October 7, 2010

Treat Me As One

I am a hotel. A holiday-inn,
or something like that.
You can rest here, get a good nights sleep.
There are weekly and monthly rates.
You can treat me like your temporary home.
Unpack your suitcases and life into my empty
drawers and closets.
You can swim in my pools or get fat off the
bacon, sausages, eggs, at continental breakfast.
Do not be surprised when I am already missing you
before you even start packing your bags.
With check out at noon
I know you will be gone soon.



July 15, 2010

Dear You

My hands have been tied around my back for quite some time. My mouth is dry and when I woke up this morning you were the only thing I could see because it was pouring again. This isn't an apology.

I may not know your name but sometimes there is no clouds and I believe in sunshine and a little wind child blows me like some sweet song you sung cause some people know how to sing.

I am the most amazing human being that you will ever meet. I do not care anymore. I was once capable of anything, I mean I still am. And where is everyone like you, I have not found anything close to a partner. I'm sorry I ever let you know.

This was bullshit. This is bullshit. Maybe I should just be quiet. But I've got so much to tell you. Like how this is the only place I feel alright. Yes, right here. Where I can tell you about everyone you ever loved by just a glimpse. I will tell you everything. There is no place I would rather be.

I did not mean to start things out this way. Maybe it's all the clouds. I lied, there are no clouds. One day we will rise up and let the ocean wash away all the memory. I was in love once, and I will not be quiet now.

I meant to start all the things differently. My words are all dusty and a bad cough. I would like to be on the back of that motorcycle again. Feel the winds that blowing through our ears. And I am not sorry anymore.


