Showing posts with label writing. Show all posts
Showing posts with label writing. Show all posts

April 1, 2014

Forever Before It's Gone













Tuesday has become my most-awaited day of the week for it's my seeing-florist-kind-of day! It is listed in my 2014 resolution that I want to help much more flowers fulfilling their life purpose and it has became a routine for me ever since. You know, some people might say something like 'if you really love a flower, don't pick it up or it will die'. I'm not saying that I am against it but on the contrary to popular belief, I'd do the other way around. I'd say it is okay to pick flowers as long as you appreciate the way they should be appreciated. 

Flower grows, flower blooms, flower, like every single living thing in the universe, eventually dies. And this makes me think that before it dies, why don't I let it fulfills one of its life purposes, adding beauty to its surrounding, bringing a touch of happiness for the eyes that will see them. 

Again, I believe that it is okay to pick flowers, put them nicely in a vase on the table, let them decorate your room, your wall, your house, let them decorate your soul. While some flowers are meant to bring another life unto this world, some, are meant to be happiness bringer. And it's not just for the feast of the eyes. It is way more than that. 

Thus, you can find me every Tuesday morning strolling around the tiny flower shop two blocks away from my office, having conversation with the florist and sometimes the delivery guy, and if I'm really really lucky I could get much more second hand flowers as a bonus. I don't mind though, they're still pretty and it makes me happy to see them bloom for once again in their life. 

If making or seeing another people happy makes you happy, then I believe those flowers feel the same way too, the happiness from letting people happy just to see them. 




March 25, 2014

Across The Universe




"We are all made of stardust."  a poetic yet factual sentence that tells the truth. Every element on earth, was created in the heart of some massive stars. Thus makes us, too, a star in each our own wellbeing, alive and breathing. 

I have to admit that I haven't been doing very well lately, yet I managed to survive and that makes me even stronger. I realize that despite the fear and the bruises of life, one has to keep on fighting for one's dream. And one has to understand that being brave is not the absence of fear, but rather the strength to keep on going forward despite the fear. 

I, just like any other, have fears. Aren't we all? Fear of sadness, fear of being forgotten, fear of death, fear of loss. I have fears, to the point that they brought me down before they pushed me back to the surface. 

Things I learned from that experience are to never let my fears control me, to never let them taking over my universe, to never let them decide what kind of life I should live. We decide our own happiness. When we really want something in purpose of happiness and the balance of life, say it, feel it, and let universe makes it happen. It will, surely, happen. Let universe works, let it conspires, let it be, like how it should be. 

Let me tell you a secret: the universe we're living in, is much more amazing than what you think it is :)

words are flowing out like endless rain into a paper cup // they slither wildly as they slip away across the universe~

se / mes / ta
to listen to: jai guru deva 

August 26, 2013

Before The Coffee is Over

She sat by the big window on the first floor of an unpopular quite fine coffee shop and bakery between a famous Dutch restaurant and a Japanese supplies center. This is their favorite place; this is where they met for the first time, last year. The girl is always punctual, thirty minutes before the agreed upon time. And he is always late, two hours, at least. She expected him to be late, but he got there early; just right after she seated. No one spoke until the waiter came.

He smiled and said, "What do you like to drink?" 

"Same as yours." she replied, motionlessly.

"You sure? Hot?" he asked her back, raised his eyebrow. She nodded.

"It's okay. I learned to drink it hot already."

"We’ll just have one hot black coffee and the iced one for her. Thank you." he ordered her favorite nevertheless.

The waiter left and until he came back with their orders, nobody still speaks. The guy sighed and started drinking, the girl just peek through the window.

"Don’t you like it? It’s our favorite. Remember the first night we met here? You have drank like two glasses of this coffee!" he tried so hard to give out a little laugh. The girl sat still. He pretend to be really consuming the coffee while observing through the corner of his eyes.

"You know what I love about this place? The coffee tastes consistent and the ambiance feels really great and relaxing. You know what I think I should inquire for a franchise of this coffee shop. Clara knows well in business and she-"

She interrupted, in her lowest tone. "I’m sorry. I’m sorry we have to end up this way, pretending as if it’s nothing. You don’t have to tell me how good she is in business or whatsoever. I knew it. I should know, that is why you’re always late for the past eight months. This coffee break is just for formality. Thank you for the treat. Have a good night."


