku memberitahunya kalau aku jadian dengan Inka. Selama beberapa waktu, aku menyangka kegembiraan ini akan terus bertahan hingga akhir hidupku. Tapi sebuah peristiwa memaksaku bangun dari angan-angan indahku dan menghadapi realita pahit kehidupan.
Semua berawal ketika Inka tiba-tiba absen singgah di cafe. Aku mencoba menghubunginya lewat telepon dan SMS. Tapi hasilnya nihil. Berkali-kali kuperiksa status Messenger-nya, tapi selalu unavailable. Akhirnya aku berusaha meyakinkan diriku bahwa dia hanya sibuk. Tapi keyakinan itu runtuh ketika seminggu berlalu tanpa kehadiran Inka di cafe. Aku memutuskan untuk menyambangi rumahnya. Berharap dia akan menyambutku dengan wajah kusut dan kelelahan. Tapi aku terpaksa menerima kenyataan pahit lain. Rumah kecil itu tertutup rapat. Kutanyai semua warga yang ada di sekitar situ, tapi hasilnya nihil. Dengan hati galau, aku pulang dan kembali melanjutkan usaha sia-siaku untuk menghubunginya.
Dua minggu berlalu. Aku memutuskan untuk kembali menyambangi rumahnya. Hatiku mencelos ketika melihat sejumlah karangan bunga berjejer rapi di halaman rumahnya. Sebutir kristal cair jatuh dari mataku ketika aku membaca nama yang tertera di salah satu karangan bunga itu.
"Inka Devanti Issoetranto"
Nama panjang Inka tertera bersama ungkapan duka cita yang ditujukan padanya. Pada kematiannya.
Bagaikan kesetanan, aku berlari ke bagian dalam rumahnya. Tak kupedulikan seruan marah orang-orang yang kutubruk. Langkah seribuku baru berhenti ketika aku tiba di ruang tamu. Hanya ada lima orang di situ. Keluarga Inka. Namun perhatianku sepenuhnya tersita oleh kehadiran sebuah peti mati sederhana yang terletak di tengah-tengah ruangan. Kuberanikan diriku untuk menghampiri benda itu dan melihat ke dalamnya.
Bahkan dalam genggaman kematian pun, ketenangan itu masih ada. Ketenangan dan kehangatan yang biasa kujumpai dari Inka, masih terpancar dari sosoknya yang terbalut gaun broken-white dan dikellilingi lily putih. Tapi mata indah yang penuh dengan kehidupan itu kini terpejam. Tak lagi memancarkan pesonanya.
“Inka..” panggilku lemah.
Dia tetap terbaring diam. Gadis yang telah menarikku keluar dari duniaku yang menjemukan, kini terbaring mati. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menariknya keluar dari kematian.
“Inka, buka matamu.” Tenggorokanku tercekat menahan tangis
Seorang pria paruh baya menepuk bahuku. Ekspresinya letih dan matanya masih merah. Orang yang akan kupanggil ‘ayah’ di masa depan nanti.
Aku berusaha menyingkirkan pengganjal yang hadir di kerongkonganku. Tanganku terkepal erat. Menahan segala emosi yang siap meledak.
“Apa yang terjadi padanya?” Desisku
“Demam berdarah. Kami terlambat menyadarinya. Ketika Inka dibawa ke rumah sakit, semuanya sudah terlambat,” jawab pria itu dengan suara parau.
Pria itu menatapku dengan pandangan kuyu dan berkata:
“Kau yang bernama Dewa, ya?”
Aku mengangguk kaku.
“Inka tidak ingin kamu tahu tentang apa yang terjadi padanya. Ia tak ingin membuatmu cemas,” kata pria itu dengan suara parau yang sama.
***
Dua minggu telah berlalu semenjak kamu pergi selamanya dari hidupku Inka. Dan inilah aku, berdiri di balik coffee bar. Melamun dengan tangan menganggur. Tak lagi menggerakkan teko, cangkir, gelas takar, dan sendok kopi dengan riang. Tak lagi merobek bungkus dan menyeduh dilmah tea lemon untuk kamu, Inka. Mataku tak pernah meninggalkan meja nomor empat. Meja yang menjadi saksi bisu kebersamaan kita, Inka.