-b-


May 28, 2010

Lelaki Sendok Karat

Laki-laki muda itu merapatkan telinganya pada dinding. Penasaran. Tenggelam dalam hasrat ingin tahunya. Tembok dingin itu nampaknya mengeluarkan suara. Walaupun samar, ia sangat yakin kalau ada sesuatu di balik dinding kamar kontrakannya itu. Sesuatu yang menggerakkan imajinya untuk terus mendengar lebih dalam lagi. Ia semakin merapatkan telinganya pada dinding kamar yang berukuran tidak lebih dari 9 meter persegi itu.
“Suara gemerincing. Ya, aku mendengarnya. Suara apakah itu ?” batinnya.
Kemudian ia memindai seluruh ruangan, mencari apa saja yang dapat membantunya untuk mengeluarkan apapun yang ada di balik tembok dingin bercat putih itu.
“Ah, ini mungkin bias membantu!” ujarnya sambil menghampiri sesuatu di atas meja kecil di pojok kamar.
Diambilnya sendok makan logam yang biasa digunakannya untuk makan nasi bungkus. Bersemangat, ia mengacung-acungakan sendok makan itu dan mulai menggaruk dinding sedikit demi sedikit. Lama ia menggaruk, keringatnya mulai bercucuran, mengalir dari atas dahi hingga ujung kaki. Membasahi kaus katun abu-abunya yang sudah terlihat usang. Namun peluh dan keringat sebanyak apapun tidak repot-repot menggubris konsentrasinya. Mata dan hatinya sudah tertuju pada gemerincing dibalik dinding itu. Sesekali dia berhenti menggaruk dan kembali menempelkan telinganya pada dinding, kalau-kalau suara itu hilang dan pekerjaan menggaruknya menjadi sia-sia. Tetapi, suara gemerincing itu semakin keras memukul gendang telinganya. Ia semakin yakin kalau ada sesuatu di balik dinding.
Ia menyeka keringatnya dan melihat dengan puas hasil pekerjaannya. Sudah ada lubang sebesar dua senti pada dinding. Dengan telunjuknya ia meraba hasil pekerjaannya, sensor motoriknya dapat merasakan kasarnya permukaan bata dan semen pada lubang hasil karyanya. Tetapi, lubang itu belum terbuka seluruhnya, benda gemerincing itu juga belum muncul. Belum selesai, pikirnya.
Mengganti peluh yang terbuang dari tubuhnya, ia menenggak air dari teko yang ada di atas meja yang sama dengan tempat diletakkannya sendok logam itu. Kembali ia memandangi lubang pada dinding kamarnya. Ia hampir tak peduli kalau itu bukan kamarnya sendiri. Ia hanya peduli dengan suara gemerincing di balik temboknya. Menurutnya, jika ibu galak pemilik kontrakan ngamuk melihat tembok kamar kontrakannya yang berlubang, itu urusan belakangan, asal benda gemerincing itu bisa ditemukan.
Makin lama ia menggaruk, makin keras terdengar suara gemerincing itu. Begitulah, makin semangat pula ia menggerakkan sendoknya menggerus semen dan batu bata. Mungkin memang awalnya sulit untuk menggerus tembok bata, tetapi kini dengan bulatan tekadnya, semua itu jadi terasa lebih mudah untuknya.
“Klang !”
Akhirnya, sungguh tak dapat dipercaya, sesuatu terjatuh bergemerincing menuju lantai dari dalam lubang. Matanya buas mencari benda bergemerincing itu dan jantungnya berdebar keras saat ia menyentuh benda itu. Sesuatu itu sungguh berkilauan dan menyilaukan. Dia mengamati benda itu dengan cermat dan akhirnya berkesimpulan, itu adalah sekeping koin emas!
Begitu girang ia menimang koin emasnya. Itulah tiketnya untuk meninggalkan kemiskinan selama-lamanya. Diciuminya koin emas itu dan kemudian kembali menatap lubang pada tembok bata lapuk itu. Pasti masih banyak benda seperti ini dibalik tembok itu, begitu pikirnya. Begitulah, akhirnya dia kembali menggaruk tembok dengan sendoknya, dan seperti perkiraannya, makin banyak koin emas bergemerincing jatuh di lantai.
***
“Dia pasien baru ya?” tanya seorang dokter wanita paruh baya berjas putih pada perawat di depannya. Perawat itu hanya menjawab dengan singkat dan memberikan map berisi keterangan pasien dan kertas-kertas penting lainnya.
Dokter itu membuka map yang dipegangnya dan mempelajari keadaan orang yang berada di hadapannya. Sesekali dia mendongakkan kepalanya untuk mencocokkan keadaan pasien dengan hasil analisa pada kertas. Dokter itu memandang dingin pada pasien di depannya yang sedang menggaruk dinding dengan sendok karatan sambil sesekali menempelkan telinganya pada tembok yang dingin. Sang dokter hanya menghela nafas dan menutup mapnya, menyesalkan penderitaan hidup yang dihadapi pasien di depannya, kemudian berlalu meninggalkan pasien baru itu dengan sendok karatannya.
***
Ia pulang dari bekerja, kelelahan dan perut keroncongan, menuju kamar kontrakannya yang sempit, pengap dan bau. Setiap hari, setiap kali dia pulang dari bekerja di pabrik, selalu begitu keadaannya. Kelelahan dan perut keroncongan. Tetapi, gajinya tak pernah naik. Sebaliknya, harga kebutuhan pokok terus naik. Ia semakin tercekik, semakin putus asa.
Laki-laki itu merebahkan diri di atas kasur, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan putus asa. Ia mencoba memejamkan matanya, mencoba melupakan seluruh masalah ekonomi yang menghimpit dirinya. Saat itulah, samar-samar dia mendengar sesuatu dari balik tembok. Sesuatu yang bergemerincing. Sesuatu yang menggiurkan. Kemudian, ia merapatkan telinganya pada dinding.


January 22, 2010

Jangan


Aku ingin tidur.
Jangan bangunkan aku,
Jangan minta aku untuk terjaga ketika hanya 'terlelap'-lah yang aku inginkan...














