November 15, 2009
October 17, 2009
Kebebasan dan Indonesia. Penuh Tanda Tanya.
Seorang teman pernah bercerita tentang seorang kenalannya yang berkewarganegaraan Singapura. Kabarnya ia lebih memilih tinggal di Indonesia ketimbang di negaranya. Kenapa? Bukankah di sana segala sesuatu serba tersedia. Masyarakatnya jauh lebih terpelajar. Kemudahan hidup dengan berbagai penunjang teknologi tingkat tinggi bisa ditemui dimana-mana. Pelayanan terhadap masyarakat pun jauh lebih berkualitas.
Ia hanya menjawab, karena di Indonesia saya bisa bebas melakukan apa saja. Tanpa adanya berbagai macam larangan yang berkaitan dengan disiplin hidup, dan tentunya tanpa semua denda berlipat yang mengikutinya.
Mendengar cerita ini muncul sebuah kegelian sekaligus keprihatinan. Bagaimanapun juga menjadi sebuah hal yang ironis, ada seseorang yang lebih “cinta” negara lain dengan alasan yang justru membuat negaranya memiliki kelebihan dibanding negara lain. Berbeda dengan alasan pemungutan pajak yang lebih rendah misalnya, yang mungkin relatif bisa diterima.
Keprihatinan yang muncul tentunya apabila kita mencoba merefleksikan alasan kebebasan hidup yang ia kemukakan dengan kondisi faktual di negara kita. Tanpa berusaha mengaitkannya dengan era reformasi, memang harus gue akui di negara ini kita benar-benar bisa hidup dengan “bebas” dalam arti yang sebebas-bebasnya.
Bukan pemandangan yang luar biasa apabila ada sebuah mobil mewah melintas di depan kita lalu menerbangkan “sesuatu” dari jendelanya yang sedikit terbuka ke jalan raya. Sesuatu itu bisa bermacam-macam. Bisa kulit rambutan, kulit duku, kertas tissue, puntung rokok, sampai gelas air mineral. Sebuah hal yang luar biasa apabila pemilik mobil mewah itu ternyata tidak terpelajar. Terlepas dari masalah kualitas otak, tampaknya bangsa Indonesia memang sudah sepakat menjadikan berpuluh ribu pulau wilayah kedaulatan bangsa sebagai tempat sampah terbesar di dunia. Silakan buang sampah di tempat yang anda suka.
Gue juga jadi ingat pemandangan beberapa minggu yang lalu. Ada seorang tukang ojek yang dengan santainya (maaf) pipis di peruntukan lahan hijau sekeliling rumah kost-an tempat gue tinggal. Tempat pipisnya pun tidak jauh dari pertigaan yang padat oleh lalu lintas. Padahal ia bisa memacu motornya sebentar ke pom bensinl atau masjid terdekat untuk mencari WC umum.
Sambil agak geli, sempat tergambar raut wajah bokap jaman gue SMP dulu saat di suatu pagi sambil bersungut-sungut ia mencoba membersihkan dan menghilangkan bau pesing pipis manusia yang menyengat di pagar depan rumah. Kebetulan rumah gue saat itu terletak berdekatan dengan tempat mangkal angkot yang selalu dipenuhi penumpang setiap malam.
Tampaknya ada lagi sebuah kesepakatan di antara warga bangsa. Indonesia juga adalah WC umum terbesar di dunia. Kebelet pipis? Take your spot anywhere. Sebuah pelayanan masyarakat tingkat tinggi yang sangat menjunjung tinggi kebebasan asasi manusia untuk pipis. Gue yakin BAB sudah tercakup di dalamnya.
Selama kurang lebih setahun tinggal di dekat perempatan padat lalu lintas gue juga cukup mengamati bagaimana kecenderungan perilaku para pengendara. Yang paling gue ambil pelajaran adalah kapan waktu terbaik anda menyeberang jalan di perempatan. Secara normatif, ada korelasi yang cukup erat antara lampu merah dengan laju kendaraan. Lampu merah menyala, kendaraan berhenti, anda bisa menyeberang dengan tenang. Bahkan tanpa harus toleh kiri-kanan.