Arini terus menerus berusaha menghiburku. Tapi aku tak pernah bereaksi. Arini yang baik. Tak pernah sekali pun dia meninggalkanku. Inka, apa kamu akan marah kalau aku menanggapi Arini? Apa kamu marah kalau aku membawa sketsa diriku yang kamu buat ke rumahku? Aku telah menggantungkan sketsa itu di dinding kamarku. Karena melalui sketsa itu, aku bisa merasakan jiwamu, Inka. Hanya sketsa itulah yang bisa memberiku kenyamanan. Aku tahu kamu ingin aku melanjutkan hidupku. Tapi aku tak sanggup berdiri di belakang coffee bar cafe ini lagi. Karena pemandangan yang pertama kali kulihat pasti adalah meja favoritmu. Meja nomor empat.
Aku memang pengecut, Inka. Kamu pernah bilang begitu, kan? Meski dulu kamu bilang begitu hanya untuk bercanda, tapi sekarang itu benar. Setahun kemudian, aku pindah ke Italia. Aku tak sanggup menghadapi kenangan akan keberadaanmu di meja itu, Inka. Aku bekerja di cafe kecil di pinggiran kota. Tak ada meja bernomor empat. Hanya dua meja kecil ditempat ini dan coffee bar berbau uap kopi yang panjang. Tapi Inka, aku tak melupakanmu. Sketsa itu masih tergantung di dinding flat-ku. Tak tersentuh debu. Sketsa itu akan selalu memberiku kenyamanan dan ingatan tentang seorang gadis sederhana yang telah memberiku ketenangan melalui mata hitamnya yang gemilang. Seorang gadis bernama Inka.
November 15, 2009
Palsu yang Nyata di Planet Kami

Malam ini kami berpetualang lintas galaksi menuju dimensi selain bimasakti. Kami bosan disini, terlalu banyak rumusan empiris dalam berperilaku, atau mungkin juga karena di nyata dunia kami mulai bosan dengan satu identitas saja..
Perjalanan pun kami mulai dengan mengitari bumi pada porosnya sebanyaak 13 kali lalu meluncur menuju wormhole dengan kecepatan 666jt kbps. Di sekejap menit di dalam wormhole kami rasakan sensasi tropis ayahuasca dan LSD yang racuni sadar akan kenyataan busuknya nyata. Di dalam roket magenta bergaris cyan berpucuk kuning, kami melintasi berbagai macam planet berbentuk prisma dan berwarna pelangi. Tak kasat mata kami serasa melihat jutaan metriks bertumpuk menjadi satu sebagai unsur pembentuknya.
Sekian basa-basinya!
Akhirnya (setelah kami mulai cukup sadar tuk mengingat nama kami masing-masing) mendaratlah roket kami di sebuah planet berbentuk oval dengan benjolan di sekelilingnya. Berada pada titik koordinat 202.255.255.001, planet berwarna maroon itu terlihat menggugah selera. Di lapisan litosfernya terdapat pigura metal sambut kedatangan para pengunjung dengan tulisan bold yang isinya"Selamat Datang di Planet MultiEgo". Lalu ada subtitle di bawahnya yang berisikan Terms of Conditions yang salah satunya berisikan kalimat "Silahkan daftar dan ucapkan kata sandi anda untuk kemudian kami verifikasi". Kami pun masuk tanpa sungkan. Bahkan kami tak perlu menyebutkan identitas asli kami, ahoiii.. indahnya planet ini.
Udaranya lembab, tanda hadirnya oksigen. Datarannya di isi hamparan kerikil, tapi entah knapa semua itu tak terasa tajam sentuh tapak kumal kaki kami. Para penghuni planetnya.. Dang... ahhh.. apa pula ini... mereka tampak bersahabat, tapi ahh... Mereka tampak seperti manusia pada umumnya. Hanya saja, mereka punya beberapa kepala! Iya tak cuma satu, bahkan ada yang memiliki 9 kepala sekaligus diatas satu badan yang tampak normal. Salah satunya yang baru saja lewat memberi ucapan selamat datang kepada kami (bahasanya aneh, tapi entah kenapa kami mengerti). Dia punya 3 jenis kepala. Kepala yang sebelah kiri tampilannya tampak menyakinkan tanpa cacat, ketampanan sempurna hasil jejak operasi digital sehingga terlihat layaknya para keturunan Arjuna atau Mr.Timberlake, kepala yang sebelah kiri adalah sisi kebalikannya, terlihat kepala yang kumal, rahang keras, rambut gimbal, dan brewok tak terurus, berpembawaaan santai, ahh.. seniman sekali , sangat oio ! Lalu kepala yang ada di tengah, terlihat sosok kepala yang dari wajahnya terbias semburat pintar dan amat teramat bijaksana jika dilihat dari tatap mata dewasa serta terasa kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar amat teramat bijaksana. Hmm... Dan ketiga kepala ini hanya disangga oleh satu tubuh ringkih, tak bersemangat, kontras dengan berbagai jenis kepala yang ia miliki. Kami tak mau berlama-lama berlisoy-lisoy ria disini.