December 11, 2009

Saat Hati Terbelenggu Dasi

Titik-titik hitam bersayap melambai-lambai kesana-kemari, mereka selalu optimis untuk bermigrasi dengan cuat-cuit suara bergerombol serupa huruf V, terlihat hampir tertangkap oleh gumpalan-gumpalan air bergelombang semakin meninggi bersetubuh bersama sayup-sayup angin sepoi, bergemuruh kian berlari mencipta buih-buih semakin mendekat, menelan kilau-kilau pasir di bibir.

“Maksudmu, menyindir, layaknya orang tak berpendirian maju mundur tak jelas apa maumu?”
Sang ombak hanya mundur ketika sosok lelaki duduk menempel menguasai batu-batu karang hitam yang kokoh namun rapuh di antara batu alam.

”Sekarang kau mundur. Apakah kau tak sadar bahwa kemunduranmu adalah persiapanmu untuk berlari kemari. ”

Sekarang buih-buih itu berlari menantang darat hampir menghujam tak sampai hati, hingga hanya menjilat kaki hampir busuk dalam keraguan.

“Lalu, tak sempatkah kau berpikir, wahai Penari-penari lautan, aku berada di depan orang–orang yang berpangku terhadapku, terhadap orang-orang yang berharap di pundakku. Namun, aku adalah orang yang berposisi di belakang orang-orang yang menentukan mereka yang bersandar dalam pundak lemahku. Aku.. aku ragu.” Berlutut ia di bibir pantai mengecap pasir basah dengan lutut beratnya, meremas gundukan pasir berbuih dengan kepalan berkecamuk, dalam hati yang gelisah.

“Sekarang kenapa kau ragu, untuk orang yang kau lindungi beserta cintamu, kenapa tak kau korbankan saja dirimu untuk mereka yang kau nafkahi, hanya satu nol saja semua selesai!” Kini buih itu menjawab dengan gemuruhnya yang tajam.

“Untuk jawaban seorang penari lautan tak ragu lagi karena kau takkan merasakan sedapnya sebuah konsekuensi, kau tidak akan tahu semua keluargaku akan kehilangan hidung, ketika aku bersemayam dalam bui, kepentingan orang-orang tertindas akan semakin kutindas, dan negara yang bejad ini kian punah tertindih perut yang kehilangan afektifitasnya. Apakah kau tidak berpikir, wahai Penjilat-penjilat pasir yang hitam!”

“Semakin kau libatkan humanismemu, semakin jauh kau dengan kegelimpangan, wahai Pecundang!”

“Aku, aku bukanlah penjilat pasir karena kilaunya. Aku takkan berlari ketika kulihat kilau-kilau dari kejuhan yang sesungguhnya itu adalah pasir hitam yang akan membuatku kahabisan buih. Aku bukanlah kau ombak, karena pasir takkan berkilau-kilau jika warnanya menunjukan keputihan, dan semua orang pun lebih memburu pasir nan putih bersih, tidaklah sama dengan kau, Gelombang jahanam. Kau hanya makhluk yang tertipu dengan kilau-kilau bentukan mentari. Kilau-kilau yang akan hilang sesampainya engkau untuk menelannya bulat-bulat.”

Sebuah batu karang kecil melambung terbang mengejar gelombang ombak yang semakin mundur, memercik di kejauhan yang semakin sunyi di tengah kegemuruhan gelombang-gelombng pasang. Kini seketika gelombang pasang semakin meninggi memburu dengan lantang menelan lelaki gundah, menggulung-gulung membasahi bara-bara yang berkecamuk dalam hati. Beberapa teguk sempat menghentikan nafas sosok itu, ia basah dengan kegeraman.

“Kau marah, Ombak?”

“Aku benci dengan keraguan, dengan orang yang tak bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Jika kau takut dengan terali-terali besi, ceritakan saja pada pamong-pamong rakyat, para pelindung-pelndung berseragam yang buncit itu.”

