December 11, 2009

Saat Hati Terbelenggu Dasi

Titik-titik hitam bersayap melambai-lambai kesana-kemari, mereka selalu optimis untuk bermigrasi dengan cuat-cuit suara bergerombol serupa huruf V, terlihat hampir tertangkap oleh gumpalan-gumpalan air bergelombang semakin meninggi bersetubuh bersama sayup-sayup angin sepoi, bergemuruh kian berlari mencipta buih-buih semakin mendekat, menelan kilau-kilau pasir di bibir.

“Maksudmu, menyindir, layaknya orang tak berpendirian maju mundur tak jelas apa maumu?”
Sang ombak hanya mundur ketika sosok lelaki duduk menempel menguasai batu-batu karang hitam yang kokoh namun rapuh di antara batu alam.

”Sekarang kau mundur. Apakah kau tak sadar bahwa kemunduranmu adalah persiapanmu untuk berlari kemari. ”

Sekarang buih-buih itu berlari menantang darat hampir menghujam tak sampai hati, hingga hanya menjilat kaki hampir busuk dalam keraguan.

“Lalu, tak sempatkah kau berpikir, wahai Penari-penari lautan, aku berada di depan orang–orang yang berpangku terhadapku, terhadap orang-orang yang berharap di pundakku. Namun, aku adalah orang yang berposisi di belakang orang-orang yang menentukan mereka yang bersandar dalam pundak lemahku. Aku.. aku ragu.” Berlutut ia di bibir pantai mengecap pasir basah dengan lutut beratnya, meremas gundukan pasir berbuih dengan kepalan berkecamuk, dalam hati yang gelisah.

“Sekarang kenapa kau ragu, untuk orang yang kau lindungi beserta cintamu, kenapa tak kau korbankan saja dirimu untuk mereka yang kau nafkahi, hanya satu nol saja semua selesai!” Kini buih itu menjawab dengan gemuruhnya yang tajam.

“Untuk jawaban seorang penari lautan tak ragu lagi karena kau takkan merasakan sedapnya sebuah konsekuensi, kau tidak akan tahu semua keluargaku akan kehilangan hidung, ketika aku bersemayam dalam bui, kepentingan orang-orang tertindas akan semakin kutindas, dan negara yang bejad ini kian punah tertindih perut yang kehilangan afektifitasnya. Apakah kau tidak berpikir, wahai Penjilat-penjilat pasir yang hitam!”

“Semakin kau libatkan humanismemu, semakin jauh kau dengan kegelimpangan, wahai Pecundang!”

“Aku, aku bukanlah penjilat pasir karena kilaunya. Aku takkan berlari ketika kulihat kilau-kilau dari kejuhan yang sesungguhnya itu adalah pasir hitam yang akan membuatku kahabisan buih. Aku bukanlah kau ombak, karena pasir takkan berkilau-kilau jika warnanya menunjukan keputihan, dan semua orang pun lebih memburu pasir nan putih bersih, tidaklah sama dengan kau, Gelombang jahanam. Kau hanya makhluk yang tertipu dengan kilau-kilau bentukan mentari. Kilau-kilau yang akan hilang sesampainya engkau untuk menelannya bulat-bulat.”

Sebuah batu karang kecil melambung terbang mengejar gelombang ombak yang semakin mundur, memercik di kejauhan yang semakin sunyi di tengah kegemuruhan gelombang-gelombng pasang. Kini seketika gelombang pasang semakin meninggi memburu dengan lantang menelan lelaki gundah, menggulung-gulung membasahi bara-bara yang berkecamuk dalam hati. Beberapa teguk sempat menghentikan nafas sosok itu, ia basah dengan kegeraman.

“Kau marah, Ombak?”

“Aku benci dengan keraguan, dengan orang yang tak bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Jika kau takut dengan terali-terali besi, ceritakan saja pada pamong-pamong rakyat, para pelindung-pelndung berseragam yang buncit itu.”

Ombak hitam semakin meninggi menabirkan sinar mentari, membayangi sang karya.

“Apakah kau gila? Itu sama saja dengan aku menenggak racun yang akan membunuhku, yang akan menghancurkan keluargaku sendiri.”

“Lalu, di manakah jiwa juangmu itu, jiwa yang selalu mencintai tanah airnya, tanpa peduli keluarga pribadi, tanpa melihat ke belakang untuk menyerang ke depan, apakah semua itu sudah susut hanya karena angka nol yang berlubang?”

“Akh, omong kosong dengan perjuangan. Toh, mereka yang mengkhianati negeri, tetap dipuja negeri. Toh, mereka yang merampas perut rakyat tetap dihormati rakyat. Lantas apakah ini yang disebut dengan mengkhianati? Jika yang disakiti masih mau membanggakan yang telah mendzaliminya, masih mau mendukung di kala meminta?”

Dengan suara lantang, pria busuk itu semakin membusungkan dirinya. Ia hampir kalah dalam kerapuhannya dengan penuh tekanan yang menyesakkan. Ia tertawa dalam kesedihan, terbahak-bahak setelah kalah bagaikan keledai yang mengumpankan dirinya dalam mulut harimau kelaparan. Kini sebuah gelombang yang semakin tinggi, hitam, kelabu menenggelamkan bertubi-tubi, menegukkan beberapa volume asin pekat.

“Hai Pecundang sejati, kau takkan merasakan kenikmatan, kau takkan merasakan kebahagiaan meskipun kau dalam kegelimpangan, kegelimpangan dari hal menjijikan, meskipun hanya satu null kau tambahkan dalam worksheetmu, namun berjuta-juta balasan akan kau terima nantinya, dari-Nya. Sebanyak orang-orang yang telah kau minum keringatnya, yang telah kau cekik perutnya, tahukah kau itu!”

“Diam kau, Setan laut. Apakah kau mau di belakangku? Apakah kau sudi memberiku sedikit kekuatan jika aku menantang eksekutif itu? Pastilah tidak! Kau hanya akan tertawa ketika aku menjadi pahlawan kesiangan di antara gundukan-gundukan perut buncit, dan kau pun terus berlari pergi bersembunyi meninggalkanku sendiri.”

“Dasar Manusia bodoh, lupakah kau dengan Penciptamu? Lalaikah kau dengan kekuasaan-Nya? Bersimpuhlah di hadapan-Nya maka kau akan menemukan pintu terang yang kau bingungkan itu. Memohonlah untuk kebenaran, jika perlu menangislah kalau kau merasa lemah.”

Kini, ombak kelam itu pergi, pantai kembali tenang dengan kecerahan yang biru. Di kejauhan kembali gelombang seraya berkata, “Jika kau yakin dengan pertolongan-Nya, pastilah selamat kau dengan penuh kedamaian.”

Kaki-kaki lemah itu kini berhenti membusuk, berganti wangi kian semerbak berdifusi dalam pelarian. Tangannya telah bebas dari borgol-borgol kedustaan sebuah kultur dalam negeri nan elok lagi kaya ini, ironis.

”Bapak polisi, aku akui aku telah mendapatkan mandat langsung dari manajer keuangan di dalam instansi yang di sana aku menyambung hidup, untuk menambahkan satu nol dalam laporan keuanganku. Niat itu aku urungkan. Bukan apa-apa, aku hanya tidak bisa membutakan mataku terhadap orang-orang di luar sana dan, sesungguhnya aku takut dengan Tuhanku, sekarang terserah Bapak selanjutnya.”


December 5, 2009

Kisah Seorang Schizophrenic


Di sudut ruangan itu, dengan sebatang Marlboro terakhir di sisa hari ini, dia coba membunuh tangisnya sekali lagi dengan kepulan asap rokok. Kepulan-kepulan asap yang membuat ingatannya mengembara. Kenangan masa kanak yang saling bertubrukan, berhamburan keluar dari memori otaknya. Juga saat-saat terakhir bersama sosok ayah yang tak pernah sempat bisa membahagiakannya.

”Ayah aku rindu,” keluhnya, tertahan pun hanya dalam hati.


Tanah airku IndonesiaNegeri elok amat ku cintaTanah tumpah darahku yang mulyaYang kupuja s’panjang masa

Lamat didengarnya suara nyanyian Rayuan Pulau Kelapa dari tape di dalam ruangan kerja staff administrasi. Dia ingat lagu itu adalah ciptaan Ismail Marzuki. Pencipta lagu yang namanya diabadikan pada taman ini.

Di sini, di antara dinding yang putih membisu, dia ikut bernyanyi. Di antara rintihan irama luka atau nyanyian suka yang kadang terasa sangat dipaksakan. Suaranya mengiringi gesekan pelnya yang seakan menyayat kelu lantai yang sudah muak karena terinjak-injak bertahun-tahun lamanya.


Tanah airku aman dan makmurPulau kelapa yang amat suburPulau melati pujaan bangsa sejak dulu kala

Marmer wastafel yang angkuh itu, yang selalu menuntutnya untuk mengeringkannya. Cermin gagu nan sombong yang selalu merayunya untuk mencemerlangkannya, karena seribu kepalsuan dan kepongahan selalu dan selalu saja memburamkannya. Bau Clorox dari sudut celah-celah dudukan WC yang baru disikatnya itu membawanya semakin larut ke dalam pintu rindu akan sosok seorang ayah yang tiada.

”Seandainya saja aku tidak dikalahkan kepapaan. Seandainya saja hidup itu sangatlah mudah seperti mereka. Seandainya saja… Ya, seandainya saja,” gumamnya lesu.


Melambai-lambai, nyiur di pantaiBerbisik-bisik, Raja K’lana

”Ayah, aku ingin memeluk bahumu sekali lagi dan akan kutumpahkan seluruh cerita hari ini. Betapa lelahnya aku menghadapi hidup,” keluhnya lagi. Dengan enggan dia bangkit dan berjalan gontai. Pulang ke rumahnya. Saat itu jam menunjukkan pukul 21.00 WIB bersamaan dengan berakhirnya lagu Rayuan Pulau Kelapa.


Memuja pulau, yang indah permaiTanah airku……Indonesia.

Kamar temaram. Dia masih merasa canggung menatap wajah dirinya sendiri dalam sosok yang berbeda. Seperti sedang bercermin tetapi bayangan di depannya bergerak melewati bingkai cermin dan mencipta menjadi sosok serupa dirinya sendiri.

“Apa yang salah dengan hidupku? Kenapa aku tidak pernah merasa hidup?” tanyanya kemudian. Sosok itu tersenyum.

“Coba mendekatlah kemari. Dan lihatlah wajahku.”

Dia mendekat. Mengamati wajah dari sosok yang ada di depannya dalam cahaya kamar yang temaram. Dia melihat wajahnya sendiri, hanya saja dia merasa ada sesuatu yang ganjil disana.

“Luka itu?” bisiknya pelan.

“Iya, luka itu tak ada lagi di wajahmu. Dulu luka itu adalah kesalahanmu yang tak pernah kau mengerti,“ kata sosok itu kemudian.

Dia memegang bekas luka di pelipis kirinya. Hampir menyatu dengan kulit dahi. Padahal dulu begitu menganga. Sebuah luka yang tak akan pernah dia lupakan. Luka yang terjadi di saat dia masih berusia 19 tahun. Tepat ketika dia mulai tergila-gila dengan buku-buku Filsafat dan Novel Sastra yang dibacanya di gerai buku di TIM. Freud, Nietzsche, Kant, Voltaire, Plato, dan Tolstoy adalah filsuf idola sekaligus pahlawan baru bagi dunianya. Saat itu semua yang ada menjadi abstrak, termasuk dunia dan apa yang dia rasakan.