Planet yang aneh rupa fisiknya, tapi penuh warna. Planet yang penuh duplikasi, tapi cukup menyenangkan bermain di dalamnya. Planet yang banyak palsu, hanya sekian persen nyata yang tampak nyata apa adanya. Ahh.. kami rindu planet kami, planet yang dimana kami bisa menapak pasti, planet yang walau di nyatanya banyak palsu didalamnya tapi senangsedihgembiraduka siapapun bisa tergurat walau sedikit di wajahnya. Iya, setidaknya kami bisa melihat palsu yang nyata di planet kami. Ahh... kami hanya ingin bermain di planet ini, kami mau pulang, mungkin nanti/secepatnya kami bermain kembali disini saat ingin kembali bermain warna. Dan mudah-mudahan kepala kami tetap satu saat kembali tapakkan kami di planet maroon berkerikil ini.
October 17, 2009
Kebebasan dan Indonesia. Penuh Tanda Tanya.
Seorang teman pernah bercerita tentang seorang kenalannya yang berkewarganegaraan Singapura. Kabarnya ia lebih memilih tinggal di Indonesia ketimbang di negaranya. Kenapa? Bukankah di sana segala sesuatu serba tersedia. Masyarakatnya jauh lebih terpelajar. Kemudahan hidup dengan berbagai penunjang teknologi tingkat tinggi bisa ditemui dimana-mana. Pelayanan terhadap masyarakat pun jauh lebih berkualitas.
Ia hanya menjawab, karena di Indonesia saya bisa bebas melakukan apa saja. Tanpa adanya berbagai macam larangan yang berkaitan dengan disiplin hidup, dan tentunya tanpa semua denda berlipat yang mengikutinya.
Mendengar cerita ini muncul sebuah kegelian sekaligus keprihatinan. Bagaimanapun juga menjadi sebuah hal yang ironis, ada seseorang yang lebih “cinta” negara lain dengan alasan yang justru membuat negaranya memiliki kelebihan dibanding negara lain. Berbeda dengan alasan pemungutan pajak yang lebih rendah misalnya, yang mungkin relatif bisa diterima.
Keprihatinan yang muncul tentunya apabila kita mencoba merefleksikan alasan kebebasan hidup yang ia kemukakan dengan kondisi faktual di negara kita. Tanpa berusaha mengaitkannya dengan era reformasi, memang harus gue akui di negara ini kita benar-benar bisa hidup dengan “bebas” dalam arti yang sebebas-bebasnya.
Bukan pemandangan yang luar biasa apabila ada sebuah mobil mewah melintas di depan kita lalu menerbangkan “sesuatu” dari jendelanya yang sedikit terbuka ke jalan raya. Sesuatu itu bisa bermacam-macam. Bisa kulit rambutan, kulit duku, kertas tissue, puntung rokok, sampai gelas air mineral. Sebuah hal yang luar biasa apabila pemilik mobil mewah itu ternyata tidak terpelajar. Terlepas dari masalah kualitas otak, tampaknya bangsa Indonesia memang sudah sepakat menjadikan berpuluh ribu pulau wilayah kedaulatan bangsa sebagai tempat sampah terbesar di dunia. Silakan buang sampah di tempat yang anda suka.
Gue juga jadi ingat pemandangan beberapa minggu yang lalu. Ada seorang tukang ojek yang dengan santainya (maaf) pipis di peruntukan lahan hijau sekeliling rumah kost-an tempat gue tinggal. Tempat pipisnya pun tidak jauh dari pertigaan yang padat oleh lalu lintas. Padahal ia bisa memacu motornya sebentar ke pom bensinl atau masjid terdekat untuk mencari WC umum.
Sambil agak geli, sempat tergambar raut wajah bokap jaman gue SMP dulu saat di suatu pagi sambil bersungut-sungut ia mencoba membersihkan dan menghilangkan bau pesing pipis manusia yang menyengat di pagar depan rumah. Kebetulan rumah gue saat itu terletak berdekatan dengan tempat mangkal angkot yang selalu dipenuhi penumpang setiap malam.