Faktanya tidak. Lampu merah menyala ternyata tidak lantas membuat orang menghentikan atau memperlambat laju kendaraan. Hampir di setiap saat lampu merah menyala banyak kendaraan justru berebut menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk secepatnya mencapai ruas jalan berikutnya. Alih-alih memperlambat dan kemudian menghentikan laju kendaraan, lampu merah menyala ternyata justru menjadi kode bagi mereka untuk menginjak gas kencang-kencang.
Hanya ada satu pilihan bagi para penyeberang. Benar-benar melihat sendiri dan memastikan bahwa semua kendaraan sudah berhenti di depan mata sebelum menyeberang. Itupun belum menjamin keamanan. Karena acapkali sebagian kendaraan yang ”belok kiri boleh langsung” melakukannya tanpa menyalakan lampu sen.
Terkadang gue membayangkan diri menjadi seorang Clark Kent dan bisa bebas menyeberang tanpa harus melakukan itu semua. Kalau kendaraan mereka ringsek menabrak gue toh bukan gue yang salah. Gue tinggal terbang ke perempatan lain buat iseng-iseng melakukan hal yang sama. Sayang gue bukan Clark Kent. Hmmm.
Sebelum berlarut-larut dengan berbagai contoh yang lain, satu hal yang harus digarisbawahi. Mereka melakukannya dengan bebas tanpa konsekuensi apapun. Keliatannya konsekuensi baru muncul apabila ada nyawa yang melayang di perempatan. Atau ada pejabat pemerintah yang terganggu karena rumahnya bau pesing. Atau anggota DPR yang merasa pusing dengan bau sampah yang menyengat di lingkungannya.
Jadi apa kesimpulannya. Kalau anda adalah seorang opportunis, silakan nikmati “kebebasan” yang anda peroleh di negara ini. Tetapi kalau anda seorang idealis, tampaknya anda harus sering-sering melakukan terapi anger management.
Ia hanya menjawab, karena di Indonesia saya bisa bebas melakukan apa saja. Tanpa adanya berbagai macam larangan yang berkaitan dengan disiplin hidup, dan tentunya tanpa semua denda berlipat yang mengikutinya.
Mendengar cerita ini muncul sebuah kegelian sekaligus keprihatinan. Bagaimanapun juga menjadi sebuah hal yang ironis, ada seseorang yang lebih “cinta” negara lain dengan alasan yang justru membuat negaranya memiliki kelebihan dibanding negara lain. Berbeda dengan alasan pemungutan pajak yang lebih rendah misalnya, yang mungkin relatif bisa diterima.
Keprihatinan yang muncul tentunya apabila kita mencoba merefleksikan alasan kebebasan hidup yang ia kemukakan dengan kondisi faktual di negara kita. Tanpa berusaha mengaitkannya dengan era reformasi, memang harus gue akui di negara ini kita benar-benar bisa hidup dengan “bebas” dalam arti yang sebebas-bebasnya.
Bukan pemandangan yang luar biasa apabila ada sebuah mobil mewah melintas di depan kita lalu menerbangkan “sesuatu” dari jendelanya yang sedikit terbuka ke jalan raya. Sesuatu itu bisa bermacam-macam. Bisa kulit rambutan, kulit duku, kertas tissue, puntung rokok, sampai gelas air mineral. Sebuah hal yang luar biasa apabila pemilik mobil mewah itu ternyata tidak terpelajar. Terlepas dari masalah kualitas otak, tampaknya bangsa Indonesia memang sudah sepakat menjadikan berpuluh ribu pulau wilayah kedaulatan bangsa sebagai tempat sampah terbesar di dunia. Silakan buang sampah di tempat yang anda suka.
Gue juga jadi ingat pemandangan beberapa minggu yang lalu. Ada seorang tukang ojek yang dengan santainya (maaf) pipis di peruntukan lahan hijau sekeliling rumah kost-an tempat gue tinggal. Tempat pipisnya pun tidak jauh dari pertigaan yang padat oleh lalu lintas. Padahal ia bisa memacu motornya sebentar ke pom bensinl atau masjid terdekat untuk mencari WC umum.
Sambil agak geli, sempat tergambar raut wajah bokap jaman gue SMP dulu saat di suatu pagi sambil bersungut-sungut ia mencoba membersihkan dan menghilangkan bau pesing pipis manusia yang menyengat di pagar depan rumah. Kebetulan rumah gue saat itu terletak berdekatan dengan tempat mangkal angkot yang selalu dipenuhi penumpang setiap malam.