Dia dibesarkan sebagai anak tunggal, dalam kondisi keluarga yang membuatnya marah sekaligus menangis. Kemiskinan yang sangat. Hingga untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari ibunya harus berjualan keliling termasuk mangkal di depan TIM. Namun ibunya selalu mengajarkan padanya tentang kebahagiaan sebuah keluarga.

Ibunya adalah sosok seorang wanita pendiam, selalu menutupi kepedihan dalam senyuman agar terlihat bahagia di depan anaknya. Tetapi pada saat yang sama dia sering mendapati ibunya duduk sendiri di halaman belakang dalam gelap malam dan sembab air mata. Dia pikir karena ibunya lelah saja, setelah berjualan seharian dan setiap hari.

Sedangkan sang ayah??!! Tak banyak yang dia ingat tentangnya. Yang dia tahu, Ayah adalah sosok yang tak pernah dia mengerti kehadirannya. Hingga sang Ayah pulalah yang membuatnya terpuruk. Membuat kandas mimpi-mimpinya dulu dan sekarang berakhir sebagai cleaning service di TIM. Dia menggeram. Marah. Dia ingat malam itu lagi….

Sebuah malam ketika sang Ayah pulang larut malam dengan mata merah darah penuh kemarahan. Dan malam itu tanpa alasan yang jelas, sang Ayah memukul dia hingga tersungkur di sudut ruangan. Cincin besi itu merobek pelipis matanya hingga darah mengucur di lantai ruangan hingga dia pingsan. Sejak saat itu, sosok sang Ayah adalah sosok yang sangat menakutkan baginya. Hampir setiap hari sang Ayah selalu mempunyai alasan untuk memukulinya dengan tangan atau mencambuknya dengan sabuk kulitnya. Atau mengurungnya dalam kamar mandi sepanjang malam tanpa cahaya.

Sang Ibu hanya bisa diam dalam tangis, dan baru menghampirinya ketika dia sudah mulai tersungkur di lantai nyaris pingsan. Dalam sisa kesadarannya, dia hanya bisa melihat ibunya berkata sesuatu, tapi dia tak bisa lagi mendengarnya. Saat seperti itu, semua menjadi sunyi. Pendar cahaya hanya bergerak-gerak tanpa suara. Dunia menjadi bisu…..

Luka di pelipisnya mendadak berdenyut. Sakit sekali. Emosi dan kemarahannya pada masa silam, kembali memompa aliran darah berlebih ke otak, sehingga menghasilkan impuls luar biasa sakit pada jaring-jaring syarafnya. Dia terkulai di lantai.

“Tapi ini semua karena kesalahan ayahku!!! Dia yang selalu menghajarku hingga aku pingsan! Dia yang tak pernah mau mengerti anaknya sendiri! Dia yang merobek pelipisku, juga semua bekas cambukan sabuk kulitnya di tubuhku!! Semua karena ayahku hingga akhirnya aku memutuskan untuk lari pada minuman keras!! Kenapa aku yang disalahkan??!!”

Sosok itu menatapnya dalam-dalam.

“Luka itu bukan dibuat oleh ayahmu,” kata sosok itu pelan.

“M….m….maksudmu?”

“Iya. Bukan ayahmu yang membuat luka di wajahmu dan semua bekas cambukan di tubuhmu.”

“Lalu siapa yang membuat semua luka ini?” Sosok itu mendekat.

“Dirimu sendiri,” jawab sosok itu pelan.

Dia merasa limbung dengan jawaban sosok yang ada di depannya. Bagaimana mungkin?

“TIDAK!!! TIDAK MUNGKIIINN!!! Ayahkulah yang setiap hari pulang larut malam dengan mata merah dan menyeretku turun dari tempat tidur. Dia yang memukuliku dan menghajarku hingga aku nyaris pingsan!! Ayahku yang mengurungku sepanjang malam di dalam dingin kamar mandi gelap tanpa cahaya. Ayahku yang melakukan itu semua!! Ayahku yang……..aarrgghh!!”

“HENTIKAN!!!” Sosok itu memegang lengannya.

“SADARLAH!! AYAHMU TAK PERNAH ADA DI DALAM KELUARGAMU! AYAHMU TAK PERNAH SEKALIPUN BERTEMU DENGANMU! DI RUMAH ITU HANYA ADA KAU DAN IBUMU!DAN TIDAK PERNAH ADA SOSOK SEORANG AYAH PUN DI SANA!TIDAK PERNAH ADA!!”

Dia terkulai lemas mendengar jawaban itu. Seandainya jawaban itu bukan dari sosok dirinya sendiri, mungkin dia tidak akan percaya. Semua kata tercekat di tenggorokan, pandangannya nanar, dia jatuh terduduk.

Sosok itu mendekat dan duduk di sampingnya. Sejenak hening menciptakan jarak di antara mereka.

“Ayahmu telah meninggalkan ibumu saat kau masih dalam kandungan. Sejak kecil, hanya ibumu yang mengasuhmu sendiri dengan keringat dan darahnya. Tetapi keinginanmu tentang kehadiran figur ayah, menciptakan sebuah sosok seorang ayah dalam duniamu sendiri. Sosok ayah tempatmu bermanja dan menghabiskan waktu bermain di taman atau memancing di sungai seharian. Sejak kecil kau selalu mengajaknya bicara dan memintanya membacakan cerita sebelum tidur. Padahal di sana tidak ada siapa-siapa.”

”Ibu tahu itu semua, tetapi dia hanya bisa diam dan menangis melihat itu terjadi. Dia tidak ingin menyadarkanmu dan mengambil semua mimpi dan kebahagiaan yang kau rasakan bersama sosok seorang ayah di dalam duniamu. Dia tahu, dia tak bisa memenuhi figur orang tua sepenuhnya bagi dirimu,” sosok itu bercerita perlahan.

Matanya terasa panas, dan perlahan airmatanya meleleh. Dia teringat kembali wajah ibunya yang sembab karena air mata ketika tanpa sengaja dia memergokinya di halaman belakang. Jadi semua air mata itu karena dirinya?

“Sampai akhirnya ketika kau mulai dewasa, dan mulai banyak membaca dan berpikir, sosok ayah yang kau ciptakan itu ternyata tidak juga hilang karena tanpa kau sadari, kau telah merasa nyaman dengan dunia yang kau ciptakan sendiri. Sampai akhirnya sosok ayah itu menjelma menjadi alter ego-mu sendiri. Menjadi wujud dari kemarahan yang ada dalam dirimu. Sosok ayah yang telah memukul pelipismu, menghajarmu dan menguncimu dalam kamar mandi, adalah dirimu sendiri.” Sosok itu menghela nafas. Dia tahu ini akan menjadi sesuatu yang tidak mudah untuk diterima.

“Luka di wajahmu itu adalah awal dari fase kemunculan alter ego-mu. Malam itu, tanpa sadar kaulah yang telah mengiris pelipismu sendiri dan membenturkan kepalamu hingga berdarah dan nyaris mati. Dirimu dalam ’sosok ayah’ mu yang kau ciptakan sendiri. Sejak saat itu hampir setiap malam kau melakukan hal yang sama. Ego-mu dalam sosok ayahmu yang memukulimu, mencambuk tubuhmu dengan sabuk kulitnya, dan mengurung dirimu sendiri dalam kamar mandi.”

”Ibumu tak bisa mencegah semua itu terjadi. Dia merasa semua ini adalah kesalahannya karena membiarkan sosok ayah itu tetap hidup dalam duniamu. Dia hanya bisa menangis, melihatmu menyiksa diri. Dia mengangkatmu ke tempat tidur ketika kau hampir pingsan. Membersihkan setiap darah di lantai kamar seakan tak terjadi apa-apa. Dia tak ingin membiarkanmu dirawat di rumah sakit jiwa karena dianggap schizophrenic oleh dokter.”

”Sampai akhirnya kau memutuskan lari pada minuman memabukan dengan alasan tidak tahan perlakuan ayahmu. Padahal kau bukan sedang berlari dari ayahmu, tetapi kau berlari dari dirimu sendiri. Dari alter ego-mu. Dan meninggalkan ibumu dan Tuhanmu!”

Waktu seakan berhenti untuk memberi ruang pada sketsa hidupnya yang satu persatu muncul kembali pada layar pikirannya. Perlahan sosok itu pun memudar dan berangsur hilang dalam gelap.

Dia jatuh tersungkur. Badannya lemas. Dia merasakan pusing yang teramat sangat. Ruangan gelap itu seakan berputar kencang mengelilinginya. Pikirannya kacau. Dia mulai menggumam, mulai meracau. Tak ada lagi batas nyata dan abstrak dalam dunianya. Semua berputar menjadi satu. Begitu cepat memutar……

Dan di tengah pusaran yang berputar, dia melihat sebuah wajah yang begitu damai. Penuh senyuman. Wajah yang tak asing lagi. Dia berteriak, sebelum akhirnya semua menjadi gelap kembali.
BRAKK!!!

Sebuah bunyi keras, membawa kesadarannya kembali. Bunyi pertama yang dia dengar setelah sekian lama dia tak sadarkan diri. Di susul cahaya terang yang perlahan merasuk ke dalam kamarnya. Dia tak bisa bergerak hanya bisa tergeletak, lemah.

Sayup terdengar suara langkah mendekat. Dia tak bisa melihat dengan jelas, kepalanya masih terasa pusing. Sebuah gerakan perlahan nampak samar di depannya. Pendar cahaya sedikit demi sedikit membentuk sebuah garis wajah yang sempurna. Wajah itu, wajah malaikat terindah yang pernah ada. Wajah Ibunya!!

Dirasakannya usapan lembut di rambutnya. Ibu begitu mengasihinya. Dia tersadar dari mimpi buruknya semalam. Ternyata bayang masa lalu masih menaunginya. Tapi tak urung dia mengucapkan ”Alhamdulillah”. Allah masih menyelamatkan nyawanya hingga hari ini dan memberinya kesempatan memperbaiki diri di jalan-Nya.

Kupu-kupu beterbangan di atas sekuntum bunga yang baru mekar. Diam tak bergerak, diamatinya kupu-kupu itu. Mengagumi keindahan warna kupu-kupu, kuning kehitaman. Keindahan bunga berwarna merah muda keunguan. Juga keindahan cerahnya matahari menyilaukan mata. Keindahan suasana hatinya pagi ini.

Ya, hatinya. Dia mencoba membuat suasana hatinya lebih indah pagi ini. Meski jauh di dalam sana, ada yang tetap mengiris, pedih. Sakit. Teramat sakit. Tapi apapun itu, dan bagaimana pun ia kini, Ayah tetap figur idola baginya. Meskipun mungkin sampai mati, dia tak akan pernah tahu, siapa dan bagaimana sosok ayahnya.


Melambai-lambai, nyiur di pantaiBerbisik-bisik, Raja K’lana

Lagu itu kembali terdengar, seperti biasa. Dan seperti biasanya dia pun melakukan aktivitasnya. Membersihkan pekarangan taman ini. Dan bila sore menjelang malam, dia beralih ke belakang. Membersihkan toilet. Begitulah hidupnya sekarang. Kehidupan yang telah dijalaninya hampir lima tahun ini.