The girl left without looking back. 






May 28, 2010

Lelaki Sendok Karat

Laki-laki muda itu merapatkan telinganya pada dinding. Penasaran. Tenggelam dalam hasrat ingin tahunya. Tembok dingin itu nampaknya mengeluarkan suara. Walaupun samar, ia sangat yakin kalau ada sesuatu di balik dinding kamar kontrakannya itu. Sesuatu yang menggerakkan imajinya untuk terus mendengar lebih dalam lagi. Ia semakin merapatkan telinganya pada dinding kamar yang berukuran tidak lebih dari 9 meter persegi itu.
“Suara gemerincing. Ya, aku mendengarnya. Suara apakah itu ?” batinnya.
Kemudian ia memindai seluruh ruangan, mencari apa saja yang dapat membantunya untuk mengeluarkan apapun yang ada di balik tembok dingin bercat putih itu.
“Ah, ini mungkin bias membantu!” ujarnya sambil menghampiri sesuatu di atas meja kecil di pojok kamar.
Diambilnya sendok makan logam yang biasa digunakannya untuk makan nasi bungkus. Bersemangat, ia mengacung-acungakan sendok makan itu dan mulai menggaruk dinding sedikit demi sedikit. Lama ia menggaruk, keringatnya mulai bercucuran, mengalir dari atas dahi hingga ujung kaki. Membasahi kaus katun abu-abunya yang sudah terlihat usang. Namun peluh dan keringat sebanyak apapun tidak repot-repot menggubris konsentrasinya. Mata dan hatinya sudah tertuju pada gemerincing dibalik dinding itu. Sesekali dia berhenti menggaruk dan kembali menempelkan telinganya pada dinding, kalau-kalau suara itu hilang dan pekerjaan menggaruknya menjadi sia-sia. Tetapi, suara gemerincing itu semakin keras memukul gendang telinganya. Ia semakin yakin kalau ada sesuatu di balik dinding.
Ia menyeka keringatnya dan melihat dengan puas hasil pekerjaannya. Sudah ada lubang sebesar dua senti pada dinding. Dengan telunjuknya ia meraba hasil pekerjaannya, sensor motoriknya dapat merasakan kasarnya permukaan bata dan semen pada lubang hasil karyanya. Tetapi, lubang itu belum terbuka seluruhnya, benda gemerincing itu juga belum muncul. Belum selesai, pikirnya.
Mengganti peluh yang terbuang dari tubuhnya, ia menenggak air dari teko yang ada di atas meja yang sama dengan tempat diletakkannya sendok logam itu. Kembali ia memandangi lubang pada dinding kamarnya. Ia hampir tak peduli kalau itu bukan kamarnya sendiri. Ia hanya peduli dengan suara gemerincing di balik temboknya. Menurutnya, jika ibu galak pemilik kontrakan ngamuk melihat tembok kamar kontrakannya yang berlubang, itu urusan belakangan, asal benda gemerincing itu bisa ditemukan.
Makin lama ia menggaruk, makin keras terdengar suara gemerincing itu. Begitulah, makin semangat pula ia menggerakkan sendoknya menggerus semen dan batu bata. Mungkin memang awalnya sulit untuk menggerus tembok bata, tetapi kini dengan bulatan tekadnya, semua itu jadi terasa lebih mudah untuknya.
“Klang !”
Akhirnya, sungguh tak dapat dipercaya, sesuatu terjatuh bergemerincing menuju lantai dari dalam lubang. Matanya buas mencari benda bergemerincing itu dan jantungnya berdebar keras saat ia menyentuh benda itu. Sesuatu itu sungguh berkilauan dan menyilaukan. Dia mengamati benda itu dengan cermat dan akhirnya berkesimpulan, itu adalah sekeping koin emas!
Begitu girang ia menimang koin emasnya. Itulah tiketnya untuk meninggalkan kemiskinan selama-lamanya. Diciuminya koin emas itu dan kemudian kembali menatap lubang pada tembok bata lapuk itu. Pasti masih banyak benda seperti ini dibalik tembok itu, begitu pikirnya. Begitulah, akhirnya dia kembali menggaruk tembok dengan sendoknya, dan seperti perkiraannya, makin banyak koin emas bergemerincing jatuh di lantai.
***
“Dia pasien baru ya?” tanya seorang dokter wanita paruh baya berjas putih pada perawat di depannya. Perawat itu hanya menjawab dengan singkat dan memberikan map berisi keterangan pasien dan kertas-kertas penting lainnya.
Dokter itu membuka map yang dipegangnya dan mempelajari keadaan orang yang berada di hadapannya. Sesekali dia mendongakkan kepalanya untuk mencocokkan keadaan pasien dengan hasil analisa pada kertas. Dokter itu memandang dingin pada pasien di depannya yang sedang menggaruk dinding dengan sendok karatan sambil sesekali menempelkan telinganya pada tembok yang dingin. Sang dokter hanya menghela nafas dan menutup mapnya, menyesalkan penderitaan hidup yang dihadapi pasien di depannya, kemudian berlalu meninggalkan pasien baru itu dengan sendok karatannya.
***
Ia pulang dari bekerja, kelelahan dan perut keroncongan, menuju kamar kontrakannya yang sempit, pengap dan bau. Setiap hari, setiap kali dia pulang dari bekerja di pabrik, selalu begitu keadaannya. Kelelahan dan perut keroncongan. Tetapi, gajinya tak pernah naik. Sebaliknya, harga kebutuhan pokok terus naik. Ia semakin tercekik, semakin putus asa.
Laki-laki itu merebahkan diri di atas kasur, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan putus asa. Ia mencoba memejamkan matanya, mencoba melupakan seluruh masalah ekonomi yang menghimpit dirinya. Saat itulah, samar-samar dia mendengar sesuatu dari balik tembok. Sesuatu yang bergemerincing. Sesuatu yang menggiurkan. Kemudian, ia merapatkan telinganya pada dinding.