Tampaknya ada lagi sebuah kesepakatan di antara warga bangsa. Indonesia juga adalah WC umum terbesar di dunia. Kebelet pipis? Take your spot anywhere. Sebuah pelayanan masyarakat tingkat tinggi yang sangat menjunjung tinggi kebebasan asasi manusia untuk pipis. Gue yakin BAB sudah tercakup di dalamnya.
Selama kurang lebih setahun tinggal di dekat perempatan padat lalu lintas gue juga cukup mengamati bagaimana kecenderungan perilaku para pengendara. Yang paling gue ambil pelajaran adalah kapan waktu terbaik anda menyeberang jalan di perempatan. Secara normatif, ada korelasi yang cukup erat antara lampu merah dengan laju kendaraan. Lampu merah menyala, kendaraan berhenti, anda bisa menyeberang dengan tenang. Bahkan tanpa harus toleh kiri-kanan.
Faktanya tidak. Lampu merah menyala ternyata tidak lantas membuat orang menghentikan atau memperlambat laju kendaraan. Hampir di setiap saat lampu merah menyala banyak kendaraan justru berebut menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk secepatnya mencapai ruas jalan berikutnya. Alih-alih memperlambat dan kemudian menghentikan laju kendaraan, lampu merah menyala ternyata justru menjadi kode bagi mereka untuk menginjak gas kencang-kencang.
Hanya ada satu pilihan bagi para penyeberang. Benar-benar melihat sendiri dan memastikan bahwa semua kendaraan sudah berhenti di depan mata sebelum menyeberang. Itupun belum menjamin keamanan. Karena acapkali sebagian kendaraan yang ”belok kiri boleh langsung” melakukannya tanpa menyalakan lampu sen.
Terkadang gue membayangkan diri menjadi seorang Clark Kent dan bisa bebas menyeberang tanpa harus melakukan itu semua. Kalau kendaraan mereka ringsek menabrak gue toh bukan gue yang salah. Gue tinggal terbang ke perempatan lain buat iseng-iseng melakukan hal yang sama. Sayang gue bukan Clark Kent. Hmmm.
Sebelum berlarut-larut dengan berbagai contoh yang lain, satu hal yang harus digarisbawahi. Mereka melakukannya dengan bebas tanpa konsekuensi apapun. Keliatannya konsekuensi baru muncul apabila ada nyawa yang melayang di perempatan. Atau ada pejabat pemerintah yang terganggu karena rumahnya bau pesing. Atau anggota DPR yang merasa pusing dengan bau sampah yang menyengat di lingkungannya.
Jadi apa kesimpulannya. Kalau anda adalah seorang opportunis, silakan nikmati “kebebasan” yang anda peroleh di negara ini. Tetapi kalau anda seorang idealis, tampaknya anda harus sering-sering melakukan terapi anger management.
September 2, 2009
Erdbeben
De, gempa lumayan gede,
tadi papah lagi duduk depan komputer
goncangan rumah terasa banget,
komputer goyang,
trus papah keluar rumah, bahkan pintu pagar kita goyang sampai berisik..
dan papa bisa liat pekarangan rumah kita bergerak,
pohon jambu kelihatan naik turun 2 cm
Pak Warung depan teriak Allahu Akbar .......
berita dari Papa, yang bikin gue merinding seketika, Ya Allah terimakasih Kau masih menyelamatkan keluargaku ...
August 9, 2009
Menjadi Kaum Minoritas

Well, judul tulisan gue ini udah menceriminkan banget apa yang bakal gue ceritain disini. Pernah gak lo ngerasain menjadi minoritas ? Mungkin dulu pas jaman SD, dikala temen-temen lo semua udah pake backpack yang ada roda nya yang bisa di dorong-dorong dan lo masih pake tas ransel ber-retsleting bekas kakak lo dulu. Mungkin pas kuliah, sobat-sobat lo punya mobil atau motor yang selalu dibawa-bawa kemana-mana sedangkan lo masih tetap jadi penumpang setia busway, kopaja dan teman-temannya. Atau mungkin saat lo menjadi seorang perokok pasiv di antara temen nongkrong lo yang semuanya perokok aktiv. Atau, lo simply pengguna nomor XL, dimana rata-rata temen-temen lo pengguna IM3. Ya, minoritas. Sekecil apapun bentuknya gue rasa lo pernah ngerasain. Buat yang belom pernah, well, seems like you don't know what is the real life.