Ombak hitam semakin meninggi menabirkan sinar mentari, membayangi sang karya.

“Apakah kau gila? Itu sama saja dengan aku menenggak racun yang akan membunuhku, yang akan menghancurkan keluargaku sendiri.”

“Lalu, di manakah jiwa juangmu itu, jiwa yang selalu mencintai tanah airnya, tanpa peduli keluarga pribadi, tanpa melihat ke belakang untuk menyerang ke depan, apakah semua itu sudah susut hanya karena angka nol yang berlubang?”

“Akh, omong kosong dengan perjuangan. Toh, mereka yang mengkhianati negeri, tetap dipuja negeri. Toh, mereka yang merampas perut rakyat tetap dihormati rakyat. Lantas apakah ini yang disebut dengan mengkhianati? Jika yang disakiti masih mau membanggakan yang telah mendzaliminya, masih mau mendukung di kala meminta?”

Dengan suara lantang, pria busuk itu semakin membusungkan dirinya. Ia hampir kalah dalam kerapuhannya dengan penuh tekanan yang menyesakkan. Ia tertawa dalam kesedihan, terbahak-bahak setelah kalah bagaikan keledai yang mengumpankan dirinya dalam mulut harimau kelaparan. Kini sebuah gelombang yang semakin tinggi, hitam, kelabu menenggelamkan bertubi-tubi, menegukkan beberapa volume asin pekat.

“Hai Pecundang sejati, kau takkan merasakan kenikmatan, kau takkan merasakan kebahagiaan meskipun kau dalam kegelimpangan, kegelimpangan dari hal menjijikan, meskipun hanya satu null kau tambahkan dalam worksheetmu, namun berjuta-juta balasan akan kau terima nantinya, dari-Nya. Sebanyak orang-orang yang telah kau minum keringatnya, yang telah kau cekik perutnya, tahukah kau itu!”

“Diam kau, Setan laut. Apakah kau mau di belakangku? Apakah kau sudi memberiku sedikit kekuatan jika aku menantang eksekutif itu? Pastilah tidak! Kau hanya akan tertawa ketika aku menjadi pahlawan kesiangan di antara gundukan-gundukan perut buncit, dan kau pun terus berlari pergi bersembunyi meninggalkanku sendiri.”

“Dasar Manusia bodoh, lupakah kau dengan Penciptamu? Lalaikah kau dengan kekuasaan-Nya? Bersimpuhlah di hadapan-Nya maka kau akan menemukan pintu terang yang kau bingungkan itu. Memohonlah untuk kebenaran, jika perlu menangislah kalau kau merasa lemah.”

Kini, ombak kelam itu pergi, pantai kembali tenang dengan kecerahan yang biru. Di kejauhan kembali gelombang seraya berkata, “Jika kau yakin dengan pertolongan-Nya, pastilah selamat kau dengan penuh kedamaian.”

Kaki-kaki lemah itu kini berhenti membusuk, berganti wangi kian semerbak berdifusi dalam pelarian. Tangannya telah bebas dari borgol-borgol kedustaan sebuah kultur dalam negeri nan elok lagi kaya ini, ironis.

”Bapak polisi, aku akui aku telah mendapatkan mandat langsung dari manajer keuangan di dalam instansi yang di sana aku menyambung hidup, untuk menambahkan satu nol dalam laporan keuanganku. Niat itu aku urungkan. Bukan apa-apa, aku hanya tidak bisa membutakan mataku terhadap orang-orang di luar sana dan, sesungguhnya aku takut dengan Tuhanku, sekarang terserah Bapak selanjutnya.”