December 3, 2009

Mereka Yang Paling Setia

Bagaimana bisa aku tidak mencintai batangan-batangan nikotin kalau hanya merekalah teman paling setia di dunia ini, yang menemaniku saat sedih, senang, tertawa, menangis, bernyanyi, berdansa, berteriak, marah, bahkan putus asa. Menemaniku sebelum makan, saat makan, sesudah makan, sebelum menutup mata mengakhiri hari bahkan kembali membuka mata mengawali hari. Dengan setia menemaniku di atas kloset tanpa cerewet, diam ikut merenung bahkan turut menyumbang inspirasi tersembunyi dalam bilik sepi. 
Adakah yang lebih setia dari itu?

Bagaimana bisa aku menyangkal rasa setia mereka dan tidak turut berpartisipasi dalam mentolerasi kesetiaan bersama, kalau hanya mereka saja yang tak pernah mengeluh dengan segala ketidakteraturanku dalam hidup dan menjadi saksi bisu setiap detil rasaku, yang bahkan tak pernah ada yang tahu persis seperti apa yang mereka tahu. Batangan putih yang silih berganti dihisap, hilang tenggelam dalam asap, tak pernah sedikitpun marah dan terluka saat dijadikan pelarian tumpahan kekecewaan namun kemudian rela ditinggalkan dengan sia-sia dalam asbak, bergumul dalam sampah, dan dibuang entah kemana.

Malam ini, batangan putih itu juga yang menjadi saksi di saat semua sahabat lari, hilang, pergi, meninggalkan aku sebatang kara dengan segala permasalahan pribadi yang mereka bilang aku yang mulai sendiri. Di kamar aku membodoh. Dengan underwear berwarna merah darah, dengan tanktop berwarna hitam, gelap, pekat, suram, sesuram hatiku. Menatap cermin besar tertantang di dinding sisi kiri tempat tidurku. Duduk dengan kaki bertopang. Sikap menantang. Aku mencumbu batangan itu dengan penuh haru, seakan ingin menumpahkan unek-unekku, segala dukaku, kecewaku, kekesalanku, amarahku, lukaku, juga kebodohanku. Batangan nikotin menemaniku. Mereka setia di sini. Berusaha menambal luka hatiku dengan menyetubuhi paru-paru pemberi energi penenang, yang entah bagaimana prosesnya memang membuat tenang. Mereka menemaniku menari bersama iringan musik Kitaro-Matsuri. Dentangan kakiku mengikuti genderang instrumen Jepang. Rambutku tersibak. Kakiku menghentak. Tubuhku hanyut dalam instrumen. Dalam asap. Dalam parau hatiku yang meringis. Dalam tangis yang tak ingin aku akui. Dalam musik yang membuatku menari. Menari dalam sepi. Menari untuk lari. Bersama nikotinku.