December 3, 2009

Mereka Yang Paling Setia

Bagaimana bisa aku tidak mencintai batangan-batangan nikotin kalau hanya merekalah teman paling setia di dunia ini, yang menemaniku saat sedih, senang, tertawa, menangis, bernyanyi, berdansa, berteriak, marah, bahkan putus asa. Menemaniku sebelum makan, saat makan, sesudah makan, sebelum menutup mata mengakhiri hari bahkan kembali membuka mata mengawali hari. Dengan setia menemaniku di atas kloset tanpa cerewet, diam ikut merenung bahkan turut menyumbang inspirasi tersembunyi dalam bilik sepi. 
Adakah yang lebih setia dari itu?

Bagaimana bisa aku menyangkal rasa setia mereka dan tidak turut berpartisipasi dalam mentolerasi kesetiaan bersama, kalau hanya mereka saja yang tak pernah mengeluh dengan segala ketidakteraturanku dalam hidup dan menjadi saksi bisu setiap detil rasaku, yang bahkan tak pernah ada yang tahu persis seperti apa yang mereka tahu. Batangan putih yang silih berganti dihisap, hilang tenggelam dalam asap, tak pernah sedikitpun marah dan terluka saat dijadikan pelarian tumpahan kekecewaan namun kemudian rela ditinggalkan dengan sia-sia dalam asbak, bergumul dalam sampah, dan dibuang entah kemana.

Malam ini, batangan putih itu juga yang menjadi saksi di saat semua sahabat lari, hilang, pergi, meninggalkan aku sebatang kara dengan segala permasalahan pribadi yang mereka bilang aku yang mulai sendiri. Di kamar aku membodoh. Dengan underwear berwarna merah darah, dengan tanktop berwarna hitam, gelap, pekat, suram, sesuram hatiku. Menatap cermin besar tertantang di dinding sisi kiri tempat tidurku. Duduk dengan kaki bertopang. Sikap menantang. Aku mencumbu batangan itu dengan penuh haru, seakan ingin menumpahkan unek-unekku, segala dukaku, kecewaku, kekesalanku, amarahku, lukaku, juga kebodohanku. Batangan nikotin menemaniku. Mereka setia di sini. Berusaha menambal luka hatiku dengan menyetubuhi paru-paru pemberi energi penenang, yang entah bagaimana prosesnya memang membuat tenang. Mereka menemaniku menari bersama iringan musik Kitaro-Matsuri. Dentangan kakiku mengikuti genderang instrumen Jepang. Rambutku tersibak. Kakiku menghentak. Tubuhku hanyut dalam instrumen. Dalam asap. Dalam parau hatiku yang meringis. Dalam tangis yang tak ingin aku akui. Dalam musik yang membuatku menari. Menari dalam sepi. Menari untuk lari. Bersama nikotinku.

Jangan salahkan aku, kalau Mama, Papa, calon suami, sahabat -sahabat baik, teman sekedar teman hingga selingkuhan mengatakan aku merokok seperti kereta api uap, mengepul, pul, pul, pul…, tanpa henti. Kamu sudah tahu alasannya, kan? Memang nikotin bangsat yang tak pernah protes kukata-katai bangsat ini sudah menjadi bagian oksigen laknat yang menjadi udara penyokong kehidupanku mengisi ruang paru. Mereka juga entah bagaimana menjadi sumber tenaga ketika aku lupa makan, bahkan memang terkadang aku tak butuh makan, cukup mereka saja.

Sekarang, katakan! Adakah sesuatu yang lebih setia dari pada itu di dunia penuh kepalsuan, perselingkuhan dan pengkhianatan seperti ini? Tidak. Adakah yang lebih bisa mengerti perasaanku dalam sepi, frustasi, atau bahagia melambung tinggi dari pada para batangan nikotin tersebut? Tidak. Bahkan ibu kandungku sendiri tidak bisa mengerti bagaimana perasaanku ketika aku menyepi dalam ruang kamarku sendiri, ditemani makhluk setia yang tak mengerti berbahasa. Ibuku hanya kecewa dalam tumpahan rasa lewat ucap yang seakan penuh logika yang tak ingin kupercaya, tak ingin kudengar dan menyudutkanku seakan menjadi anak durhaka. Ah!

Aku tanya lagi, apa seorang calon suami setia bisa mengerti betapa kecewanya aku saat setiap saat harus berhadapan dengan sikap hambar dan punggung bisu yang membelakangiku saat aku di sampingnya? Tidak. Dia sudah tertidur saat aku diam sendiri, mengumpat, dan memaki dalam hati sambil meringis iba membutuhkan dekapan hangat yang kuat. Lagi, cuma mereka, para nikotinku, cinta sejatiku, yang tahu bahwa aku wanita yang juga butuh belaian sayang, genggaman tangan erat, pelukan kuat walau tak ingin sejauh itu berharap sesi bercinta yang dahsyat dengan orang yang belum tentu tepat, belum tentu terikat kontrak lahir batin denganku atas nama sah, suami.

Ini lagi yang perlu kamu tahu, nikotin-nikotinku tak pernah mengatakan aku munafik hanya karena aku butuh belaian seorang calon suami, berbaring hangat di sisinya dalam sebuah dekapan dengan iringan piano Jim Brickman tanpa menginginkan sesi bercinta. Nikotin-nikotinku tahu bahwa aku seranjang dengan calon suamiku, bahkan tidur dengannya. Tapi, nikotin-nikotinku juga tahu bahwa aku dan calon suamiku tidur sesungguhnya tidur. Bahkan tidurnya calon suamiku benar-benar tidur. Tidurnya meniduri kasur dengan membalikkan punggung, memamerkan kulit indah tanpa atasan yang tak bercela, licin, mulus, tak berjerawat, dan sangat terawat. Nikotin-nikotinku sungguh tahu bahwa aku sangat terluka. Entahlah, apa mungkin ini perasaanku yang tak mau tau saja karena bisa jadi calon suami terkasih menghindari berjuta rasa yang tak mampu ditahan oleh syarafnya saat aku tidur di sisinya dengan tanktop tipis sehingga ia menjustifikasi untuk berbalik dan memberiku punggungnya saja? Tapi, bangsat! Itu jahanam penghancur perasaan. Aku seakan seonggok kotoran tak berharga. Nikotin-nikotinku sungguh mengerti, bahwa aku butuh tangannya saja memelukku kuat dalam dadanya yang hangat. Hanya pelukan. Aku hanya butuh pelukan, itu saja. Karena nikotin-nikotinku cukup tahu bahwa aku tak sebegitu butuh bercinta dengan manusia. Nikotin-nikotinku mengerti, bahwa saat ini, aku cukup puas bercinta dengan mereka saja.

Dan, lagi, ketika frustasi ini seakan membuatku mulai gila. Para sahabat tak ada. Mungkin sebagian dari mereka yang tahu hanya mengiba, dan sebagian yang tak tahu sedang asyik tertawa-tawa. Entah dengan siapa. Entah dengan pacar mereka atau teman sekedar teman yang tak mau mereka akui selingkuhan. Dan, apa sahabat-sahabat manusiaku disini? Malam ini? Tidak. Apa sahabat-sahabat manusiaku bisa selalu ada di dekatku setiap saat setiap waktu? Ketika frustasi menghantui atas tekanan, rasa marah hingga kecewa pada hal-hal yang terjadi denganku setiap saat? Tidak. Seperti malam ini, saat hujan di luar turun merintikki bumi, saat secangkir kopi panas mendifusi kehangatan kesekujur tubuh, para sahabat mungkin tengah sibuk bersembunyi di balik selimut mereka masing-masing, sendiri, atau bersama pasangan mereka, bercinta, mencinta, dicinta. Taik! Mereka bahkan tidak setiap saat selalu tahu kapanpun ‘bangsatnya’ perasaanku berantakan tiba-tiba. Saat seperti malam ini, ketika aku meratapi diri atas kebodohanku sendiri memanipulatif hubungan disfungsi dengan seseorang yang lebih dikenal dengan sebutan trend ’selingkuhan’ di jaman-jaman belakangan. Konflik hati ini tak mungkin pernah dimengerti oleh para sahabat yang terus menerus menyudutkanku dengan rong-rongan perasaan bersalah mengkhianati seorang calon suami setia yang telah menyediakan rumah indah. Dan, lagi, hanya nikotin yang mengerti.

Dalam setarik nafas saja, membaur dalam paru-paru, mereka sudah tahu kenapa aku seperti itu. Kenapa aku memilih menjalani sesuatu yang mempertaruhkan hubunganku yang sangat stabil dengan calon suamiku tercinta yang tak pernah bermasalah. Setidaknya tak pernah bermasalah baginya, tapi bagiku. Mereka, para nikotinku tahu, bahwa aku jenuh. Bukan jenuh karena memaksakan cintaku. Tapi, jenuh karena degradasi perasaan yang tak pernah di update seperti Antivir yang mungkin rutin sebulan sekali memperbaiki diri. Ketika aku mendominasi hubungan dan saat harus selalu menjadi si pembuka cerita hingga si pengurut kaki yang terlalu banyak bicara, aku mulai merasa aku bercakap terlalu banyak, untuk diriku sendiri dan tidak begitu ditanggapi. Tidak ada respons yang jangankan bisa di cerna di terima pun tak ada. Oh, bagaimana bisa dikatakan timbal balik hubungan, ketika hanya aku, lagi, yang begitu dominan, padahal aku perempuan.

Dan, nikotinku tahu. Aku begitu butuh pengakuan perempuan dalam posisi ini. Pernyataan seorang ‘perempuan’ yang selalu kuhindar karena konotasi sempit, tapi kucari malam ini. Aku sebagai perempuan. Perempuan yang juga sesekali ingin disentuh ketika aku ingin disentuh. Perempuan yang sesekali ingin merasakan rasa sayang ketika aku ingin merasa disayang. Perempuan yang butuh timbal balik rasa lewat canda ketika aku butuh merasa dicanda. Calon suamiku tak tahu. Atau aku rasa ia malas untuk tahu. Pecundangnya aku. Hanya nikotinku saja yang mengerti itu. Sebatang benda berwarna putih penghasil asap pengkerat paru. Nistanya aku.

Hanya mereka yang tahu bahwa aku perempuan yang banyak bicara, hanya pada orang yang bisa diajak bicara. Aku perempuan yang bisa dekat hanya pada mereka yang bisa kudekat. Aku perempuan yang bercerita hanya pada mereka yang bisa kuajak bercerita. Dan, aku perempuan yang memberi hangat pada mereka yang bisa kuberi hangat. Lantas mereka juga tidak mengata-ngatai aku seorang munafik, lagi, seperti para sahabat. Karena aku mengenal, berteman, teman lebih dari sekedar teman dengan seorang teman yang lebih dari sekedar teman yang teman. Nikotinku tahu, bahwa dia memiliku sesuatu yang aku butuh. Tapi, terkadang apa yang aku butuh dan ia butuhkan itu menakutkanku. Nikotinku tahu, aku tak berselingkuh, seperti kata para sahabat. Nikotinku tahu bahwa aku tahu dimana aku harus bernyanyi dengan laguku, menari dengan musikku. Dan, mereka tahu persis bahwa ini juga musik lain yang aku dengarkan, aku resapi, aku jalankan, membuatku menari dalam satu waktu sesaat, seperti Kitaro yang berlanjut menjadi S.E.N.S, Clanad, Indra Lesmana, Ryuichi Sakamoto, hingga Kenny G.