December 5, 2009

Kisah Seorang Schizophrenic


Di sudut ruangan itu, dengan sebatang Marlboro terakhir di sisa hari ini, dia coba membunuh tangisnya sekali lagi dengan kepulan asap rokok. Kepulan-kepulan asap yang membuat ingatannya mengembara. Kenangan masa kanak yang saling bertubrukan, berhamburan keluar dari memori otaknya. Juga saat-saat terakhir bersama sosok ayah yang tak pernah sempat bisa membahagiakannya.

”Ayah aku rindu,” keluhnya, tertahan pun hanya dalam hati.


Tanah airku IndonesiaNegeri elok amat ku cintaTanah tumpah darahku yang mulyaYang kupuja s’panjang masa

Lamat didengarnya suara nyanyian Rayuan Pulau Kelapa dari tape di dalam ruangan kerja staff administrasi. Dia ingat lagu itu adalah ciptaan Ismail Marzuki. Pencipta lagu yang namanya diabadikan pada taman ini.

Di sini, di antara dinding yang putih membisu, dia ikut bernyanyi. Di antara rintihan irama luka atau nyanyian suka yang kadang terasa sangat dipaksakan. Suaranya mengiringi gesekan pelnya yang seakan menyayat kelu lantai yang sudah muak karena terinjak-injak bertahun-tahun lamanya.


Tanah airku aman dan makmurPulau kelapa yang amat suburPulau melati pujaan bangsa sejak dulu kala

Marmer wastafel yang angkuh itu, yang selalu menuntutnya untuk mengeringkannya. Cermin gagu nan sombong yang selalu merayunya untuk mencemerlangkannya, karena seribu kepalsuan dan kepongahan selalu dan selalu saja memburamkannya. Bau Clorox dari sudut celah-celah dudukan WC yang baru disikatnya itu membawanya semakin larut ke dalam pintu rindu akan sosok seorang ayah yang tiada.

”Seandainya saja aku tidak dikalahkan kepapaan. Seandainya saja hidup itu sangatlah mudah seperti mereka. Seandainya saja… Ya, seandainya saja,” gumamnya lesu.


Melambai-lambai, nyiur di pantaiBerbisik-bisik, Raja K’lana

”Ayah, aku ingin memeluk bahumu sekali lagi dan akan kutumpahkan seluruh cerita hari ini. Betapa lelahnya aku menghadapi hidup,” keluhnya lagi. Dengan enggan dia bangkit dan berjalan gontai. Pulang ke rumahnya. Saat itu jam menunjukkan pukul 21.00 WIB bersamaan dengan berakhirnya lagu Rayuan Pulau Kelapa.


Memuja pulau, yang indah permaiTanah airku……Indonesia.

Kamar temaram. Dia masih merasa canggung menatap wajah dirinya sendiri dalam sosok yang berbeda. Seperti sedang bercermin tetapi bayangan di depannya bergerak melewati bingkai cermin dan mencipta menjadi sosok serupa dirinya sendiri.

“Apa yang salah dengan hidupku? Kenapa aku tidak pernah merasa hidup?” tanyanya kemudian. Sosok itu tersenyum.

“Coba mendekatlah kemari. Dan lihatlah wajahku.”

Dia mendekat. Mengamati wajah dari sosok yang ada di depannya dalam cahaya kamar yang temaram. Dia melihat wajahnya sendiri, hanya saja dia merasa ada sesuatu yang ganjil disana.

“Luka itu?” bisiknya pelan.

“Iya, luka itu tak ada lagi di wajahmu. Dulu luka itu adalah kesalahanmu yang tak pernah kau mengerti,“ kata sosok itu kemudian.

Dia memegang bekas luka di pelipis kirinya. Hampir menyatu dengan kulit dahi. Padahal dulu begitu menganga. Sebuah luka yang tak akan pernah dia lupakan. Luka yang terjadi di saat dia masih berusia 19 tahun. Tepat ketika dia mulai tergila-gila dengan buku-buku Filsafat dan Novel Sastra yang dibacanya di gerai buku di TIM. Freud, Nietzsche, Kant, Voltaire, Plato, dan Tolstoy adalah filsuf idola sekaligus pahlawan baru bagi dunianya. Saat itu semua yang ada menjadi abstrak, termasuk dunia dan apa yang dia rasakan.