Jangan salahkan aku, kalau Mama, Papa, calon suami, sahabat -sahabat baik, teman sekedar teman hingga selingkuhan mengatakan aku merokok seperti kereta api uap, mengepul, pul, pul, pul…, tanpa henti. Kamu sudah tahu alasannya, kan? Memang nikotin bangsat yang tak pernah protes kukata-katai bangsat ini sudah menjadi bagian oksigen laknat yang menjadi udara penyokong kehidupanku mengisi ruang paru. Mereka juga entah bagaimana menjadi sumber tenaga ketika aku lupa makan, bahkan memang terkadang aku tak butuh makan, cukup mereka saja.

Sekarang, katakan! Adakah sesuatu yang lebih setia dari pada itu di dunia penuh kepalsuan, perselingkuhan dan pengkhianatan seperti ini? Tidak. Adakah yang lebih bisa mengerti perasaanku dalam sepi, frustasi, atau bahagia melambung tinggi dari pada para batangan nikotin tersebut? Tidak. Bahkan ibu kandungku sendiri tidak bisa mengerti bagaimana perasaanku ketika aku menyepi dalam ruang kamarku sendiri, ditemani makhluk setia yang tak mengerti berbahasa. Ibuku hanya kecewa dalam tumpahan rasa lewat ucap yang seakan penuh logika yang tak ingin kupercaya, tak ingin kudengar dan menyudutkanku seakan menjadi anak durhaka. Ah!

Aku tanya lagi, apa seorang calon suami setia bisa mengerti betapa kecewanya aku saat setiap saat harus berhadapan dengan sikap hambar dan punggung bisu yang membelakangiku saat aku di sampingnya? Tidak. Dia sudah tertidur saat aku diam sendiri, mengumpat, dan memaki dalam hati sambil meringis iba membutuhkan dekapan hangat yang kuat. Lagi, cuma mereka, para nikotinku, cinta sejatiku, yang tahu bahwa aku wanita yang juga butuh belaian sayang, genggaman tangan erat, pelukan kuat walau tak ingin sejauh itu berharap sesi bercinta yang dahsyat dengan orang yang belum tentu tepat, belum tentu terikat kontrak lahir batin denganku atas nama sah, suami.

Ini lagi yang perlu kamu tahu, nikotin-nikotinku tak pernah mengatakan aku munafik hanya karena aku butuh belaian seorang calon suami, berbaring hangat di sisinya dalam sebuah dekapan dengan iringan piano Jim Brickman tanpa menginginkan sesi bercinta. Nikotin-nikotinku tahu bahwa aku seranjang dengan calon suamiku, bahkan tidur dengannya. Tapi, nikotin-nikotinku juga tahu bahwa aku dan calon suamiku tidur sesungguhnya tidur. Bahkan tidurnya calon suamiku benar-benar tidur. Tidurnya meniduri kasur dengan membalikkan punggung, memamerkan kulit indah tanpa atasan yang tak bercela, licin, mulus, tak berjerawat, dan sangat terawat. Nikotin-nikotinku sungguh tahu bahwa aku sangat terluka. Entahlah, apa mungkin ini perasaanku yang tak mau tau saja karena bisa jadi calon suami terkasih menghindari berjuta rasa yang tak mampu ditahan oleh syarafnya saat aku tidur di sisinya dengan tanktop tipis sehingga ia menjustifikasi untuk berbalik dan memberiku punggungnya saja? Tapi, bangsat! Itu jahanam penghancur perasaan. Aku seakan seonggok kotoran tak berharga. Nikotin-nikotinku sungguh mengerti, bahwa aku butuh tangannya saja memelukku kuat dalam dadanya yang hangat. Hanya pelukan. Aku hanya butuh pelukan, itu saja. Karena nikotin-nikotinku cukup tahu bahwa aku tak sebegitu butuh bercinta dengan manusia. Nikotin-nikotinku mengerti, bahwa saat ini, aku cukup puas bercinta dengan mereka saja.