Tampaknya ada lagi sebuah kesepakatan di antara warga bangsa. Indonesia juga adalah WC umum terbesar di dunia. Kebelet pipis? Take your spot anywhere. Sebuah pelayanan masyarakat tingkat tinggi yang sangat menjunjung tinggi kebebasan asasi manusia untuk pipis. Gue yakin BAB sudah tercakup di dalamnya.
Selama kurang lebih setahun tinggal di dekat perempatan padat lalu lintas gue juga cukup mengamati bagaimana kecenderungan perilaku para pengendara. Yang paling gue ambil pelajaran adalah kapan waktu terbaik anda menyeberang jalan di perempatan. Secara normatif, ada korelasi yang cukup erat antara lampu merah dengan laju kendaraan. Lampu merah menyala, kendaraan berhenti, anda bisa menyeberang dengan tenang. Bahkan tanpa harus toleh kiri-kanan.
Faktanya tidak. Lampu merah menyala ternyata tidak lantas membuat orang menghentikan atau memperlambat laju kendaraan. Hampir di setiap saat lampu merah menyala banyak kendaraan justru berebut menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk secepatnya mencapai ruas jalan berikutnya. Alih-alih memperlambat dan kemudian menghentikan laju kendaraan, lampu merah menyala ternyata justru menjadi kode bagi mereka untuk menginjak gas kencang-kencang.
Hanya ada satu pilihan bagi para penyeberang. Benar-benar melihat sendiri dan memastikan bahwa semua kendaraan sudah berhenti di depan mata sebelum menyeberang. Itupun belum menjamin keamanan. Karena acapkali sebagian kendaraan yang ”belok kiri boleh langsung” melakukannya tanpa menyalakan lampu sen.
Terkadang gue membayangkan diri menjadi seorang Clark Kent dan bisa bebas menyeberang tanpa harus melakukan itu semua. Kalau kendaraan mereka ringsek menabrak gue toh bukan gue yang salah. Gue tinggal terbang ke perempatan lain buat iseng-iseng melakukan hal yang sama. Sayang gue bukan Clark Kent. Hmmm.
Sebelum berlarut-larut dengan berbagai contoh yang lain, satu hal yang harus digarisbawahi. Mereka melakukannya dengan bebas tanpa konsekuensi apapun. Keliatannya konsekuensi baru muncul apabila ada nyawa yang melayang di perempatan. Atau ada pejabat pemerintah yang terganggu karena rumahnya bau pesing. Atau anggota DPR yang merasa pusing dengan bau sampah yang menyengat di lingkungannya.
Jadi apa kesimpulannya. Kalau anda adalah seorang opportunis, silakan nikmati “kebebasan” yang anda peroleh di negara ini. Tetapi kalau anda seorang idealis, tampaknya anda harus sering-sering melakukan terapi anger management.
Ia hanya menjawab, karena di Indonesia saya bisa bebas melakukan apa saja. Tanpa adanya berbagai macam larangan yang berkaitan dengan disiplin hidup, dan tentunya tanpa semua denda berlipat yang mengikutinya.
Mendengar cerita ini muncul sebuah kegelian sekaligus keprihatinan. Bagaimanapun juga menjadi sebuah hal yang ironis, ada seseorang yang lebih “cinta” negara lain dengan alasan yang justru membuat negaranya memiliki kelebihan dibanding negara lain. Berbeda dengan alasan pemungutan pajak yang lebih rendah misalnya, yang mungkin relatif bisa diterima.
Keprihatinan yang muncul tentunya apabila kita mencoba merefleksikan alasan kebebasan hidup yang ia kemukakan dengan kondisi faktual di negara kita. Tanpa berusaha mengaitkannya dengan era reformasi, memang harus gue akui di negara ini kita benar-benar bisa hidup dengan “bebas” dalam arti yang sebebas-bebasnya.
Bukan pemandangan yang luar biasa apabila ada sebuah mobil mewah melintas di depan kita lalu menerbangkan “sesuatu” dari jendelanya yang sedikit terbuka ke jalan raya. Sesuatu itu bisa bermacam-macam. Bisa kulit rambutan, kulit duku, kertas tissue, puntung rokok, sampai gelas air mineral. Sebuah hal yang luar biasa apabila pemilik mobil mewah itu ternyata tidak terpelajar. Terlepas dari masalah kualitas otak, tampaknya bangsa Indonesia memang sudah sepakat menjadikan berpuluh ribu pulau wilayah kedaulatan bangsa sebagai tempat sampah terbesar di dunia. Silakan buang sampah di tempat yang anda suka.