Dia dibesarkan sebagai anak tunggal, dalam kondisi keluarga yang membuatnya marah sekaligus menangis. Kemiskinan yang sangat. Hingga untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari ibunya harus berjualan keliling termasuk mangkal di depan TIM. Namun ibunya selalu mengajarkan padanya tentang kebahagiaan sebuah keluarga.

Ibunya adalah sosok seorang wanita pendiam, selalu menutupi kepedihan dalam senyuman agar terlihat bahagia di depan anaknya. Tetapi pada saat yang sama dia sering mendapati ibunya duduk sendiri di halaman belakang dalam gelap malam dan sembab air mata. Dia pikir karena ibunya lelah saja, setelah berjualan seharian dan setiap hari.

Sedangkan sang ayah??!! Tak banyak yang dia ingat tentangnya. Yang dia tahu, Ayah adalah sosok yang tak pernah dia mengerti kehadirannya. Hingga sang Ayah pulalah yang membuatnya terpuruk. Membuat kandas mimpi-mimpinya dulu dan sekarang berakhir sebagai cleaning service di TIM. Dia menggeram. Marah. Dia ingat malam itu lagi….

Sebuah malam ketika sang Ayah pulang larut malam dengan mata merah darah penuh kemarahan. Dan malam itu tanpa alasan yang jelas, sang Ayah memukul dia hingga tersungkur di sudut ruangan. Cincin besi itu merobek pelipis matanya hingga darah mengucur di lantai ruangan hingga dia pingsan. Sejak saat itu, sosok sang Ayah adalah sosok yang sangat menakutkan baginya. Hampir setiap hari sang Ayah selalu mempunyai alasan untuk memukulinya dengan tangan atau mencambuknya dengan sabuk kulitnya. Atau mengurungnya dalam kamar mandi sepanjang malam tanpa cahaya.

Sang Ibu hanya bisa diam dalam tangis, dan baru menghampirinya ketika dia sudah mulai tersungkur di lantai nyaris pingsan. Dalam sisa kesadarannya, dia hanya bisa melihat ibunya berkata sesuatu, tapi dia tak bisa lagi mendengarnya. Saat seperti itu, semua menjadi sunyi. Pendar cahaya hanya bergerak-gerak tanpa suara. Dunia menjadi bisu…..

Luka di pelipisnya mendadak berdenyut. Sakit sekali. Emosi dan kemarahannya pada masa silam, kembali memompa aliran darah berlebih ke otak, sehingga menghasilkan impuls luar biasa sakit pada jaring-jaring syarafnya. Dia terkulai di lantai.

“Tapi ini semua karena kesalahan ayahku!!! Dia yang selalu menghajarku hingga aku pingsan! Dia yang tak pernah mau mengerti anaknya sendiri! Dia yang merobek pelipisku, juga semua bekas cambukan sabuk kulitnya di tubuhku!! Semua karena ayahku hingga akhirnya aku memutuskan untuk lari pada minuman keras!! Kenapa aku yang disalahkan??!!”

Sosok itu menatapnya dalam-dalam.

“Luka itu bukan dibuat oleh ayahmu,” kata sosok itu pelan.

“M….m….maksudmu?”

“Iya. Bukan ayahmu yang membuat luka di wajahmu dan semua bekas cambukan di tubuhmu.”

“Lalu siapa yang membuat semua luka ini?” Sosok itu mendekat.

“Dirimu sendiri,” jawab sosok itu pelan.

Dia merasa limbung dengan jawaban sosok yang ada di depannya. Bagaimana mungkin?