Dan, lagi, ketika frustasi ini seakan membuatku mulai gila. Para sahabat tak ada. Mungkin sebagian dari mereka yang tahu hanya mengiba, dan sebagian yang tak tahu sedang asyik tertawa-tawa. Entah dengan siapa. Entah dengan pacar mereka atau teman sekedar teman yang tak mau mereka akui selingkuhan. Dan, apa sahabat-sahabat manusiaku disini? Malam ini? Tidak. Apa sahabat-sahabat manusiaku bisa selalu ada di dekatku setiap saat setiap waktu? Ketika frustasi menghantui atas tekanan, rasa marah hingga kecewa pada hal-hal yang terjadi denganku setiap saat? Tidak. Seperti malam ini, saat hujan di luar turun merintikki bumi, saat secangkir kopi panas mendifusi kehangatan kesekujur tubuh, para sahabat mungkin tengah sibuk bersembunyi di balik selimut mereka masing-masing, sendiri, atau bersama pasangan mereka, bercinta, mencinta, dicinta. Taik! Mereka bahkan tidak setiap saat selalu tahu kapanpun ‘bangsatnya’ perasaanku berantakan tiba-tiba. Saat seperti malam ini, ketika aku meratapi diri atas kebodohanku sendiri memanipulatif hubungan disfungsi dengan seseorang yang lebih dikenal dengan sebutan trend ’selingkuhan’ di jaman-jaman belakangan. Konflik hati ini tak mungkin pernah dimengerti oleh para sahabat yang terus menerus menyudutkanku dengan rong-rongan perasaan bersalah mengkhianati seorang calon suami setia yang telah menyediakan rumah indah. Dan, lagi, hanya nikotin yang mengerti.

Dalam setarik nafas saja, membaur dalam paru-paru, mereka sudah tahu kenapa aku seperti itu. Kenapa aku memilih menjalani sesuatu yang mempertaruhkan hubunganku yang sangat stabil dengan calon suamiku tercinta yang tak pernah bermasalah. Setidaknya tak pernah bermasalah baginya, tapi bagiku. Mereka, para nikotinku tahu, bahwa aku jenuh. Bukan jenuh karena memaksakan cintaku. Tapi, jenuh karena degradasi perasaan yang tak pernah di update seperti Antivir yang mungkin rutin sebulan sekali memperbaiki diri. Ketika aku mendominasi hubungan dan saat harus selalu menjadi si pembuka cerita hingga si pengurut kaki yang terlalu banyak bicara, aku mulai merasa aku bercakap terlalu banyak, untuk diriku sendiri dan tidak begitu ditanggapi. Tidak ada respons yang jangankan bisa di cerna di terima pun tak ada. Oh, bagaimana bisa dikatakan timbal balik hubungan, ketika hanya aku, lagi, yang begitu dominan, padahal aku perempuan.

Dan, nikotinku tahu. Aku begitu butuh pengakuan perempuan dalam posisi ini. Pernyataan seorang ‘perempuan’ yang selalu kuhindar karena konotasi sempit, tapi kucari malam ini. Aku sebagai perempuan. Perempuan yang juga sesekali ingin disentuh ketika aku ingin disentuh. Perempuan yang sesekali ingin merasakan rasa sayang ketika aku ingin merasa disayang. Perempuan yang butuh timbal balik rasa lewat canda ketika aku butuh merasa dicanda. Calon suamiku tak tahu. Atau aku rasa ia malas untuk tahu. Pecundangnya aku. Hanya nikotinku saja yang mengerti itu. Sebatang benda berwarna putih penghasil asap pengkerat paru. Nistanya aku.