Gue juga jadi ingat pemandangan beberapa minggu yang lalu. Ada seorang tukang ojek yang dengan santainya (maaf) pipis di peruntukan lahan hijau sekeliling rumah kost-an tempat gue tinggal. Tempat pipisnya pun tidak jauh dari pertigaan yang padat oleh lalu lintas. Padahal ia bisa memacu motornya sebentar ke pom bensinl atau masjid terdekat untuk mencari WC umum.
Sambil agak geli, sempat tergambar raut wajah bokap jaman gue SMP dulu saat di suatu pagi sambil bersungut-sungut ia mencoba membersihkan dan menghilangkan bau pesing pipis manusia yang menyengat di pagar depan rumah. Kebetulan rumah gue saat itu terletak berdekatan dengan tempat mangkal angkot yang selalu dipenuhi penumpang setiap malam.
Tampaknya ada lagi sebuah kesepakatan di antara warga bangsa. Indonesia juga adalah WC umum terbesar di dunia. Kebelet pipis? Take your spot anywhere. Sebuah pelayanan masyarakat tingkat tinggi yang sangat menjunjung tinggi kebebasan asasi manusia untuk pipis. Gue yakin BAB sudah tercakup di dalamnya.
Selama kurang lebih setahun tinggal di dekat perempatan padat lalu lintas gue juga cukup mengamati bagaimana kecenderungan perilaku para pengendara. Yang paling gue ambil pelajaran adalah kapan waktu terbaik anda menyeberang jalan di perempatan. Secara normatif, ada korelasi yang cukup erat antara lampu merah dengan laju kendaraan. Lampu merah menyala, kendaraan berhenti, anda bisa menyeberang dengan tenang. Bahkan tanpa harus toleh kiri-kanan.
Faktanya tidak. Lampu merah menyala ternyata tidak lantas membuat orang menghentikan atau memperlambat laju kendaraan. Hampir di setiap saat lampu merah menyala banyak kendaraan justru berebut menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk secepatnya mencapai ruas jalan berikutnya. Alih-alih memperlambat dan kemudian menghentikan laju kendaraan, lampu merah menyala ternyata justru menjadi kode bagi mereka untuk menginjak gas kencang-kencang.
Hanya ada satu pilihan bagi para penyeberang. Benar-benar melihat sendiri dan memastikan bahwa semua kendaraan sudah berhenti di depan mata sebelum menyeberang. Itupun belum menjamin keamanan. Karena acapkali sebagian kendaraan yang ”belok kiri boleh langsung” melakukannya tanpa menyalakan lampu sen.
Terkadang gue membayangkan diri menjadi seorang Clark Kent dan bisa bebas menyeberang tanpa harus melakukan itu semua. Kalau kendaraan mereka ringsek menabrak gue toh bukan gue yang salah. Gue tinggal terbang ke perempatan lain buat iseng-iseng melakukan hal yang sama. Sayang gue bukan Clark Kent. Hmmm.
Sebelum berlarut-larut dengan berbagai contoh yang lain, satu hal yang harus digarisbawahi. Mereka melakukannya dengan bebas tanpa konsekuensi apapun. Keliatannya konsekuensi baru muncul apabila ada nyawa yang melayang di perempatan. Atau ada pejabat pemerintah yang terganggu karena rumahnya bau pesing. Atau anggota DPR yang merasa pusing dengan bau sampah yang menyengat di lingkungannya.
Jadi apa kesimpulannya. Kalau anda adalah seorang opportunis, silakan nikmati “kebebasan” yang anda peroleh di negara ini. Tetapi kalau anda seorang idealis, tampaknya anda harus sering-sering melakukan terapi anger management.
September 2, 2009
Erdbeben
De, gempa lumayan gede,
tadi papah lagi duduk depan komputer
goncangan rumah terasa banget,
komputer goyang,
trus papah keluar rumah, bahkan pintu pagar kita goyang sampai berisik..
dan papa bisa liat pekarangan rumah kita bergerak,
pohon jambu kelihatan naik turun 2 cm
Pak Warung depan teriak Allahu Akbar .......
berita dari Papa, yang bikin gue merinding seketika, Ya Allah terimakasih Kau masih menyelamatkan keluargaku ...
Subscribe to:
Posts (Atom)