“TIDAK!!! TIDAK MUNGKIIINN!!! Ayahkulah yang setiap hari pulang larut malam dengan mata merah dan menyeretku turun dari tempat tidur. Dia yang memukuliku dan menghajarku hingga aku nyaris pingsan!! Ayahku yang mengurungku sepanjang malam di dalam dingin kamar mandi gelap tanpa cahaya. Ayahku yang melakukan itu semua!! Ayahku yang……..aarrgghh!!”

“HENTIKAN!!!” Sosok itu memegang lengannya.

“SADARLAH!! AYAHMU TAK PERNAH ADA DI DALAM KELUARGAMU! AYAHMU TAK PERNAH SEKALIPUN BERTEMU DENGANMU! DI RUMAH ITU HANYA ADA KAU DAN IBUMU!DAN TIDAK PERNAH ADA SOSOK SEORANG AYAH PUN DI SANA!TIDAK PERNAH ADA!!”

Dia terkulai lemas mendengar jawaban itu. Seandainya jawaban itu bukan dari sosok dirinya sendiri, mungkin dia tidak akan percaya. Semua kata tercekat di tenggorokan, pandangannya nanar, dia jatuh terduduk.

Sosok itu mendekat dan duduk di sampingnya. Sejenak hening menciptakan jarak di antara mereka.

“Ayahmu telah meninggalkan ibumu saat kau masih dalam kandungan. Sejak kecil, hanya ibumu yang mengasuhmu sendiri dengan keringat dan darahnya. Tetapi keinginanmu tentang kehadiran figur ayah, menciptakan sebuah sosok seorang ayah dalam duniamu sendiri. Sosok ayah tempatmu bermanja dan menghabiskan waktu bermain di taman atau memancing di sungai seharian. Sejak kecil kau selalu mengajaknya bicara dan memintanya membacakan cerita sebelum tidur. Padahal di sana tidak ada siapa-siapa.”

”Ibu tahu itu semua, tetapi dia hanya bisa diam dan menangis melihat itu terjadi. Dia tidak ingin menyadarkanmu dan mengambil semua mimpi dan kebahagiaan yang kau rasakan bersama sosok seorang ayah di dalam duniamu. Dia tahu, dia tak bisa memenuhi figur orang tua sepenuhnya bagi dirimu,” sosok itu bercerita perlahan.

Matanya terasa panas, dan perlahan airmatanya meleleh. Dia teringat kembali wajah ibunya yang sembab karena air mata ketika tanpa sengaja dia memergokinya di halaman belakang. Jadi semua air mata itu karena dirinya?

“Sampai akhirnya ketika kau mulai dewasa, dan mulai banyak membaca dan berpikir, sosok ayah yang kau ciptakan itu ternyata tidak juga hilang karena tanpa kau sadari, kau telah merasa nyaman dengan dunia yang kau ciptakan sendiri. Sampai akhirnya sosok ayah itu menjelma menjadi alter ego-mu sendiri. Menjadi wujud dari kemarahan yang ada dalam dirimu. Sosok ayah yang telah memukul pelipismu, menghajarmu dan menguncimu dalam kamar mandi, adalah dirimu sendiri.” Sosok itu menghela nafas. Dia tahu ini akan menjadi sesuatu yang tidak mudah untuk diterima.

“Luka di wajahmu itu adalah awal dari fase kemunculan alter ego-mu. Malam itu, tanpa sadar kaulah yang telah mengiris pelipismu sendiri dan membenturkan kepalamu hingga berdarah dan nyaris mati. Dirimu dalam ’sosok ayah’ mu yang kau ciptakan sendiri. Sejak saat itu hampir setiap malam kau melakukan hal yang sama. Ego-mu dalam sosok ayahmu yang memukulimu, mencambuk tubuhmu dengan sabuk kulitnya, dan mengurung dirimu sendiri dalam kamar mandi.”