Hanya mereka yang tahu bahwa aku perempuan yang banyak bicara, hanya pada orang yang bisa diajak bicara. Aku perempuan yang bisa dekat hanya pada mereka yang bisa kudekat. Aku perempuan yang bercerita hanya pada mereka yang bisa kuajak bercerita. Dan, aku perempuan yang memberi hangat pada mereka yang bisa kuberi hangat. Lantas mereka juga tidak mengata-ngatai aku seorang munafik, lagi, seperti para sahabat. Karena aku mengenal, berteman, teman lebih dari sekedar teman dengan seorang teman yang lebih dari sekedar teman yang teman. Nikotinku tahu, bahwa dia memiliku sesuatu yang aku butuh. Tapi, terkadang apa yang aku butuh dan ia butuhkan itu menakutkanku. Nikotinku tahu, aku tak berselingkuh, seperti kata para sahabat. Nikotinku tahu bahwa aku tahu dimana aku harus bernyanyi dengan laguku, menari dengan musikku. Dan, mereka tahu persis bahwa ini juga musik lain yang aku dengarkan, aku resapi, aku jalankan, membuatku menari dalam satu waktu sesaat, seperti Kitaro yang berlanjut menjadi S.E.N.S, Clanad, Indra Lesmana, Ryuichi Sakamoto, hingga Kenny G.

Adakah lagi yang bisa lebih setia dari itu? Katakan, ayo katakan! Nikotinku tidak membuatku mabuk, seperti Martini, Balalaika ataupun Vermouth. Nikotinku masih menempatkan akal sehatku di atas kepala. Nikotinku tidak membuaiku dalam tawa palsu seperti selinting ganja. Dan, nikotinku tak pernah menghipnotisku dengan goyangan tanpa henti seperti para ecstasy. Nikotinku menemaniku tanpa pamrih, setidaknya untuk malam ini, untuk hari ini. Adakah lagi yang bisa lebih setia dari pada itu. Ayo katakan!

Adakah kemudian seorang selingkuhan mengerti betapa rapuhnya perasaanku atas sikap pembodohannya dan pembodohanku? Tidak. Dia tak bodoh. Aku yang bodoh. Dan aku merasa dibodoh bodohi oleh perasaan bodoh yang bodoh. Apa yang kurang sempurna dari seorang calon suami setia yang tak banyak bicara, tak banyak bercerita, tak banyak bercakap, tak banyak bertanya, tak banyak maunya, sehingga tak bicara, tak bercerita, tak bercakap-cakap, tak bertanya, dan tak tau maunya. Apakah yang kurang sehingga aku harus memburu-buru perasaan kasih sayang pada orang lain yang baru kukenal. Hinanya aku. Hinanya kamu membuat aku seperti itu. Tapi, aku lebih hina. Jalang!

Ya, apa yang kurang dari selingkuhan yang punya ketertarikan yang sama? Sama-sama menghargai seni, sama-sama bisa timbal balik dalam diskusi, sama-sama bisa bercerita, diajak bicara, hingga bercinta. Gila! Siapa yang gila? Apa aku gila? Lantas siapa yang membuatku gila? Dia. Dia, siapa dia? Dia saja. Dia yang menurutku saja dia. Entah dia yang dia atau dia yang dia lagi. Dia, saja. Yang pasti itu dia.

Dan malam ini aku masih di sini, lelah menari, keringat membasahi diri. Nikotinku masih setia bersamaku di sini. Menemaniku hangat dalam malam penat yang dirintiki hujan. Hujan sialan yang membasahi tubuhku dan menyelimuti dingin yang menggumpal darahku, menjadi gatal pembiang alergi ketika aku berlari dalam kecepatan tinggi di atas sebuah kuda besi. Saat hatiku hancur menerima kenyataan pembodohan perasaan yang aku sadari, tak ia sadari, atau tak ingin ia sadari.

Nikotinku di sini. Calon suamiku, tidak. Nikotinku di sini, sahabat-sahabat baik, tidak. Nikotinku di sini. Selingkuhanku tidak. Nikotinku di sini. Masih setia menemani. Katakan ayo katakan lagi! Adakah yang lebih setia dari pada mereka, nikotin-nikotinku?