Adakah lagi yang bisa lebih setia dari itu? Katakan, ayo katakan! Nikotinku tidak membuatku mabuk, seperti Martini, Balalaika ataupun Vermouth. Nikotinku masih menempatkan akal sehatku di atas kepala. Nikotinku tidak membuaiku dalam tawa palsu seperti selinting ganja. Dan, nikotinku tak pernah menghipnotisku dengan goyangan tanpa henti seperti para ecstasy. Nikotinku menemaniku tanpa pamrih, setidaknya untuk malam ini, untuk hari ini. Adakah lagi yang bisa lebih setia dari pada itu. Ayo katakan!

Adakah kemudian seorang selingkuhan mengerti betapa rapuhnya perasaanku atas sikap pembodohannya dan pembodohanku? Tidak. Dia tak bodoh. Aku yang bodoh. Dan aku merasa dibodoh bodohi oleh perasaan bodoh yang bodoh. Apa yang kurang sempurna dari seorang calon suami setia yang tak banyak bicara, tak banyak bercerita, tak banyak bercakap, tak banyak bertanya, tak banyak maunya, sehingga tak bicara, tak bercerita, tak bercakap-cakap, tak bertanya, dan tak tau maunya. Apakah yang kurang sehingga aku harus memburu-buru perasaan kasih sayang pada orang lain yang baru kukenal. Hinanya aku. Hinanya kamu membuat aku seperti itu. Tapi, aku lebih hina. Jalang!

Ya, apa yang kurang dari selingkuhan yang punya ketertarikan yang sama? Sama-sama menghargai seni, sama-sama bisa timbal balik dalam diskusi, sama-sama bisa bercerita, diajak bicara, hingga bercinta. Gila! Siapa yang gila? Apa aku gila? Lantas siapa yang membuatku gila? Dia. Dia, siapa dia? Dia saja. Dia yang menurutku saja dia. Entah dia yang dia atau dia yang dia lagi. Dia, saja. Yang pasti itu dia.

Dan malam ini aku masih di sini, lelah menari, keringat membasahi diri. Nikotinku masih setia bersamaku di sini. Menemaniku hangat dalam malam penat yang dirintiki hujan. Hujan sialan yang membasahi tubuhku dan menyelimuti dingin yang menggumpal darahku, menjadi gatal pembiang alergi ketika aku berlari dalam kecepatan tinggi di atas sebuah kuda besi. Saat hatiku hancur menerima kenyataan pembodohan perasaan yang aku sadari, tak ia sadari, atau tak ingin ia sadari.

Nikotinku di sini. Calon suamiku, tidak. Nikotinku di sini, sahabat-sahabat baik, tidak. Nikotinku di sini. Selingkuhanku tidak. Nikotinku di sini. Masih setia menemani. Katakan ayo katakan lagi! Adakah yang lebih setia dari pada mereka, nikotin-nikotinku?


Kopi Hitam Pagi Hari

Aku hanyalah kepingan-kepingan jiwa yang berserakan di lantai tempatmu menapak
Tak bernilai jika dibandingkan kilauan cahaya yang tersimpan di sudut matamu
Aku hanyalah senyuman pahit pada kopi hitam pagi harimu
Mencoba merangkak dari pinggir gelas untuk menyentuh bibirmu yang ranum
Adakah kau lihat aku di bawah sini
Mencoba meneriakkan sunyi hati yang terbawa sepi
Galau yang membuncah di hati tertelan kata demi kata
Karena aku hanyalah noda di kain putih yang ingin segera kau enyahkan
Tanpa sadar mengemis hatimu yang takkan berpaling



December 1, 2009

Sebut Saja Aku Gila

Aku disebut gila diantara orang gila, lalu kalau begini siapa yang sebenarnya gila?

Kata orang aku gila memakai sweater tebal dihari yang sangat panas, kata orang aku gila menari ditengah kerumunan orang banyak, kata orang aku gila berlari-lari dilapangan ketika petir sedang ramai menyambar, kata orang aku gila berbicara dengan tanaman.

Tapi mengapa hanya kata 'gila' yang terucap keluar dari bibir mereka ? Mengapa tidak ada yang mau sedikit bersusah-susah bertanya 'kenapa' ?

Impian yang salah. Seharusnya itu yang aku tanamkan dari kecil di otakku, hei bersikaplah seperti orang kebanyakan, tapi aku memilih untuk menjadi yang unik, bukan gila. Mereka hanya tidak pernah mengerti, bahwa aku memakai sweater disiang hari yang panas, karena itu satu-satunya baju yang aku punya, aku menari ditengah kerumunan orang banyak karena aku bersyukur sampai sekarang aku masih hidup didunia ini, aku berlari dilapangan dikala petir menyambar, karena aku gembira karena sudah sebulan ini tidak turun hujan, dan aku berbicara pada tanaman karena tidak ada orang yang sudi untuk mendengarkan kisah sukaku atau dukaku, tapi lagi-lagi aku disebut orang gila...

Demikian mereka memandang aku, tapi aku yakin orang yang ramai-ramai menyesengsarakan rakyat, merekalah yang harusnya disebut orang gila, mereka yang duduk di cafe atau membuang uang ke pelacur-pelacur itu sementara didepannya ada orang yang merintih kelaparan, merekalah yang seharusnya dikatakan gila. Mereka yang mengambil lahan tempat tinggal kami dan membiarkan kami mati dengan perlahan, merekalah yang paling gila....

Hmm ... Ya sudah baiklah, aku tidak mempedulikan kata-kata gila dari orang macam mereka. Kegilaan sudah lama bernaung didalam pikiran aku, kamu, bahkan kita.

Tapi tolong, jangan sebut aku orang gila hanya karena kamu menganggap diri kamu sempurna.



November 19, 2009

Gerimis



Gerimis. Dan dia diam.

Hanya badannya yang bersandar di tembok sesekali terguncang pelan. Ada danau menggenangi matanya. Ya, dia menangis diam-diam. Sudah hampir dua jam aku merayunya berbicara. Namun, seberapa kalimat yang meluncur dari bibirku, selama itu pula ia memilih tak berbicara. Jujur aku bingung. Bibir mungilnya yag terbiasa ramai oleh bunyi kini terbungkam rapat tanpa suara.

“Berceritalah..!” pintaku. Tetap tak tersahuti.

“Katakan di pucuk pohon mana kau menginginkan kita bercinta?” tanyaku menggodanya.

Mendengar kalimat itu, sebentar matanya menantang mataku. tapi, hanya sebentar. Kami memang tak pernah benar-benar berani bercinta. Setumpuk firman dalam kitab suci masih cukup untuk menakut-nakuti kami berdua bila melakukannya. Sederet nilai seolah menjadi jangkar yang memberati pikiran untuk meyakini bahwa hal kayak gitu mah biasa.. Bercinta di atas pohon tertinggi adalah imajinasi terliar yang pernah kami obrolkan. Hahaha, sungguh diskusi dua orang penakut.


Dia masih saja diam.
Sementara di luar, gerimis terus-menerus turun. Sesekali tempias airnya masuk melewati lubang jendela kamarku yang tak tertutup rapat. Kulirik jam dinding, sudah pukul 17.13 WIB. Beberapa jam sudah berlalu sejak ia datang dalam diam. Aku sudah mulai kelelahan merayunya berbicara. Aku pun sudah hampir kehilangan kalimat-kalimatku sendiri. Aku mulai…
Tiba-tiba saja dia berbicara “Aku hamil…tidak denganmu. tapi orang lain”

dan di luar masih saja gerimis..



**


Sebuah pesan singkat tiba2 muncul dalam inbox HP-ku.

“Kutunggu di taman yang dulu, jam 5 sore ini. Alena.”

Aku masih tak percaya. Kuulangi sekali lagi membacanya. Masih sama. Tak ada satu pun huruf yang berubah. Tanpa bermaksud merendahkan kemampuan teknologi aku mencoba mengamankan perasaanku dengan berusaha tak percaya.

Bagaimana mungkin Alena tiba-tiba muncul lagi dalam kehidupanku. Telah delapan tahun aku mencoba mengubur segala ingatan tentangnya. Let the dead is dead. Yang mati biarlah mati.

Aku berusaha kembali menekuri pekerjaanku yang nyaris terancam deadline. Tinggal satu halaman saja, maka aku bisa menyetorkannya pada redaktur sore ini juga. Tak terlampau susah buatku untuk menyelesaikannya. Semua sudah ada di kepala.

Sedetik, dua detik, semenit, merambat satu jam. Tanganku tiba-tiba terasa tak bisa bergerak. Dua puluh enam simbol alphabet ditambah 10 angka dan ikon-ikon lain dalam tuts keyboardku seolah hilang arti. Bahkan tiba-tiba 17 inch layar monitor di depanku langsung menjelma dirinya. A L E N A…

Ah, pesan yang dikirimnya sore ini tak kusadar telah mendera batin. Ingatan kembali tentangnya kurasa bagai pukulan emosional yang nyaris tak terlawan. Mungkin seperti ini rasanya ketika Superman bertemu hijau batu krypton?

Arrgghh…mengapa aku masih saja seperti ini.

Alena adalah kosong. Nama dan bayangannya telah kubunuh bertahun-tahun lalu.

Aku memang telah memaafkan segala pengkhianatannya. Walau sangat berat aku berusaha menaruh egoku di koordinat terbawah waktu itu. Ia hamil dengan orang lain. Ia tak pernah mau pernah mau bercerita siapa lelaki itu. Bahkan, sampai akhirnya ia pergi menghilang aku tetap tak mampu marah.

Pergilah dengan semua cinta yang kau punya. Biarkan aku berjalan semampunya dengan mengumpulkan sisa-sisa patahannya. Getirku sudah lenyap. Sebab, kegetiran yang bertumpuk-tumpuk tak akan terasa lagi sebagai kegetiran. Ia hanya akan menjadi rasa yang biasa.

Sudah jam lima lebih lima menit. Jika harus datang menemui Alena sore ini aku telah terlambat. Aku tak peduli. Ruang dan waktu hanyalah buatan manusia. Sementara rasaku adalah adikarya Tuhan yang bahkan tak diberikan-Nya kepada malaikat sekalipun.

Tak sampai sepuluh menit aku telah tiba di taman. Taman akasia tempat kami dulu sering menghabiskan hari. Aku berjalan menuju bangku kosong di bawah pohon akasia terbesar di pojok kiri taman. Tempat duduk favorit kami. Aku duduk sendirian. Alena belum datang.

Alena bukan lagi kosong. Sore ini ia berubah wujud menjadi teka-teki silang buatku. Pertanyaan demi pertanyaan muncul tanpa jawaban. Apa kabarnya? Apakah yang diinginkannya dariku sore ini? Masih kah wajahnya yang tirus membius itu mampu memompa adrenalinku? Entahlah…

Sedetik, dua detik, semenit merambat satu jam. Alena belum juga datang.

satu jam, dua jam, tiga jam. Alena belum juga hadir melegakan penantianku.