”Ibumu tak bisa mencegah semua itu terjadi. Dia merasa semua ini adalah kesalahannya karena membiarkan sosok ayah itu tetap hidup dalam duniamu. Dia hanya bisa menangis, melihatmu menyiksa diri. Dia mengangkatmu ke tempat tidur ketika kau hampir pingsan. Membersihkan setiap darah di lantai kamar seakan tak terjadi apa-apa. Dia tak ingin membiarkanmu dirawat di rumah sakit jiwa karena dianggap schizophrenic oleh dokter.”

”Sampai akhirnya kau memutuskan lari pada minuman memabukan dengan alasan tidak tahan perlakuan ayahmu. Padahal kau bukan sedang berlari dari ayahmu, tetapi kau berlari dari dirimu sendiri. Dari alter ego-mu. Dan meninggalkan ibumu dan Tuhanmu!”

Waktu seakan berhenti untuk memberi ruang pada sketsa hidupnya yang satu persatu muncul kembali pada layar pikirannya. Perlahan sosok itu pun memudar dan berangsur hilang dalam gelap.

Dia jatuh tersungkur. Badannya lemas. Dia merasakan pusing yang teramat sangat. Ruangan gelap itu seakan berputar kencang mengelilinginya. Pikirannya kacau. Dia mulai menggumam, mulai meracau. Tak ada lagi batas nyata dan abstrak dalam dunianya. Semua berputar menjadi satu. Begitu cepat memutar……

Dan di tengah pusaran yang berputar, dia melihat sebuah wajah yang begitu damai. Penuh senyuman. Wajah yang tak asing lagi. Dia berteriak, sebelum akhirnya semua menjadi gelap kembali.
BRAKK!!!

Sebuah bunyi keras, membawa kesadarannya kembali. Bunyi pertama yang dia dengar setelah sekian lama dia tak sadarkan diri. Di susul cahaya terang yang perlahan merasuk ke dalam kamarnya. Dia tak bisa bergerak hanya bisa tergeletak, lemah.

Sayup terdengar suara langkah mendekat. Dia tak bisa melihat dengan jelas, kepalanya masih terasa pusing. Sebuah gerakan perlahan nampak samar di depannya. Pendar cahaya sedikit demi sedikit membentuk sebuah garis wajah yang sempurna. Wajah itu, wajah malaikat terindah yang pernah ada. Wajah Ibunya!!

Dirasakannya usapan lembut di rambutnya. Ibu begitu mengasihinya. Dia tersadar dari mimpi buruknya semalam. Ternyata bayang masa lalu masih menaunginya. Tapi tak urung dia mengucapkan ”Alhamdulillah”. Allah masih menyelamatkan nyawanya hingga hari ini dan memberinya kesempatan memperbaiki diri di jalan-Nya.

Kupu-kupu beterbangan di atas sekuntum bunga yang baru mekar. Diam tak bergerak, diamatinya kupu-kupu itu. Mengagumi keindahan warna kupu-kupu, kuning kehitaman. Keindahan bunga berwarna merah muda keunguan. Juga keindahan cerahnya matahari menyilaukan mata. Keindahan suasana hatinya pagi ini.

Ya, hatinya. Dia mencoba membuat suasana hatinya lebih indah pagi ini. Meski jauh di dalam sana, ada yang tetap mengiris, pedih. Sakit. Teramat sakit. Tapi apapun itu, dan bagaimana pun ia kini, Ayah tetap figur idola baginya. Meskipun mungkin sampai mati, dia tak akan pernah tahu, siapa dan bagaimana sosok ayahnya.


Melambai-lambai, nyiur di pantaiBerbisik-bisik, Raja K’lana

Lagu itu kembali terdengar, seperti biasa. Dan seperti biasanya dia pun melakukan aktivitasnya. Membersihkan pekarangan taman ini. Dan bila sore menjelang malam, dia beralih ke belakang. Membersihkan toilet. Begitulah hidupnya sekarang. Kehidupan yang telah dijalaninya hampir lima tahun ini.