Sekarang ini gue ngerasain jadi minoritas. Dan sepertinya kasus gue ini cukup serius ketimbang beberapa kasus-kasus yang gue sebutkan sebelumnya. Ras dan Agama.
Rasis, memang, pembicaraan gue kali ini, tapi hey, ini blog gue, kalo lo gak suka ya simply gak usah baca, dan kalo lo mau ya lo tulis aja di blog lo sendiri.
Gue hidup di Jerman, dimana 90 persen manusia disini adalah that-so-called-'bule'. Sampai saat ini gue personally belum pernah dapet masalah disini karena gue kaum minoritas. Tapi beberapa temen gue udah pernah ngerasain 'pahit'nya jadi minoritas. Ada yang disusahin untuk dapet kerja dengan seribu alesan yang lama-lama makin gak masuk akal. Ada yang dianggep aneh dan gak di ajak ngobrol sepanjang perjalanan. Macem-macem lah pokonya. Ya mau gimana lagi, memang kita disini kaum minoritas, tapi hey! Kita gak lebih rendah dari bule bule itu kok. Bahkan beberapa org sini (bule) yang gue kenal, pernah terang-terangan make jokes tentang orang asia, di depan gue! MEN!
Yang bilang rasisme udah sepenuhnya musnah itu boong.
Hidup sebagai umat muslim di Jerman lebih susah lagi. Mau sholat bingung kiblatnya kemana, mau nyari mesjid susahnya minta ampun. Gak kayak di Indonesia yang tiap pengkolan ada. Nolak alkohol dibilang cupu, giliran ngejelasin alasannya, malah mereka mengganggap keyakinan gue itu terlalu mengekang dsb. Yah beginilah hidup di tengah-tengah orang atheis.
Gue bukannya kesel ataupun marah ataupun sebel atau apalah. Ini cuma sekedar curahan hati aja kok. Cuma mau ngasih tau aja gimana rasanya jadi kaum minority (kalo kata Greenday).
Gak pernah gue ngerasa minder, atau menempatkan diri gue di bawah mereka. Gue tetep ngejalanin aktivitas seperti biasa. Gue tebel kuping aja sama orang-orang freak yang make fun dengan rasis ataupun agama gue. Tapi ya satu fakta yang gak bisa gue bantah adalah, gue disini adalah minoritas.
Mau jungkir balik nggak ngakuinpun, gue tetap minoritas.
Jadi minoritas ? Hmmm, gak enak. Pastilah. Tapi yaa pinter-pinter nempatin diri aja.
Toh karena gue jadi minoritas gue juga banyak dapet pengalaman kok. Mulai sekarang, kalo gue nanti balik lagi ke Indonesia tanah air beta, gue bakalan memaksimalkan fungsi mushola di tiap mall-mall dan pom bensin. :D
Dan buat kamu, yang pernah ngerasa bahwa ras mu itu lebih tinggi dibandingkan ras ras lain, your brain is not bigger than a peanut! I'm proud to be me, to be Indonesian and to be a Moslem.
July 13, 2009
July 11, 2009
Untitled Post Again
......gw yakin kalo lo kuat disana & sooner or later lo pasti bakal bisa nemuin cara untuk enjoy your life there. Lo disana karena keputusan lo sndiri, jadi jangan mundur bung, walupun cuma satu langkah. Stay tough, lo bukan cewe yang lemah, so jangan lemahkan dirimu. Gimanapun beratnya nanti yang lo hadapin yakin aja klo lo pasti bs ngelwatinnya & lo pastinya nanti juga akan meraih banyak pengalaman berharga.......
(Ahmad Radinal, bei e-mail am 10.07.09 17:36 Uhr)
This is what I called a 'true friendship'. No matter how far we are, he always has the ability to support me and let me put my head on his shoulder. I thank you so much, Ceng, for always be 'here' ..
(Ahmad Radinal, bei e-mail am 10.07.09 17:36 Uhr)
This is what I called a 'true friendship'. No matter how far we are, he always has the ability to support me and let me put my head on his shoulder. I thank you so much, Ceng, for always be 'here' ..
Subscribe to:
Posts (Atom)