Gerimis mulai turun menemani malam yang semakin menua. Sudah lima jam aku menunggu di bangku taman ini. Sendiri.

Akhirnya aku berdiri. Berjalan menerobos gerimis. Meninggalkan kosong, menuju pasti.
Walau malam gerimis…



***




Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku pelan.

“Mari kita pulang. Biarkan dia istirahat dengan tenang”. Aku menoleh, lalu mengangguk.“Bukan hanya kamu yang merasa kehilangan. Tapi, sudahlah. Dia telah memilih jalannya sendiri,” ujar ayah Alena sambil tetap memegangi pundakku.

Aku berdiri, kemudian mengiringinya meninggalkan pekuburan tempat Alena baru saja ditanam. Belum genap lima meter berjalan memunggungi kuburan, aku sudah diburu rindu. Kusempatkan lagi menengok gundukan tanah basah tempatnya menjalani tidur panjang tanpa mimpi. Tiba-tiba saja aroma kamboja meruap. Lembut. Dalam sedetik seluruh pekuburan menjelma putih kapas. Aku tergeragap. 

Ah, malaikat memang tak pernah mau hadir terlambat. Ia selalu datang dan beruluk salam pada penghuni baru, tepat setelah langkah ketujuh pelayat terakhir meninggalkan makam.

Daun-daun akasia yang berwarna kuning banyak berjatuhan. Ia seolah mengabarkan kelelahan bertahan menghadapi kemarau yang membakar dan tak putus-putus. Senja ini aku duduk sendiri di bangku taman akasia. Satu demi satu kubuka tiap lembar halaman buku harian Alena. “Sebelum masuk rumah sakit jiwa Alena tak sekecap pun mau berbicara. Dia hanya menulis. Rupanya ada banyak hal yang ingin disampaikannya kepadamu. Ambillah! Kamu lebih berhak untuk menyimpannya,” ujar mama Alena ketika aku mampir ke rumahnya seusai pemakaman.

Membaca buku harian Alena membuat kesedihan tumpah ruah.

7 Desember 2008 (malam jahanam)Tuhaaaaan!!!!!! Takdir macam apa ini????? KAU biarkan bajingan bajingan itu mengobrak-abrik kehormatanku, menindas kemanusiaanku. Apa salahku????? Bukankah KAU yang berkehendak menjadikanku perempuan???? Kenapa KAU relakan orang-orang itu melecehkan martabat yang sudah kujunjung tinggi-tinggi???? Aku benci KAU Tuhan. Aku benci Tuhan yang telah membiarkanku diperkosa.

30 Desember 2008Lihat, lihatlah…aku mual-mual tanpa ampun. Jangan…J angan sampai aku hamil oleh benih para jahanam itu. Tolong Tuhan, sekali ini saja dengar dan kabulkan permintaanku!

31 Desember 2008
Fucking Pregnant…!!!!!!!!!!

1 Januari 2009
Resolusi awal tahun: Bunuh Diri

7 Januari 2009 Menatap mata teduhmu sore tadi membuatku luluh lantak. Mengingat caramu merayuku berbicara seperti menahan rasa perih sebab tertikam tepat di ulu hati. Aku mencintaimu. Sebab itu kalimatku tak pernah sampai. Aku tak pernah tega mengabarimu yang sebenarnya. Aku ingin kau membenciku. Karena itu bisa mengeruk perasaan bersalahku yang bergunung-gunung kepadamu. Aku ingin kau membenciku, seperti aku membenci takdir yang berjalan buruk.

8 Januari 2009 Aku masih mencintai gerimis, dan membenci badai.

13 Januari 2009 Virginia Wolf membunuh dirinya sendiri dengan mencebur ke dalam sungai. Hitler tewas setelah menembak kepala sendiri di lubang persembunyiannya. Cak Sakib tetangga sebelah rumah mati dikeroyok massa karena dituduh dukun santet. Ustadz Rojil mengembuskan penghujung nafasnya saat sujud salat di musala rumahnya. Adakah bedanya bagiku? Tidak ada! Kematian sesungguhnya peristiwa biasa. Kecuali ia menimpa orang-orang dekat kita.

18 Januari 2009 Janin dalam rahimku tumbuh bersama kebencianku pada hidup.

21 April 2009 (Saat aku ragu apa gunanya menjadi perempuan) Ini hari kartini. Sudah seminggu aku tergolek di rumah sakit, Mama memergoki dan menggagalkan usahaku bunuh diri. Aku tetap hidup, tapi janinku mati.

18 Agustus 2009
Lucu. orang-orang menganggapku mulai gila. Padahal, sungguh aku tidak apa-apa. Aku hanya muak pada garis dunia yang tidak berpihak kepadaku.

19 Maret 2009
Dear Erlangga. Tiba-tiba aku kangen kamu. Aku ingin menangis tapi tak bisa. Mungkin juga sudah tak perlu. Aku ingin kita bertemu di taman yang dulu, tapi tak bisa. Mungkin juga sudah tak perlu. Tahukah kau betapa sakitnya terpuruk pada keinginan yang tak sampai. Aku mencintaimu lebih dari sekedar yang bisa aku lakukan. Alena.

21 Mei 2009 Hari ini aku masuk rumah sakit jiwa. Bukankah itu artinya aku sudah benar-benar gila??!!! Hahahahaha. Sungguh aneh orang-orang itu. Kamu percaya bahwa aku tidak gila kan?

28 Oktober 2009
Bisa jadi cinta memang buta, tapi kita tidak. Aku ingin memilihmu menjadi pengantinku di surga nanti. Kamu mau?

1 November 2009 Hari ini aku ulang tahun. Sejak pagi tadi aku sudah mandi. Perawat rumah sakit memujiku cantik. Iya, aku memang sengaja berdandan paling cantik hari ini. Bukan untuk meniup lilin ulang tahun, tapi untuk pulang menuju Tuhan. Dua hari lalu aku sudah berhasil mendapatkan arsenik yang kupesan pada tukang es cendol yang biasa mangkal di luar zaal rumah sakit jiwa. Aku yakin racun itu akan menjadi menara Babel yang undakannya bisa mengantarku ke surga. Dunia, selamat tinggal.


Kututup buku harian Alena. Kurapalkan doa buatnya. Lalu, kutinggalkan bangku taman akasia bersama gerimis yang tiba-tiba datang bersama semerbak kamboja.

Selamat sore Alena…




November 17, 2009

"Save The Whales"

"You know what?"

"No, what?"

"We should never fall in love."

"Huh? Why?"

"Well, it's simple, really."

"Explain it to me, then."

"We're opposites, you and me. You're the sun, I'm the moon. You are day, I am night. You're warm and you beat with the vitality of life. I'm pretty chilly and I beat my fists against the mirror for showing me reality instead of dreams."

"I still don't quite understand."

"I am a dreamer, and you are a dream."

"Thanks, I guess."

"No, listen--you're like the people who say 'save the whales'. You want to save the world, you want to do some good. You want to make a change, make a difference. And me... well, I'm the whale. I can't do anything except wait for you to finally save me."

"I'll save you. I don't mind."

"I'll never thank you. I'm a whale; I can't talk."

"I don't care. I'll save you anyway. And you're wrong, you know."

"About what?"

"I'm not quite what you make me out to be. I laugh so I won't cry, yet that doesn't save me when I'm alone. I try to save the world simply because I can't save mysel-"

"You know what?"

"...No, what?"

"Maybe we're all broken somehow. Maybe we all fear the dark. Maybe we all hate ourselves at one point."

"I think you're right."

"You know what else? I hate the people who say 'save the whales'."

"What? Why?"

"Because they're wasting time on those stupid whales. They should walk around saying 'save the people', because I think we all need to be saved."







November 16, 2009

sorry, but it's true





if I could really write something on it, that would be 260108







Nomor 4

Tarik.. Embus.. Tarik.. Embus lagi..

Hanya itu.. Tak ada lagi yang kulakukan. Tanganku yang biasanya sibuk dengan cangkir dan sendok kopi, sekarang hanya terongok tak berdaya di meja. Sama seperti pemiliknya.
Mataku masih terpaku di meja nomor empat. Meja, yang hingga dua minggu lalu masih kutatap dengan rasa ingin tahu dan terpesona, bukan rindu dan nelangsa. Meja, yang hingga dua minggu lalu masih kuhampiri dengan langkah-langkah penuh semangat, bukan kuhindari.


***

Seperti biasa, aku berdiri di balik bar table. Mondar-mandir menyiapkan berbagai macam ramuan kopi, memberi taburan Choco-granulle ke atas busa cappuccino, atau sekedar mengecek persediaan bubuk hitam yang disebut kopi. Bagi beberapa orang, pekerjaanku mungkin menjemukan. Tapi aku menikmati profesiku sebagai barista. Aku mencintai kopi. Aku mencintai aroma dan sensasi yang mereka ciptakan. Mungkin karena hal inilah, tak ada wanita yang benar-benar singgah di hidupku.

Bukan menyombong. Tapi aku terlahir dengan wajah tampan dan daya pikat yang sulit ditolak. Ini kumanfaatkan untuk menaikkan omset cafe tempatku bekerja. Tiap hari, aku tersenyum kepada para pelanggan wanita dari balik meja kasir, seraya memberikan pesanan mereka.

Tapi percayalah.. Aku sama sekali tak menikmati hal ini.
Senyum yang penuh dengan kepalsuan. Dalam hati, aku mati-matian mengutuki hal ini. Lagipula, tak satu pun dari wanita-wanita itu yang benar-benar menarik perhatianku. Tak satu pun dari mereka yang cukup berharga untuk kuberi senyuman tulus. Satu-satunya hal yang bisa membuatku tersenyum tulus hanyalah uap kopi yang begitu kucintai. Arini yang biasanya tak pernah berkomentar pun mengamini hal ini. Ia pernah berkata padaku:

“Dewa. Aku tahu kamu mencintai kopi lebih dari apa pun. Tapi sediakan tempat untuk wanita juga di hatimu.”

Aku hanya tersenyum tipis dan berkata:

“Lalu kau akan meminta tempat di hatiku itu untuk dirimu?”

Arini yang baik. Jika wanita lain yang kuberi kata-kata itu, hanya ada dua kemungkinan reaksinya. Pertama: dia akan membalikkan badannya dan melenggang pergi dengan wajah merah. Kedua: mereka akan menjawab aku ini laki-laki kurang ajar, kemudian menjawab mengiyakan pertanyaan itu. Tapi gadis manis itu hanya tertawa merdu dan melambaikan jari manisnya yang dihiasi lingkaran emas.
Begitulah gambaran sekilas tentang hari-hari yang selalu kulewati di cafe. Boleh dibilang, aku lebih banyak bersosialisasi dengan kopi, ketimbang dengan manusia real. Namun, entah bagaimana aku menikmati hal ini. Mungkin aku akan terus hidup dengan pola seperti ini, kalau dia tidak datang ke cafe dan duduk di meja nomor empat.


***

Hari itu, Jakarta diguyur hujan yang amat deras. Cafe kebanjiran orang yang ingin menghangatkan diri. Aku benar-benar kewalahan menghadapi ini. Meski udara di dalam cafe agak dingin, wajahku bersimbah peluh. Kemejaku melekat kuat ke tubuhku. Itulah pertama kalinya aku membenci uap kopi. Aromanya yang harum membuatku mual. Namun, betapa pun aku sebal dan jemu, senyum tak pernah lepas dari bibirku.

Barangkali rasa jemu dan sebal itu akan terus bercokol di hatiku sampai hari ini berakhir. Tapi, sebuah suara membuat rasa frustrasi-ku lenyap nyaris seketika.

“Bisa pesan Dilmah tea yang lemon?”

Aku mengerutkan alisku sejenak. Bukan karena mendengar pesanannya. Tapi karena nada suara yang ditangkap telingaku. Begitu tenang. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan nada suara yang biasa kudengar. Aku mengangkat wajahku dari cangkir berasap yang sedang kuberi krim. Sesosok gadis berdiri di hadapanku. Matanya yang hitam mentapaku lurus-lurus.

Mungkin karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya, gadis itu mengulanginya dengan suara tenang yang sama:

“Bisa pesan Dilmah tea lemon?”

Dengan geragapan aku menjawab pertanyaan itu:

“Eh.. iya..bisa. Mau pakai gula biasa atau diet?”
“biasa aja.”
“Ditunggu, ya..”

Gadis itu hanya mengangguk. Ia sama sekali tak tersenyum ataupun mengedip genit padaku. Hal yang jarang kudapati dari pelanggan-pelanggan wanita yang lain. Dengan gerakan yang luwes, gadis itu mengangsurkan uang ke Arini yang bertugas di kasir dan berjalan anggun ke meja. Aku mengawasi gadis itu menarik kursi dan duduk dengan santai di dekat dinding kaca yang menjadi pembatas cafe ini dengan dunia luar.

Karena mataku masih mengawasi gadis itu, tanganku nyaris menampar teko berisi krim. Buru-buru aku menarik diriku ke alam nyata dan memusatkan pikiran untuk membuat pesanan gadis itu. Begitu selesai, aku tak mengijinkan siapa pun selain diriku, untuk mengantarkan pesanannya. Sesuatu yang baru pertama kali ini kulakukan. Dengan sigap, aku berjalan ke meja tempat gadis itu duduk dan dengan lembut meletakkan cangkir porselen putih di hadapannya.

“Satu dilmah tea lemon,” kataku sambil tersenyum. Senyum tulusku yang pertama hari ini.

Gadis itu kembali menatap mataku lurus-lurus. Kumanfaatkan hal ini untuk mengamati tiap jengkal sosoknya.

Wajah oriental yang terbingkai rambut hitam panjang yang dilayer. Mata hitam. Kulit kuning langsat. Hidung mancung. Tubuh ramping yang terbungkus hoodie putih bermotif Mickey Mouse. Namun, bukan sosoknya yang begitu sederhana–jika dibandingkan dengan pengunjung lain–yang membuatku tertarik. Aku memberikan senyumanku pada gadis itu. Tapi yang terjadi selanjutnya membuatku bengong. Gadis itu menatapku dengan tatapan datar yang nyaris tak pernah kuterima seumur hidupku. Namun tatapan itu–anehnya–malah membuatku tenang. Bukan risih ataupun jengkel

“Kamu dipanggil, tuh,” gadis itu mendadak bersuara. Memaksaku kembali ke realita.

Dengan cepat, aku menoleh ke meja kasir. Benar saja, Arini sudah melambai-lambaikan kertas pesanan dengan gerakan seolah dia ingin mengusir lalat yang beterbangan di sekeliling kepalanya. Buru-buru aku berjalan ke kasir dan membuat pesanan-pesanan itu secepat aku mampu. Sambil meracik kopi, aku terus menerus berharap agar gadis itu masih duduk di meja itu ketika aku selesai.

Sayangnya, ketika aku selesai meracik semua pesanan keparat itu, gadis itu sudah lenyap. Dengan putus asa, aku menayai semua waiter perihal gadis itu. Tapi tak ada yang melihat gadis itu. Namun aku yakin itu bukan sekedar mimpi siang bolong. Karena, ketika aku menghampiri meja di dekat dinding kaca itu, pandanganku jatuh ke sebuah cangkir porselen putih. Dengan hati-hati, kuangkat cangkir kosong itu. Masih hangat. Dengan perasaan gembira, aku menatap cangkir yang menjadi bukti kehadiran gadis itu.


***

Hari yang amat cerah. Secerah senyumku saat ini. Sebuah earphone terpasang di telingaku. Terhubung dengan iPod yang tersembunyi di balik celemekku. Dengan riang, tanganku menggerakkan sendok, teko, cangkir, jepitan gula, dan sebangsanya, mengikuti permainan gitar John Mayer. Dua hari setelah hari hujan itu, gadis itu singgah lagi di cafe ini. Begitu pula hari-hari berikutnya. Nyaris tiap hari gadis itu datang ke cafe ini. Selalu pesanan, tempat duduk, dan rutinitas yang sama. Setelah memesan Dilmah tea lemon–terkadang dengan croque madame atau cinnamon bread–gadis itu akan berjalan dengan langkah anggun ke meja di dekat dinding kaca dan duduk dengan santai di situ. Di meja bernomor empat. Kemudian dengan langkah sigap, aku akan mengantarkan pesanannya.

Terkadang dia mengutak-atik BlackBerry-nya. Tapi aku lebih sering melihatnya sibuk dengan buku sketsa dan pensil arang. Tangannya yang ramping bergerak-gerak dengan lincah. Menuangkan sosok-sosok yang ada di dalam pikirannya ke atas kertas putih. Selama dua bulan berikutnya, aku hanya memandangi gadis itu dari balik meja kasir. Entah kenapa, tak terlintas pikiran untuk mengajaknya bercakap-cakap. Tiap hari, aku mengamati tiap jengkal dari sosok sederhana itu. Mengamati hoodie apa yang dia pakai minggu itu, sepatu apa diinjaknya, kaus warna apa yang melekat di tubuhnya. Hanya itu.

Aku sendiri heran. Mengapa gadis yang begitu sederhana bisa membuatku begitu tertarik dan penasaran. Mungkin karena dia begitu berbeda dengan sosok gadis-gadis kosmopolitan pada umumnya. Tak ada merk internasional yang melekat di tubuhnya. Ia tak pernah duduk dengan mata terpaku pada seorang laki-laki. Dia juga tak pernah duduk bergerombol dengan gadis-gadis lain atau didampingi pemuda lain. Yang terakhir inilah yang membuat harapanku naik sedikit. Mungkinkah ada sedikit peluang untuk memenangkan hatinya?

Maka, sedikit demi sedikit, aku mengajak gadis itu bercakap-cakap. Dari apa yang telah kami bicarakan, hanya namanya saja yang berhasil kukorek. Inka, mahasiswi seni rupa. Selisih tiga tahun denganku. Hanya itu. Bahkan nama panjang, hobi, dan kesukaannya pun aku tak tahu. Dia begitu tertutup. Inka adalah gadis pertama yang tidak luluh oleh senyumku. Selama tiga bulan berikutnya, aku berusaha membuat Inka bicara lebih banyak padaku. Tapi bibir itu hanya menjawab pertanyaanku ala kadarnya saja. Tak pernah ada jawaban panjang lebar atau pertanyaan untukku yang keluar dari bibir mungil itu. Hanya menjawab. Tak pernah bertanya balik. Selalu begitu.

Tetapi, meski bibir itu tak pernah menyunggingkan senyum. Mata hitamnya selalu menatap mataku lekat-lekat. Lambat laun, aku menyadari satu hal. Di balik tatapannya yang tenang itu, terkubur jutaan ekspresi yang begitu hidup. Pernah aku menceritakan lelucon konyol padanya. Tapi–sekali lagi–ia tak memberikan reaksi yang kuharapkan. Inka hanya tersenyum. Namun sekilas aku menyadari, meski dia tak tertawa, matanya memancarkan keriangan orang yang sedang tertawa. Aku menatap mata yang riang itu sambil tersenyum hangat. Itulah pertama kalinya aku menyadari betapa hidupnya tatapan mata Inka.

Keesokan harinya, aku nekat mengajak Inka ke cinema untuk menonton ‘Inkheart’. Kenapa film itu? Dari sekian banyak percakapan hambar yang kulalui dengannya, aku berhasil tahu kalau Inka sangat menyukai Brendan Frasser. Maka siangnya, aku menghampiri meja nomor empat. Aku berdehem sekali untuk menyingkirkan ganjalan sialan di kerongkonganku sebelum berkata:

“Inka..would you like to go to the cinema with me tonight?”

Kalaupun Inka terkejut dengan ajakanku yang mendadak ini, ia menyembunyikannya dengan sangat baik. Sambil menatap matanya yang indah lurus-lurus, aku menyilangkan jariku di balik punngung. Berharap nasib baik menghampiriku kali ini. Lalu, dengan dada sesak karena kegembiraan aku melihat dia mengangguk pelan dan memberiku senyum lebarnya yang pertama.

“Jam delapan malam kujemput?”

Sekali lagi ia mengangguk. Tuhan.. Kau telah memberiku hal terindah di dunia ini. Kemudian, Inka memberiku secarik kertas. Di situ, tertulis alamat rumah dan nomor handphone-nya dengan tulisan tangannya yang tegas.

“Kalau mau tanya arah, telepon nomor ini aja,” katanya

Dadaku begitu sesak dengan kegembiraan. Nyeri rasanya. Tapi aku tak peduli, meski rasa sesak itu tetap bercokol di dadaku hingga waktu aku menjemput Inka malam itu.

Sementara dia bersiap-siap, aku duduk di ruang tamunya. Rumah itu sederhana, tapi begitu nyaman dan hangat. Seperti Inka sendiri. Sekonyong-konyong aku menyadari, tiap sudut ruangan itu dihiasi gambar sketsa yang terpigura rapi. Aku bangkit dari sofa dan menghampiri pigura yang paling dekat denganku. Aku kaget ketika melihat tanda tangan kecil yang tertera di sudut sketsa bunga itu.

Inka, 290609

Kuamati tiap senti dari sketsa itu. Tak ada satu goresan pun yang terlewat oleh mataku. Padahal itu hanya sebuah sketsa bunga biasa, tapi aku bisa merasakan seluruh jiwa Inka di situ. Hal yang sama kurasakan di sketsa-sketsa yang lain. Aku mengamati tiap sketsa dengan perasaan kagum, sampai akhirnya aku berdiri di depan pigura hitam sederhana. Aku merasakan wajahku memanas ketika meihat sosok di kertas yang ada di balik kaca pigura itu. Seorang laki-laki muda tampan. Tangannya sibuk dengan berbagai peralatan yang biasa digunakan oleh barista. Dengan napas tertahan, aku melihat sketsa diriku. Seperti sketsa-nya yang lain, Inka juga membubuhkan tanda tangan kecil di sudut sketsa diriku. Dan seperti sketsa-nya yang lain, aku dapat merasakan jiwa Inka di situ.

“Maaf kalau jelek ya, Wa..”

Aku menoleh. Inka sudah berdiri di belakangku, entah sejak kapan. Tampak begitu manis dalam balutan cardigan hitam. Aku tersenyum padanya dan menggeleng.

“Kita pergi sekarang?” Tanyaku sambil mengulurkan tangan.

Inka mengangguk dan menyambut tanganku. Sekali lagi dadaku sesak dengan kegembiraan. Kurasakan jemarinya yang lembut dalam genggamanku. Kutatap mata indahnya dan kusadari tatapannya yang begitu tenang dan hangat, serta senyumnya yang begitu mempesona.


***


Enam bulan berlalu sejak pertemuan pertamaku dengan Inka. Genap empat bulan sudah aku berhubungan dengan Inka melalui SMS, Messenger, dan percakapan di cafe. Aku menikmati tiap saat aku bercakap-cakap dengannya. Menikmati setiap kesempatan untuk mendengarkan tawanya, melihatnya tersenyum, memperhatikan gerak bibirnya saat berbicara, dan menatap matanya yang tenang. Tiap hari, di sela-sela waktu kerjaku, aku menyempatkan diri untuk duduk di hadapannya di meja nomor empat.

Pernah kutanyakan pada Inka alasannya selalu duduk di situ. Ia tersenyum sejenak dan berkata dengan nada santai:

“Karena aku bisa melihatmu dengan sudut pandang yang berkualitas.”

Aku tertawa mendengarnya. Inka juga ikut tertawa dengan suaranya yang lembut. Suatu kali ia pernah kutawari untuk duduk di coffee bar, namun ia tak begitu nyaman dengan hal itu.

“Aku bukan peminum kopi, Dewa. Aku tak bisa menikmati uap-nya seperti yang kamu lakukan,” katanya.

Memang. Selama ini Inka tidak pernah memesan kopi. Selalu dilmah tea lemon.

Setahun berlalu. Aku dan Inka makin akrab. Kegembiraan murni di hatiku tak pernah surut. Membuatku tersenyum tulus pada siapa pun. Bahkan pada para pelanggan wanita genit yang kubenci sekali pun. Tapi ada orang yang lebih gembira dari pada aku. Orang itu adalah Arini. Dengan bersemangat ia membantuku memilihkan kado untuk Inka.

“Akhirnya kamu mengijinkan seorang gadis mengisi hatimu, Wa!” Katanya girang.

Aku hanya tertawa kecil melihat reaksinya ketika aku memberitahunya kalau aku jadian dengan Inka. Selama beberapa waktu, aku menyangka kegembiraan ini akan terus bertahan hingga akhir hidupku. Tapi sebuah peristiwa memaksaku bangun dari angan-angan indahku dan menghadapi realita pahit kehidupan.

Semua berawal ketika Inka tiba-tiba absen singgah di cafe. Aku mencoba menghubunginya lewat telepon dan SMS. Tapi hasilnya nihil. Berkali-kali kuperiksa status Messenger-nya, tapi selalu unavailable. Akhirnya aku berusaha meyakinkan diriku bahwa dia hanya sibuk. Tapi keyakinan itu runtuh ketika seminggu berlalu tanpa kehadiran Inka di cafe. Aku memutuskan untuk menyambangi rumahnya. Berharap dia akan menyambutku dengan wajah kusut dan kelelahan. Tapi aku terpaksa menerima kenyataan pahit lain. Rumah kecil itu tertutup rapat. Kutanyai semua warga yang ada di sekitar situ, tapi hasilnya nihil. Dengan hati galau, aku pulang dan kembali melanjutkan usaha sia-siaku untuk menghubunginya.

Dua minggu berlalu. Aku memutuskan untuk kembali menyambangi rumahnya. Hatiku mencelos ketika melihat sejumlah karangan bunga berjejer rapi di halaman rumahnya. Sebutir kristal cair jatuh dari mataku ketika aku membaca nama yang tertera di salah satu karangan bunga itu.

"Inka Devanti Issoetranto"

Nama panjang Inka tertera bersama ungkapan duka cita yang ditujukan padanya. Pada kematiannya.

Bagaikan kesetanan, aku berlari ke bagian dalam rumahnya. Tak kupedulikan seruan marah orang-orang yang kutubruk. Langkah seribuku baru berhenti ketika aku tiba di ruang tamu. Hanya ada lima orang di situ. Keluarga Inka. Namun perhatianku sepenuhnya tersita oleh kehadiran sebuah peti mati sederhana yang terletak di tengah-tengah ruangan. Kuberanikan diriku untuk menghampiri benda itu dan melihat ke dalamnya.

Bahkan dalam genggaman kematian pun, ketenangan itu masih ada. Ketenangan dan kehangatan yang biasa kujumpai dari Inka, masih terpancar dari sosoknya yang terbalut gaun broken-white dan dikellilingi lily putih. Tapi mata indah yang penuh dengan kehidupan itu kini terpejam. Tak lagi memancarkan pesonanya.

“Inka..” panggilku lemah.

Dia tetap terbaring diam. Gadis yang telah menarikku keluar dari duniaku yang menjemukan, kini terbaring mati. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menariknya keluar dari kematian.

“Inka, buka matamu.” Tenggorokanku tercekat menahan tangis

Seorang pria paruh baya menepuk bahuku. Ekspresinya letih dan matanya masih merah. Orang yang akan kupanggil ‘ayah’ di masa depan nanti.

Aku berusaha menyingkirkan pengganjal yang hadir di kerongkonganku. Tanganku terkepal erat. Menahan segala emosi yang siap meledak.

“Apa yang terjadi padanya?” Desisku
“Demam berdarah. Kami terlambat menyadarinya. Ketika Inka dibawa ke rumah sakit, semuanya sudah terlambat,” jawab pria itu dengan suara parau.

Pria itu menatapku dengan pandangan kuyu dan berkata:

“Kau yang bernama Dewa, ya?”

Aku mengangguk kaku.

“Inka tidak ingin kamu tahu tentang apa yang terjadi padanya. Ia tak ingin membuatmu cemas,” kata pria itu dengan suara parau yang sama.


***


Dua minggu telah berlalu semenjak kamu pergi selamanya dari hidupku Inka. Dan inilah aku, berdiri di balik coffee bar. Melamun dengan tangan menganggur. Tak lagi menggerakkan teko, cangkir, gelas takar, dan sendok kopi dengan riang. Tak lagi merobek bungkus dan menyeduh dilmah tea lemon untuk kamu, Inka. Mataku tak pernah meninggalkan meja nomor empat. Meja yang menjadi saksi bisu kebersamaan kita, Inka.

Arini terus menerus berusaha menghiburku. Tapi aku tak pernah bereaksi. Arini yang baik. Tak pernah sekali pun dia meninggalkanku. Inka, apa kamu akan marah kalau aku menanggapi Arini? Apa kamu marah kalau aku membawa sketsa diriku yang kamu buat ke rumahku? Aku telah menggantungkan sketsa itu di dinding kamarku. Karena melalui sketsa itu, aku bisa merasakan jiwamu, Inka. Hanya sketsa itulah yang bisa memberiku kenyamanan. Aku tahu kamu ingin aku melanjutkan hidupku. Tapi aku tak sanggup berdiri di belakang coffee bar cafe ini lagi. Karena pemandangan yang pertama kali kulihat pasti adalah meja favoritmu. Meja nomor empat.

Aku memang pengecut, Inka. Kamu pernah bilang begitu, kan? Meski dulu kamu bilang begitu hanya untuk bercanda, tapi sekarang itu benar. Setahun kemudian, aku pindah ke Italia. Aku tak sanggup menghadapi kenangan akan keberadaanmu di meja itu, Inka. Aku bekerja di cafe kecil di pinggiran kota. Tak ada meja bernomor empat. Hanya dua meja kecil ditempat ini dan coffee bar berbau uap kopi yang panjang. Tapi Inka, aku tak melupakanmu. Sketsa itu masih tergantung di dinding flat-ku. Tak tersentuh debu. Sketsa itu akan selalu memberiku kenyamanan dan ingatan tentang seorang gadis sederhana yang telah memberiku ketenangan melalui mata hitamnya yang gemilang. Seorang gadis bernama Inka.


November 15, 2009

Palsu yang Nyata di Planet Kami


Malam ini kami berpetualang lintas galaksi menuju dimensi selain bimasakti. Kami bosan disini, terlalu banyak rumusan empiris dalam berperilaku, atau mungkin juga karena di nyata dunia kami mulai bosan dengan satu identitas saja..

Perjalanan pun kami mulai dengan mengitari bumi pada porosnya sebanyaak 13 kali lalu meluncur menuju wormhole dengan kecepatan 666jt kbps. Di sekejap menit di dalam wormhole kami rasakan sensasi tropis ayahuasca dan LSD yang racuni sadar akan kenyataan busuknya nyata. Di dalam roket magenta bergaris cyan berpucuk kuning, kami melintasi berbagai macam planet berbentuk prisma dan berwarna pelangi. Tak kasat mata kami serasa melihat jutaan metriks bertumpuk menjadi satu sebagai unsur pembentuknya.

Sekian basa-basinya!

Akhirnya (setelah kami mulai cukup sadar tuk mengingat nama kami masing-masing) mendaratlah roket kami di sebuah planet berbentuk oval dengan benjolan di sekelilingnya. Berada pada titik koordinat 202.255.255.001, planet berwarna maroon itu terlihat menggugah selera. Di lapisan litosfernya terdapat pigura metal sambut kedatangan para pengunjung dengan tulisan bold yang isinya"Selamat Datang di Planet MultiEgo". Lalu ada subtitle di bawahnya yang berisikan Terms of Conditions yang salah satunya berisikan kalimat "Silahkan daftar dan ucapkan kata sandi anda untuk kemudian kami verifikasi". Kami pun masuk tanpa sungkan. Bahkan kami tak perlu menyebutkan identitas asli kami, ahoiii.. indahnya planet ini.

Udaranya lembab, tanda hadirnya oksigen. Datarannya di isi hamparan kerikil, tapi entah knapa semua itu tak terasa tajam sentuh tapak kumal kaki kami. Para penghuni planetnya.. Dang... ahhh.. apa pula ini... mereka tampak bersahabat, tapi ahh... Mereka tampak seperti manusia pada umumnya. Hanya saja, mereka punya beberapa kepala! Iya tak cuma satu, bahkan ada yang memiliki 9 kepala sekaligus diatas satu badan yang tampak normal. Salah satunya yang baru saja lewat memberi ucapan selamat datang kepada kami (bahasanya aneh, tapi entah kenapa kami mengerti). Dia punya 3 jenis kepala. Kepala yang sebelah kiri tampilannya tampak menyakinkan tanpa cacat, ketampanan sempurna hasil jejak operasi digital sehingga terlihat layaknya para keturunan Arjuna atau Mr.Timberlake, kepala yang sebelah kiri adalah sisi kebalikannya, terlihat kepala yang kumal, rahang keras, rambut gimbal, dan brewok tak terurus, berpembawaaan santai, ahh.. seniman sekali , sangat oio ! Lalu kepala yang ada di tengah, terlihat sosok kepala yang dari wajahnya terbias semburat pintar dan amat teramat bijaksana jika dilihat dari tatap mata dewasa serta terasa kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar amat teramat bijaksana. Hmm... Dan ketiga kepala ini hanya disangga oleh satu tubuh ringkih, tak bersemangat, kontras dengan berbagai jenis kepala yang ia miliki. Kami tak mau berlama-lama berlisoy-lisoy ria disini.

Planet yang aneh rupa fisiknya, tapi penuh warna. Planet yang penuh duplikasi, tapi cukup menyenangkan bermain di dalamnya. Planet yang banyak palsu, hanya sekian persen nyata yang tampak nyata apa adanya. Ahh.. kami rindu planet kami, planet yang dimana kami bisa menapak pasti, planet yang walau di nyatanya banyak palsu didalamnya tapi senangsedihgembiraduka siapapun bisa tergurat walau sedikit di wajahnya. Iya, setidaknya kami bisa melihat palsu yang nyata di planet kami. Ahh... kami hanya ingin bermain di planet ini, kami mau pulang, mungkin nanti/secepatnya kami bermain kembali disini saat ingin kembali bermain warna. Dan mudah-mudahan kepala kami tetap satu saat kembali tapakkan kami di planet maroon berkerikil ini.



My Idea of a Perfect Date


park bench and a great conversation :)



October 17, 2009

Kebebasan dan Indonesia. Penuh Tanda Tanya.

Seorang teman pernah bercerita tentang seorang kenalannya yang berkewarganegaraan Singapura. Kabarnya ia lebih memilih tinggal di Indonesia ketimbang di negaranya. Kenapa? Bukankah di sana segala sesuatu serba tersedia. Masyarakatnya jauh lebih terpelajar. Kemudahan hidup dengan berbagai penunjang teknologi tingkat tinggi bisa ditemui dimana-mana. Pelayanan terhadap masyarakat pun jauh lebih berkualitas.

Ia hanya menjawab, karena di Indonesia saya bisa bebas melakukan apa saja. Tanpa adanya berbagai macam larangan yang berkaitan dengan disiplin hidup, dan tentunya tanpa semua denda berlipat yang mengikutinya.

Mendengar cerita ini muncul sebuah kegelian sekaligus keprihatinan. Bagaimanapun juga menjadi sebuah hal yang ironis, ada seseorang yang lebih “cinta” negara lain dengan alasan yang justru membuat negaranya memiliki kelebihan dibanding negara lain. Berbeda dengan alasan pemungutan pajak yang lebih rendah misalnya, yang mungkin relatif bisa diterima.

Keprihatinan yang muncul tentunya apabila kita mencoba merefleksikan alasan kebebasan hidup yang ia kemukakan dengan kondisi faktual di negara kita. Tanpa berusaha mengaitkannya dengan era reformasi, memang harus gue akui di negara ini kita benar-benar bisa hidup dengan “bebas” dalam arti yang sebebas-bebasnya.

Bukan pemandangan yang luar biasa apabila ada sebuah mobil mewah melintas di depan kita lalu menerbangkan “sesuatu” dari jendelanya yang sedikit terbuka ke jalan raya. Sesuatu itu bisa bermacam-macam. Bisa kulit rambutan, kulit duku, kertas tissue, puntung rokok, sampai gelas air mineral. Sebuah hal yang luar biasa apabila pemilik mobil mewah itu ternyata tidak terpelajar. Terlepas dari masalah kualitas otak, tampaknya bangsa Indonesia memang sudah sepakat menjadikan berpuluh ribu pulau wilayah kedaulatan bangsa sebagai tempat sampah terbesar di dunia. Silakan buang sampah di tempat yang anda suka.

Gue juga jadi ingat pemandangan beberapa minggu yang lalu. Ada seorang tukang ojek yang dengan santainya (maaf) pipis di peruntukan lahan hijau sekeliling rumah kost-an tempat gue tinggal. Tempat pipisnya pun tidak jauh dari pertigaan yang padat oleh lalu lintas. Padahal ia bisa memacu motornya sebentar ke pom bensinl atau masjid terdekat untuk mencari WC umum.

Sambil agak geli, sempat tergambar raut wajah bokap jaman gue SMP dulu saat di suatu pagi sambil bersungut-sungut ia mencoba membersihkan dan menghilangkan bau pesing pipis manusia yang menyengat di pagar depan rumah. Kebetulan rumah gue saat itu terletak berdekatan dengan tempat mangkal angkot yang selalu dipenuhi penumpang setiap malam.

Tampaknya ada lagi sebuah kesepakatan di antara warga bangsa. Indonesia juga adalah WC umum terbesar di dunia. Kebelet pipis? Take your spot anywhere. Sebuah pelayanan masyarakat tingkat tinggi yang sangat menjunjung tinggi kebebasan asasi manusia untuk pipis. Gue yakin BAB sudah tercakup di dalamnya.

Selama kurang lebih setahun tinggal di dekat perempatan padat lalu lintas gue juga cukup mengamati bagaimana kecenderungan perilaku para pengendara. Yang paling gue ambil pelajaran adalah kapan waktu terbaik anda menyeberang jalan di perempatan. Secara normatif, ada korelasi yang cukup erat antara lampu merah dengan laju kendaraan. Lampu merah menyala, kendaraan berhenti, anda bisa menyeberang dengan tenang. Bahkan tanpa harus toleh kiri-kanan.

Faktanya tidak. Lampu merah menyala ternyata tidak lantas membuat orang menghentikan atau memperlambat laju kendaraan. Hampir di setiap saat lampu merah menyala banyak kendaraan justru berebut menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk secepatnya mencapai ruas jalan berikutnya. Alih-alih memperlambat dan kemudian menghentikan laju kendaraan, lampu merah menyala ternyata justru menjadi kode bagi mereka untuk menginjak gas kencang-kencang.

Hanya ada satu pilihan bagi para penyeberang. Benar-benar melihat sendiri dan memastikan bahwa semua kendaraan sudah berhenti di depan mata sebelum menyeberang. Itupun belum menjamin keamanan. Karena acapkali sebagian kendaraan yang ”belok kiri boleh langsung” melakukannya tanpa menyalakan lampu sen.

Terkadang gue membayangkan diri menjadi seorang Clark Kent dan bisa bebas menyeberang tanpa harus melakukan itu semua. Kalau kendaraan mereka ringsek menabrak gue toh bukan gue yang salah. Gue tinggal terbang ke perempatan lain buat iseng-iseng melakukan hal yang sama. Sayang gue bukan Clark Kent. Hmmm.

Sebelum berlarut-larut dengan berbagai contoh yang lain, satu hal yang harus digarisbawahi. Mereka melakukannya dengan bebas tanpa konsekuensi apapun. Keliatannya konsekuensi baru muncul apabila ada nyawa yang melayang di perempatan. Atau ada pejabat pemerintah yang terganggu karena rumahnya bau pesing. Atau anggota DPR yang merasa pusing dengan bau sampah yang menyengat di lingkungannya.

Jadi apa kesimpulannya. Kalau anda adalah seorang opportunis, silakan nikmati “kebebasan” yang anda peroleh di negara ini. Tetapi kalau anda seorang idealis, tampaknya anda harus sering-sering melakukan terapi anger management.




September 2, 2009

Erdbeben

De, gempa lumayan gede,
tadi papah lagi duduk depan komputer
goncangan rumah terasa banget,
komputer goyang,
trus papah keluar rumah, bahkan pintu pagar kita goyang sampai berisik..
dan papa bisa liat pekarangan rumah kita bergerak,
pohon jambu kelihatan naik turun 2 cm
Pak Warung depan teriak Allahu Akbar .......




berita dari Papa, yang bikin gue merinding seketika, Ya Allah terimakasih Kau masih menyelamatkan keluargaku ...










August 9, 2009

Menjadi Kaum Minoritas


Well, judul tulisan gue ini udah menceriminkan banget apa yang bakal gue ceritain disini. Pernah gak lo ngerasain menjadi minoritas ? Mungkin dulu pas jaman SD, dikala temen-temen lo semua udah pake backpack yang ada roda nya yang bisa di dorong-dorong dan lo masih pake tas ransel ber-retsleting bekas kakak lo dulu. Mungkin pas kuliah, sobat-sobat lo punya mobil atau motor yang selalu dibawa-bawa kemana-mana sedangkan lo masih tetap jadi penumpang setia busway, kopaja dan teman-temannya. Atau mungkin saat lo menjadi seorang perokok pasiv di antara temen nongkrong lo yang semuanya perokok aktiv. Atau, lo simply pengguna nomor XL, dimana rata-rata temen-temen lo pengguna IM3. Ya, minoritas. Sekecil apapun bentuknya gue rasa lo pernah ngerasain. Buat yang belom pernah, well, seems like you don't know what is the real life.

Sekarang ini gue ngerasain jadi minoritas. Dan sepertinya kasus gue ini cukup serius ketimbang beberapa kasus-kasus yang gue sebutkan sebelumnya. Ras dan Agama.

Rasis, memang, pembicaraan gue kali ini, tapi hey, ini blog gue, kalo lo gak suka ya simply gak usah baca, dan kalo lo mau ya lo tulis aja di blog lo sendiri.

Gue hidup di Jerman, dimana 90 persen manusia disini adalah that-so-called-'bule'. Sampai saat ini gue personally belum pernah dapet masalah disini karena gue kaum minoritas. Tapi beberapa temen gue udah pernah ngerasain 'pahit'nya jadi minoritas. Ada yang disusahin untuk dapet kerja dengan seribu alesan yang lama-lama makin gak masuk akal. Ada yang dianggep aneh dan gak di ajak ngobrol sepanjang perjalanan. Macem-macem lah pokonya. Ya mau gimana lagi, memang kita disini kaum minoritas, tapi hey! Kita gak lebih rendah dari bule bule itu kok. Bahkan beberapa org sini (bule) yang gue kenal, pernah terang-terangan make jokes tentang orang asia, di depan gue! MEN!

Yang bilang rasisme udah sepenuhnya musnah itu boong.

Hidup sebagai umat muslim di Jerman lebih susah lagi. Mau sholat bingung kiblatnya kemana, mau nyari mesjid susahnya minta ampun. Gak kayak di Indonesia yang tiap pengkolan ada. Nolak alkohol dibilang cupu, giliran ngejelasin alasannya, malah mereka mengganggap keyakinan gue itu terlalu mengekang dsb. Yah beginilah hidup di tengah-tengah orang atheis.
Gue bukannya kesel ataupun marah ataupun sebel atau apalah. Ini cuma sekedar curahan hati aja kok. Cuma mau ngasih tau aja gimana rasanya jadi kaum minority (kalo kata Greenday).
Gak pernah gue ngerasa minder, atau menempatkan diri gue di bawah mereka. Gue tetep ngejalanin aktivitas seperti biasa. Gue tebel kuping aja sama orang-orang freak yang make fun dengan rasis ataupun agama gue. Tapi ya satu fakta yang gak bisa gue bantah adalah, gue disini adalah minoritas.
Mau jungkir balik nggak ngakuinpun, gue tetap minoritas.
Jadi minoritas ? Hmmm, gak enak. Pastilah. Tapi yaa pinter-pinter nempatin diri aja.

Toh karena gue jadi minoritas gue juga banyak dapet pengalaman kok. Mulai sekarang, kalo gue nanti balik lagi ke Indonesia tanah air beta, gue bakalan memaksimalkan fungsi mushola di tiap mall-mall dan pom bensin. :D

Dan buat kamu, yang pernah ngerasa bahwa ras mu itu lebih tinggi dibandingkan ras ras lain, your brain is not bigger than a peanut! I'm proud to be me, to be Indonesian and to be a Moslem.



July 13, 2009

all i need......





.......is just a shoulder to cry on